Oct 14, 2026
Bisnis

Ketika Beban Militer Menggerus Fundamental Fiskal Sebuah Negara

Berdasarkan data historis yang dihimpun dari berbagai laporan fiskal internasional, sejumlah negara Eropa dengan pendapatan per kapita tinggi tercatat mengalami deteriorasi fiskal yang serius ketika a...

Ketika Beban Militer Menggerus Fundamental Fiskal Sebuah Negara

Berdasarkan data historis yang dihimpun dari berbagai laporan fiskal internasional, sejumlah negara Eropa dengan pendapatan per kapita tinggi tercatat mengalami deteriorasi fiskal yang serius ketika alokasi anggaran pertahanan membengkak secara tidak proporsional terhadap kapasitas penerimaan negara. Fenomena ini bukan sekadar narasi politik, melainkan persoalan struktural yang menyentuh jantung kebijakan ekonomi makro: bagaimana sebuah negara mempertahankan keberlanjutan fiskal (fiscal sustainability) ketika prioritas belanja bergeser dari sektor produktif ke sektor pertahanan.

Dalam kerangka ekonomi, ini adalah persoalan trade-off klasik. Setiap rupiah, euro, atau dolar yang dialokasikan ke anggaran militer adalah rupiah yang tidak dialokasikan ke infrastruktur, pendidikan, kesehatan, atau riset. Ketika porsi belanja pertahanan melampaui ambang batas rasional — umumnya di atas 3 hingga 4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) — tekanan terhadap neraca fiskal mulai terasa nyata, terutama bila pertumbuhan ekonomi tidak mampu mengimbangi laju belanja tersebut.

Pro: Argumen Keamanan sebagai Fondasi Stabilitas Ekonomi

Di satu sisi, pendukung kebijakan belanja pertahanan besar memiliki argumentasi yang tidak bisa diremehkan. Stabilitas keamanan adalah prasyarat bagi stabilitas ekonomi. Tanpa kepastian keamanan, aliran investasi asing langsung (foreign direct investment) akan terhambat, premi risiko (risk premium) meningkat, dan biaya modal melonjak. Dalam kondisi geopolitik yang memanas, kemampuan pertahanan yang memadai berfungsi sebagai jaring pengaman yang menjaga sentimen pasar tetap kondusif.

"Belanja pertahanan sering dipersepsikan sebagai belanja non-produktif, padahal dalam konteks tertentu ia berfungsi sebagai asuransi kolektif yang menjaga keberlangsungan aktivitas ekonomi," catat sejumlah ekonom pertahanan dalam literatur fiskal kontemporer.

Negara-negara Nordik, misalnya, secara konsisten mempertahankan belanja pertahanan yang relatif tinggi, namun tetap mencatat rasio utang terhadap PDB yang terkendali. Kuncinya adalah disiplin fiskal dan basis penerimaan pajak yang luas serta efisien.

Kontra: Ketika Pajak Rakyat Menjadi Beban yang Tak Terbayar

Di sisi lain, ketika pembiayaan militer dilakukan dengan mengorbankan kualitas belanja publik lainnya, dampaknya bisa bersifat sistemik. Pajak yang dipungut dari masyarakat — baik pajak penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), maupun pajak korporasi — pada dasarnya adalah kontrak sosial antara negara dan warga. Ketika kontrak ini dianggap tidak adil, muncul resistensi pajak, penghindaran pajak (tax avoidance), dan capital outflow karena pelaku ekonomi mencari yurisdiksi dengan beban fiskal lebih ringan.

Data dari sejumlah lembaga pemeringkat menunjukkan bahwa negara dengan rasio belanja pertahanan terhadap PDB yang melampaui 5 persen tanpa diimbangi pertumbuhan ekonomi yang solid cenderung mengalami penurunan peringkat kredit (credit rating). Penurunan ini langsung berdampak pada kenaikan biaya pinjaman (cost of borrowing), yang pada gilirannya memperburuk defisit anggaran. Ini adalah lingkaran setan fiskal yang sulit diputus.

Contoh historisnya nyata. Beberapa negara bekas Uni Soviet mengalami kebangkrutan de facto pada awal 1990-an ketika anggaran pertahanan menggerus seluruh kapasitas fiskal mereka. Yunani pada 2010-an juga sempat berada di ambang default ketika kombinasi belanja publik yang tidak efisien, termasuk belanja pertahanan yang besar, bertemu dengan krisis likuiditas global.

Likuiditas, Valuasi, dan Sentimen Pasar: Rantai Dampak yang Saling Terkait

Dalam konteks pasar keuangan modern, dampak kebijakan fiskal yang tidak seimbang terasa melalui tiga saluran utama. Pertama, likuiditas: ketika pemerintah menerbitkan obligasi dalam jumlah besar untuk membiayai defisit, ia menyerap likuiditas dari pasar, yang dapat mendorong kenaikan suku bunga dan menekan aktivitas kredit swasta. Kedua, valuasi: ekspektasi pasar terhadap pelemahan fundamental ekonomi menekan valuasi aset, baik saham maupun obligasi. Ketiga, sentimen pasar: ketidakpastian kebijakan fiskal menciptakan volatilitas yang tidak disukai investor jangka panjang.

Proyeksi jangka menengah menunjukkan bahwa tanpa reformasi struktural — termasuk penajaman prioritas belanja dan perluasan basis pajak — negara-negara dengan tekanan fiskal tinggi akan terus menghadapi trade-off yang makin sempit. Indeks keberlanjutan fiskal (fiscal sustainability index) yang dikembangkan berbagai lembaga riset ekonomi secara konsisten menempatkan negara-negara tersebut di zona waspada.

Kesimpulannya, persoalan ini bukan tentang benar atau salahnya belanja pertahanan, melainkan tentang proporsi, efisiensi, dan keberlanjutan. Sebuah negara bisa saja memiliki militer yang kuat dan ekonomi yang sehat secara simultan, tetapi hanya jika kebijakan fiskalnya dirancang dengan disiplin, transparansi, dan orientasi jangka panjang. Tanpa itu, pajak rakyat yang seharusnya menjadi instrumen pembangunan justru berubah menjadi beban yang menggerus masa depan ekonomi bangsa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User