Oct 12, 2026
Bisnis

Kerupuk Kulit Jakarta Tembus Inggris, Bertahan Lebih Dua Dekade

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan catatan pelaku usaha industri makanan olahan per awal Oktober 2026, sektor industri pengolahan makanan skala kecil dan menengah di DKI Jakarta menunjukka...

Kerupuk Kulit Jakarta Tembus Inggris, Bertahan Lebih Dua Dekade

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan catatan pelaku usaha industri makanan olahan per awal Oktober 2026, sektor industri pengolahan makanan skala kecil dan menengah di DKI Jakarta menunjukkan tren ekspansi yang cukup menarik. Salah satu contoh nyata datang dari rumah produksi rumahan berlabel Cap Tiga Bintang yang telah beroperasi sejak 1999 dan kini mengekspor kerupuk kulit sapi ke pasar Inggris. Angka ini menjadi penting di tengah tekanan perlambatan permintaan domestik dan pelemahan daya beli kelas menengah dalam beberapa kuartal terakhir.

Kapasitas Produksi dan Skala Usaha

Rumah produksi ini mengolah sekitar 150 kilogram kulit sapi per hari, setara dengan sekitar 4,5 ton per bulan atau 54 ton per tahun jika diasumsikan 30 hari kerja. Dari sisi nilai, dengan harga jual rata-rata kerupuk kulit kering di pasar domestik berkisar Rp45.000–Rp60.000 per kilogram, maka potensi omzet bulanan berada di kisaran Rp202 juta hingga Rp270 juta. Apabila porsi ekspor ke Inggris menyumbang, misalnya, 15–20 persen dari total produksi, kontribusi devisa dari satu usaha ini dapat mencapai Rp30 juta–Rp54 juta per bulan—angka yang tidak besar secara makro, tetapi signifikan untuk skala UMKM.

Di satu sisi, capaian ini membuktikan bahwa produk olahan tradisional Indonesia memiliki daya saing rasa dan tekstur yang mampu diterima standar negara maju. Di sisi lain, skala produksi 150 kilogram per hari masih sangat kecil dibandingkan kapasitas industri makanan olahan nasional yang rata-rata mencapai ratusan ton per hari. Artinya, keberhasilan ini lebih bernuansa sentimen pasar positif ketimbang mengubah fundamental ekspor nasional secara agregat.

Peluang dan Kendala Ekspor ke Inggris

Pasar Inggris memiliki standar keamanan pangan yang ketat, terutama untuk produk berbasis hewan seperti kulit sapi. Diperlukan sertifikasi health certificate, kepatuhan terhadap regulasi Food Standards Agency, serta pelabelan yang memadai. Di sisi lain, permintaan terhadap camilan bertekstur renyah dengan cita rasa eksotis justru tumbuh di komunitas diaspora Asia dan konsumen lokal yang mencari alternatif snack gluten-free. Kerupuk kulit sapi secara alami rendah karbohidrat dan tinggi protein, sehingga memiliki nilai jual di segmen kesehatan.

Pro: produk ini memiliki keunggulan biaya bahan baku lokal yang melimpah, dengan harga kulit sapi mentah di pasar domestik berkisar Rp15.000–Rp25.000 per kilogram. Kontra: volatilitas harga kulit sapi, nilai tukar rupiah terhadap poundsterling, serta biaya logistik internasional menjadi risiko utama. Jika rupiah melemah, eksportir justru diuntungkan karena harga jual dalam dolar atau pound menjadi lebih kompetitif, tetapi biaya impor bahan pendukung seperti kemasan food grade ikut naik.

Proyeksi dan Tantangan Keberlanjutan

Mengacu pada tren pertumbuhan ekspor makanan olahan Indonesia ke Eropa yang rata-rata tumbuh 6–8 persen year-on-year dalam lima tahun terakhir, prospek kerupuk kulit ke Inggris masih terbuka. Namun, tanpa peningkatan kapasitas produksi—misalnya melalui investasi alat penggorengan vakum dan pengeringan mekanis—pelaku usaha akan sulit memenuhi pesanan yang lebih besar. Likuiditas untuk ekspansi juga menjadi ganjalan, karena skema kredit usaha rakyat umumnya terbatas pada plafon tertentu.

"Keberhasilan UMKM menembus pasar negara maju adalah bukti bahwa kualitas produk lokal bisa bersaing. Tantangan terbesarnya bukan pada rasa, tetapi pada konsistensi pasokan, sertifikasi, dan akses pembiayaan ekspor," ujar seorang analis industri makanan olahan.

Dengan portofolio produk yang terbatas dan ketergantungan pada satu komoditas, valuasi usaha seperti ini lebih ditentukan oleh loyalitas pelanggan dan reputasi jangka panjang ketimbang skala. Bertahan lebih dari dua dekade adalah pencapaian tersendiri, tetapi melompat dari 150 kilogram per hari menjadi pemain ekspor yang stabil membutuhkan strategi kapasitas dan kemitraan distribusi yang lebih matang. Proyeksi ke depan bergantung pada kemampuan menjaga rasio biaya produksi, menjaga kualitas, dan membaca sentimen pasar global secara cermat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User