Keraton Yogyakarta Dibobol Maling Saat Subuh, Pusaka Bersejarah Raib

Kabar mengejutkan datang dari pusat kebudayaan Jawa. Keraton Yogyakarta, simbol warisan adiluhung yang telah berdiri selama berabad-abad, menjadi sasaran aksi kriminal berani pada dini hari. Sekelompo...

Jul 27, 2026 - 23:41
0 0
Keraton Yogyakarta Dibobol Maling Saat Subuh, Pusaka Bersejarah Raib

Kabar mengejutkan datang dari pusat kebudayaan Jawa. Keraton Yogyakarta, simbol warisan adiluhung yang telah berdiri selama berabad-abad, menjadi sasaran aksi kriminal berani pada dini hari. Sekelompok pencuri berhasil menggasak sejumlah benda berharga milik keraton dalam sebuah peristiwa yang kini mengguncang warga Yogyakarta.

Detik-Detik Hilangnya Warisan

Peristiwa nahas itu terjadi menjelang fajar, sekitar pukul empat lewat tiga puluh menit. Saat sebagian besar abdi dalem dan penghuni keraton masih terlelap, para pelaku diduga merangsek masuk ke area penyimpanan khusus yang menyimpan koleksi paling berharga milik kerajaan. Sunyi pagi yang biasanya khusyuk mendadak terusik oleh langkah-langkah cepat dan aksi perusakan kunci-kunci tua.

Belum ada keterangan resmi tentang bagaimana pelaku bisa menembus sistem keamanan keraton yang terkenal dengan penjagaan tradisionalnya. Namun, sumber internal menyebutkan bahwa pintu gerbang utama tidak menunjukkan tanda kerusakan parah, menimbulkan dugaan bahwa perampok telah mempelajari seluk-beluk area terlarang tersebut secara mendalam.

Daftar Benda yang Amblas

Kerugian paling menyakitkan bukanlah semata nilai materi, melainkan lenyapnya artefak yang menjadi napas sejarah Yogyakarta. Berdasarkan inventarisasi awal, benda-benda yang raib mencakup tiga naskah kuno beraksara Jawa yang berisi catatan pemerintahan dan silsilah raja-raja Mataram Islam. Naskah-naskah ini selama ini menjadi rujukan utama para filolog dan sejarawan.

Selain itu, sekotak uang perbendaharaan keraton turut lenyap. Koin-koin emas dan perak dari abad ke-18 hingga ke-19, yang biasa digunakan dalam upacara adat dan sebagai simbol legitimasi, kini tak lagi berada di tempatnya. Beberapa perhiasan kerajaan seperti kalung sungsun, gelang sekar rinonce, dan liontin bermata permata juga dinyatakan hilang. Total nilai taksiran benda-benda tersebut bisa mencapai Rp 50 miliar, meskipun nilai kulturalnya jelas jauh melampaui angka itu.

Reaksi Keluarga Besar Keraton

Pihak keraton masih diliputi suasana duka dan keterkejutan. Seorang perwakilan keluarga kerajaan yang enggan disebutkan namanya menyampaikan kekecewaan mendalam. “Ini bukan sekadar pencurian. Ini adalah serangan terhadap pusaka leluhur yang telah dijaga turun-temurun. Kami berharap pelaku segera ditangkap dan benda-benda itu bisa kembali,” ujarnya lirih.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang juga menjabat sebagai Raja Kraton, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dikabarkan langsung memimpin rapat tertutup dengan para pejabat kepolisian dan abdi dalem senior. Ia menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan keraton, terutama di area-area yang menyimpan koleksi tak ternilai.

Penyelidikan dan Jejak Pelaku

Kepolisian Resor Kota Yogyakarta telah membentuk tim khusus untuk memburu para pelaku. Dari olah tempat kejadian perkara, petugas menemukan beberapa alat perusak kunci tradisional dan sepotong kain yang diduga milik pelaku. Rekaman kamera pengawas yang baru-baru ini dipasang di sekitar alun-alun utara sedang dianalisis secara intensif. Diduga kuat, perampok terdiri dari lebih dari tiga orang dan telah memantau keraton selama beberapa waktu.

“Kami sudah mengantongi ciri-ciri awal. Ini bukan aksi spontan, melainkan terencana dengan matang. Kami juga bekerja sama dengan komunitas kolektor dan kurator untuk memantau kemungkinan barang-barang tersebut diperjualbelikan di pasar gelap,” kata seorang penyidik senior yang enggan dikutip namanya.

Pukulan bagi Pelestarian Budaya

Hilangnya naskah dan benda pusaka keraton bukan hanya tragedi bagi keluarga kerajaan, melainkan juga pukulan telak bagi upaya pelestarian budaya nasional. Naskah-naskah yang raib memuat pengetahuan tentang tata negara, pengobatan tradisional, dan falsafah Jawa yang belum seluruhnya terdokumentasikan secara digital. Para ahli dari berbagai universitas menyatakan keprihatinan mendalam.

“Manuskrip semacam itu ibarat memori kolektif bangsa. Setiap lembar yang hilang berarti kita kehilangan sepotong peradaban,” tutur seorang profesor filologi dari sebuah universitas ternama di Yogyakarta, diwawancarai terpisah.

Kasus ini juga memicu diskusi tentang perlunya digitalisasi darurat seluruh koleksi keraton agar nilai informasinya tidak ikut lenyap manakala terjadi musibah. Saat ini, tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya telah diterjunkan untuk membantu mendata dan menilai kembali sisa koleksi yang masih utuh.

Masyarakat Yogyakarta dan pecinta budaya di seluruh Indonesia kini menanti dengan cemas. Harapan agar pusaka leluhur kembali ke tempatnya masih membuncah, seiring doa-doa yang dipanjatkan di setiap sudut kota gudeg ini agar keadilan segera ditegakkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User