Ketegangan Selat Hormuz Dorong Harga Minyak Menguat Empat Hari

Berdasarkan data perdagangan berjangka energi global per Rabu (19/8), harga minyak mentah Brent menetap di level US$91,28 per barel, mengalami kenaikan tipis dari penutupan sesi sebelumnya. Posisi ter...

Aug 21, 2026 - 15:44
0 0
Ketegangan Selat Hormuz Dorong Harga Minyak Menguat Empat Hari

Berdasarkan data perdagangan berjangka energi global per Rabu (19/8), harga minyak mentah Brent menetap di level US$91,28 per barel, mengalami kenaikan tipis dari penutupan sesi sebelumnya. Posisi tersebut sekaligus menutup empat hari perdagangan beruntun yang seluruhnya berakhir di zona hijau, sebuah laju yang jarang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Para pelaku pasar menilai penguatan ini tidak lepas dari eskalasi ketegangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran paling vital bagi pasokan minyak dunia.

Selat Hormuz membentang di antara Oman dan Iran, dan setiap harinya dilewati sekitar 20 juta barel minyak, hampir seperlima dari total konsumsi minyak global atau sekitar sepertiga dari perdagangan minyak laut dunia. Ketika jalur ini disebut-sebut terancam, harga langsung merespons karena pasar menghitung kemungkinan terganggunya pasokan. Namun, besarnya kenaikan yang terjadi tergolong moderat, dan di sinilah perdebatan di kalangan analis dimulai: apakah penguatan ini ditopang fundamental, atau hanya efek sesaat dari sentimen pasar?

Membaca Tren Empat Hari: Antara Sentimen dan Fundamental

Dalam empat sesi terakhir, indeks harga minyak di bursa berjangka mengalami kenaikan bertahap, meski dengan laju yang tidak seragam. Tren ini, menurut catatan para trader, lebih banyak digerakkan oleh sentimen pasar, yaitu persepsi dan ekspektasi pelaku pasar terhadap risiko, ketimbang oleh perubahan nyata dalam data pasokan dan permintaan. Artinya, harga bergerak karena pasar mengantisipasi gangguan, bukan karena gangguan itu benar-benar terjadi.

Perlu dicatat pula konteks jangka panjangnya. Secara year-on-year, level US$91,28 per barel masih jauh di bawah rata-rata harga pada 2022, ketika konflik di Eropa Timur mendorong Brent sempat menembus kisaran US$120-an per barel. Sebaliknya, jika dibandingkan dengan periode puncak pandemi pada 2020, saat kontrak berjangka minyak AS sempat jatuh ke wilayah negatif, posisi saat ini berada di titik yang jauh lebih tinggi. Fluktuasi sebesar itu menunjukkan betapa sensitifnya komoditas ini terhadap berita dan ekspektasi.

Di Satu Sisi: Premi Risiko dan Ancaman Pasokan yang Nyata

Argumen penguatan harga bertumpu pada satu hal: risiko gangguan pasokan. Jika ketegangan di Selat Hormuz meningkat menjadi konfrontasi terbuka, sebagian rute pengiriman bisa terhambat, dan pasar akan kehilangan jutaan barel pasokan harian dalam waktu singkat. Cadangan penyangga di beberapa negara konsumen utama memang tersedia, tetapi jumlahnya terbatas dan hanya cukup untuk beberapa pekan. Dalam skenario seperti ini, premi risiko, yaitu tambahan harga yang dibayar pembeli karena ketidakpastian, dapat membesar dengan cepat.

Belum lagi faktor musiman. Permintaan energi di kawasan Asia cenderung naik menjelang akhir tahun, dan jika angka permintaan itu bertemu dengan pasokan yang rawan gangguan, tekanan ke atas pada harga akan semakin nyata. Sebagian analis melihat kenaikan empat hari beruntun ini sebagai sinyal awal bahwa pasar mulai memperhitungkan skenario terburuk, bukan sekadar guncangan sesaat.

Di Sisi Lain: Fundamental Permintaan yang Masih Rapuh

Namun, perspektif sebaliknya tidak kalah kuatnya. Fundamental, yaitu kondisi dasar ekonomi yang menentukan nilai suatu aset dalam jangka panjang, menunjukkan permintaan minyak global masih dibayangi perlambatan. Suku bunga tinggi di negara-negara maju menekan aktivitas manufaktur, sementara inflasi yang masih di atas target menggerus daya beli rumah tangga. Dalam lingkungan seperti itu, kenaikan harga minyak justru berisiko memperlambat pemulihan ekonomi, yang pada akhirnya akan menekan permintaan energi itu sendiri.

Sejarah menunjukkan pola yang berulang: harga tinggi cenderung menghancurkan permintaannya sendiri. Rasio antara kenaikan harga dan respons permintaan, yang dalam istilah ekonomi disebut elastisitas, memang kecil dalam jangka pendek, tetapi menjadi lebih nyata dalam jangka panjang. Karena itu, sebagian analis menilai kenaikan saat ini lebih dekat ke gelembung sentimen yang rentan koreksi. Begitu kabar mereda atau data ekonomi memburuk, harga bisa mengalami penurunan secepat kenaikannya. Proyeksi mereka untuk beberapa pekan ke depan masih terbelah lebar, mencerminkan tingginya ketidakpastian.

Efek Domestik: Inflasi, Rupiah, dan Beban APBN

Bagi Indonesia, pergerakan harga minyak bukan sekadar angka di layar bursa. Impor minyak yang masih cukup besar membuat setiap kenaikan harga berdampak langsung pada neraca perdagangan, nilai tukar rupiah, dan beban subsidi energi di APBN. Secara historis, kenaikan signifikan harga minyak kerap diikuti capital outflow, yaitu keluarnya dana asing dari portofolio investasi di pasar keuangan domestik, karena investor global cenderung mengurangi eksposur aset berisiko di negara importir energi. Likuiditas di pasar domestik pun bisa ikut mengetat ketika Bank Indonesia harus menahan laju pelemahan rupiah.

Di sisi inflasi, kenaikan harga minyak yang bertahan lama akan merembet ke harga pangan dan transportasi. Bank Indonesia menargetkan inflasi year-on-year di kisaran 2,5 persen plus minus satu persen, dan setiap tekanan dari sisi energi membuat ruang penurunan suku bunga semakin sempit. Namun, perlu digarisbawahi: dampak sebesar itu baru terasa jika harga bertahan di atas US$90 dalam jangka panjang. Jika kenaikan ini hanya berlangsung singkat, efeknya terhadap valuasi dan ekspektasi pasar domestik akan lebih terbatas.

Pada akhirnya, arah harga minyak dalam beberapa pekan ke depan akan ditentukan oleh dua hal: apakah ketegangan di Selat Hormuz mereda atau justru memuncak, dan apakah data ekonomi global mengonfirmasi perlambatan permintaan. Kedua kekuatan itu bergerak berlawanan, dan pasar akan terus menimbangnya dari hari ke hari. Bagi pembaca, yang perlu dicermati bukan sekadar angka harian, melainkan tren dan konsistensinya, karena dalam komoditas seperti minyak, harga hari ini sering kali hanya mencerminkan ekspektasi tentang hari esok.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User