Kedelai Tembus Rp13.200, Perajin Tahu Bertahan di Tengah Margin Tipis
Berdasarkan data pemantauan harga pangan yang dihimpun dari sejumlah pasar induk dan sentra produksi tahu di Jabodetabek per awal Oktober 2026, harga kedelai impor menembus Rp13.200 per kilogram. Angk...
Berdasarkan data pemantauan harga pangan yang dihimpun dari sejumlah pasar induk dan sentra produksi tahu di Jabodetabek per awal Oktober 2026, harga kedelai impor menembus Rp13.200 per kilogram. Angka itu mengalami kenaikan signifikan dibandingkan posisi awal tahun yang masih berada di kisaran Rp10.800–Rp11.200 per kilogram, atau naik sekitar 18–22 persen secara year-on-year. Kenaikan ini menjadi pukulan telak bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis kedelai, khususnya perajin tahu dan tempe, karena bahan baku menyumbang 60–70 persen dari total struktur biaya produksi mereka.
Di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, salah satu sentra produksi tahu rumahan masih beroperasi seperti biasa. Namun di balik aktivitas dapur produksi yang tetap berjalan, tekanan margin kian terasa. Harga jual tahu di tingkat perajin belum berubah sejak awal tahun, sementara biaya bahan baku terus merangkak naik. Kondisi ini menggambarkan dilema klasik UMKM pangan: menaikkan harga berisiko kehilangan pelanggan, tetapi menahan harga berarti menggerus keuntungan hingga titik kritis.
Tekanan Biaya Produksi dan Inflasi Bahan Baku
Kenaikan harga kedelai tidak berdiri sendiri. Sejumlah faktor fundamental ikut berperan, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, kenaikan biaya logistik global, hingga gangguan pasokan dari negara produsen utama. Karena lebih dari 80 persen kebutuhan kedelai nasional masih dipenuhi melalui impor, pergerakan harga komoditas ini sangat sensitif terhadap sentimen pasar global dan fluktuasi kurs.
Dalam terminologi ekonomi, yang terjadi adalah imported inflation atau inflasi yang masuk melalui barang impor. Ketika rupiah melemah, harga barang dalam dolar otomatis setara dengan rupiah yang lebih besar. Bagi perajin tahu, efeknya langsung terasa pada harga per kilogram kedelai yang harus dibayar setiap hari. Padahal, produksi tahu berjalan harian dengan siklus pendek, sehingga kenaikan biaya tidak bisa ditahan lama di gudang persediaan.
Seorang perajin di Duren Tiga mengungkapkan bahwa pihaknya memilih tetap memproduksi dalam jumlah yang sama, meski laba bersih menipis. "Kalau kami naikkan harga, pelanggan bisa lari ke produk lain. Jadi kami tahan dulu sambil menunggu harga kedelai turun," ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan perilaku usaha kecil yang sangat bergantung pada loyalitas pasar tradisional, dengan ruang negosiasi harga yang sempit.
Pro dan Kontra Kenaikan Harga Jual Tahu
Di satu sisi, kenaikan harga jual tahu dipandang sebagai langkah rasional untuk menjaga keberlanjutan usaha. Dengan harga kedelai naik hingga Rp13.200 per kilogram, margin kotor perajin yang sebelumnya berkisar 15–20 persen kini tertekan menjadi sekitar 5–8 persen, bahkan bisa menyentuh titik impas bagi perajin dengan skala produksi kecil. Jika tidak ada penyesuaian harga, banyak usaha berisiko gulung tikar, yang pada akhirnya justru mengurangi pasokan tahu di pasar dan memicu kelangkaan.
Di sisi lain, kenaikan harga jual menimbulkan risiko penurunan permintaan. Tahu dan tempe merupakan sumber protein terjangkau yang dikonsumsi luas oleh rumah tangga berpenghasilan menengah ke bawah. Jika harga naik terlalu tinggi, daya beli masyarakat bisa tergerus, apalagi di tengah kondisi inflasi pangan yang masih bergejolak. Kenaikan harga juga berpotensi mendorong konsumen beralih ke produk protein lain yang harganya lebih stabil, sehingga pangsa pasar perajin tahu justru menyusut dalam jangka menengah.
"Perajin tahu menghadapi apa yang disebut sebagai price-cost squeeze, yaitu harga jual yang kaku di satu sisi dan biaya bahan baku yang fleksibel naik di sisi lain. Solusinya harus datang dari hulu, bukan hanya dari hilir," kata seorang analis pangan dari lembaga riset ekonomi pertanian.
Proyeksi dan Strategi Bertahan Perajin
Ke depan, proyeksi harga kedelai masih dibayangi ketidakpastian. Jika kurs rupiah bertahan di level saat ini dan pasokan global belum pulih, harga kedelai berpotensi bertahan di kisaran Rp12.500–Rp13.500 per kilogram hingga akhir tahun. Dalam skenario itu, perajin tahu perlu melakukan efisiensi di sisi produksi, misalnya dengan mengatur volume produksi harian, memangkas pemborosan bahan bakar, atau melakukan pembelian kedelai secara kolektif agar memperoleh harga grosir yang lebih baik.
Diversifikasi produk juga menjadi opsi, seperti mengolah tahu menjadi produk olahan bernilai tambah yang bisa dijual lebih mahal. Namun, strategi ini membutuhkan tambahan modal dan keterampilan, dua hal yang sering menjadi kendala utama UMKM. Keterlibatan pemerintah dalam bentuk stabilisasi pasokan kedelai, insentif harga, atau akses pembiayaan murah menjadi krusial untuk menjaga keberlanjutan sektor ini.
Pada akhirnya, perjuangan perajin tahu di Duren Tiga adalah cerminan persoalan yang lebih besar: bagaimana sektor pangan rakyat bertahan ketika guncangan harga bahan baku datang dari pasar global. Tanpa dukungan kebijakan yang menyeluruh, ketahanan pangan berbasis UMKM akan terus diuji dari tahun ke tahun. Di satu sisi, semangat bertahan patut diapresiasi; di sisi lain, tanpa struktur biaya yang sehat, keberlanjutan usaha ini berada di garis tipis antara bertahan dan menyerah.
Comments (0)