Kemenko Pangan Dukung Teknologi Pirolisis Olah Sampah Jadi Energi
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan per awal 2025, timbulan sampah nasional mencapai sekitar 68,5 juta ton per tahun, dengan komposisi sampah organik mendominasi lebih dari 40 ...
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan per awal 2025, timbulan sampah nasional mencapai sekitar 68,5 juta ton per tahun, dengan komposisi sampah organik mendominasi lebih dari 40 persen dan sampah plastik berkisar 17 hingga 18 persen. Di tengah tekanan persoalan lingkungan tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Pangan mendorong pemanfaatan teknologi pirolisis sebagai solusi pengelolaan sampah sekaligus sumber energi terbarukan di Indonesia.
Pirolisis merupakan proses dekomposisi termal material pada suhu tinggi tanpa kehadiran oksigen. Melalui teknologi ini, sampah plastik dan biomassa dapat diubah menjadi produk bernilai ekonomi seperti minyak pirolisis, gas sintetis, dan arang atau char. Bagi pembaca awam, sederhananya teknologi ini memanaskan sampah dalam kondisi tanpa udara sehingga menghasilkan bahan bakar alternatif yang dapat dimanfaatkan kembali.
Potensi Ekonomi dari Pengolahan Sampah
Dari kacamata ekonomi, sampah sesungguhnya menyimpan nilai yang belum tergarap optimal. Sejumlah kajian memperkirakan potensi ekonomi sirkular dari pengelolaan sampah di Indonesia dapat menembus miliaran dolar AS per tahun apabila dikelola secara terintegrasi. Konversi sampah menjadi energi juga sejalan dengan target bauran energi baru terbarukan pemerintah sebesar 23 persen pada 2025, yang hingga kini realisasinya masih tertahan di kisaran 13 hingga 14 persen.
Di satu sisi, dorongan terhadap teknologi pirolisis membuka ruang investasi baru. Kebutuhan pendanaan untuk fasilitas pengolahan sampah modern diperkirakan mencapai triliunan rupiah untuk skala kota besar, menciptakan peluang bagi investor domestik maupun asing. Selain itu, pengurangan volume sampah ke tempat pemrosesan akhir atau TPA dapat menekan biaya operasional pemerintah daerah yang selama ini mengalami kenaikan signifikan, mengingat sebagian daerah mengalokasikan 5 hingga 10 persen anggaran lingkungan hidup hanya untuk pengangkutan sampah.
Di Satu Sisi: Efisiensi dan Nilai Tambah
Pro: teknologi pirolisis menawarkan efisiensi ganda. Pertama, mengurangi ketergantungan pada TPA yang kapasitasnya kian kritis, karena sejumlah TPA besar di Indonesia diproyeksikan kelebihan beban dalam beberapa tahun ke depan. Kedua, menghasilkan energi yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri maupun rumah tangga. Ketiga, dari sisi fundamental ekonomi pangan, pengelolaan sampah organik menjadi energi dan pupuk berpotensi memperkuat rantai pasok sektor pertanian, selaras dengan agenda swasembada pangan yang menjadi prioritas pemerintah.
Sentimen pasar terhadap sektor pengelolaan limbah dan energi terbarukan juga menunjukkan tren positif. Minat investor terhadap proyek-proyek hijau mengalami kenaikan, tercermin dari pertumbuhan penerbitan obligasi hijau di pasar modal domestik dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini memberikan sinyal bahwa likuiditas pembiayaan untuk proyek berkelanjutan semakin tersedia.
Di Sisi Lain: Tantangan Biaya dan Regulasi
Kontra: adopsi teknologi pirolisis bukan tanpa hambatan. Biaya investasi awal fasilitas pirolisis relatif tinggi, berkisar antara Rp 50 miliar hingga ratusan miliar rupiah per unit berskala komersial, tergantung kapasitas. Kelayakan ekonominya sangat bergantung pada kontinuitas pasokan sampah terpilah, sementara tingkat pemilahan sampah di hulu oleh masyarakat masih rendah. Diperkirakan kurang dari 20 persen rumah tangga di perkotaan yang memilah sampah secara konsisten.
Selain itu, harga jual listrik atau bahan bakar hasil konversi harus bersaing dengan energi fosil yang masih menikmati subsidi. Tanpa skema tarif yang menarik, proyek pengolahan sampah menjadi energi berisiko mengalami kesulitan likuiditas. Pengalaman sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga sampah di beberapa kota menunjukkan realisasi berjalan lebih lambat dibandingkan target awal, sebagian karena persoalan perizinan serta penolakan warga terkait kekhawatiran emisi.
Proyeksi ke Depan
Ke depan, keberhasilan inisiatif Kemenko Pangan akan ditentukan oleh integrasi kebijakan lintas sektor, mulai dari edukasi pemilahan sampah di hulu hingga insentif fiskal bagi pengembang teknologi di hilir. Rasio antara biaya pengelolaan dan nilai energi yang dihasilkan perlu terus ditingkatkan agar valuasi proyek menarik bagi portofolio investasi swasta.
Apabila ekosistem pendukung terbentuk, teknologi pirolisis berpotensi menjadi salah satu pilar ekonomi sirkular nasional, yakni mengubah beban lingkungan menjadi sumber energi sekaligus lapangan kerja baru. Namun tanpa dukungan regulasi dan pembiayaan yang konsisten, inisiatif ini berisiko berhenti sebagai wacana kebijakan semata.
Comments (0)