Oct 07, 2026
Bisnis

Kebakaran Bromo Diduga Akibat Pembakaran Arang, 125 Hektare Hangus

Berdasarkan keterangan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, kebakaran besar yang pernah melanda kawasan Gunung Bromo menghanguskan 125 hektare hutan cemara. Dugaan sementara, api dipicu ak...

Kebakaran Bromo Diduga Akibat Pembakaran Arang, 125 Hektare Hangus

Berdasarkan keterangan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, kebakaran besar yang pernah melanda kawasan Gunung Bromo menghanguskan 125 hektare hutan cemara. Dugaan sementara, api dipicu aktivitas warga yang membakar arang di sekitar kawasan hutan, praktik yang rentan menjadi sumber api pada musim kemarau ketika vegetasi kering dan angin mempercepat perambatan.

Gunung Bromo bukan sekadar destinasi wisata. Kawasan ini merupakan bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang membentang lebih dari 50 ribu hektare di perbatasan Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Hutan cemara yang terbakar adalah penyangga ekosistem sekaligus daya tarik utama bagi ratusan ribu kunjungan wisatawan setiap tahun, sehingga setiap hektare yang hangus menyimpan konsekuensi ekologis sekaligus ekonomis.

Pembakaran Arang dan Faktor Musim Kemarau

Pembakaran arang merupakan teknik konvensional untuk mengolah kayu menjadi bahan bakar yang masih dijumpai pada sebagian warga di sekitar kawasan hutan. Pada musim kemarau, risiko praktik ini meningkat tajam. Kelembapan udara yang rendah membuat dedaunan kering mudah terbakar, sementara angin kencang di dataran tinggi Bromo dapat membawa bara ke area yang lebih luas dalam hitungan jam.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Bromo sebenarnya bukan peristiwa baru. Tren karhutla cenderung naik pada puncak kemarau, dan hampir setiap tahun otoritas taman nasional mencatat titik api di sejumlah titik rawan. Perbedaan kali ini terletak pada luasnya area terdampak: 125 hektare hutan cemara yang hangus berarti kerusakan pada zona penyangga yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih.

Dua Sisi: Kerugian Ekologis dan Tekanan Ekonomi

Di satu sisi, kerusakan ekologisnya nyata. Hutan cemara berfungsi menahan air, mencegah erosi, dan menjadi habitat satwa. Hilangnya tutupan hijau juga mengurangi kemampuan kawasan menyerap karbon. Pemulihan ekosistem tidak bisa instan; anakan cemara yang ditanam ulang butuh belasan tahun sebelum kembali berfungsi sebagai hutan yang sehat, sementara tanah gosong rentan terhadap longsor dan pertumbuhan gulma.

Di sisi lain, tekanan ekonomi juga tidak bisa diabaikan. Asap dan pemandangan lahan hangus biasanya memengaruhi sentimen kunjungan wisatawan, padahal sektor pariwisata adalah sumber penghidupan utama warga Tengger, mulai dari penginapan, kuda sewa, hingga jasa pemandu. Otoritas juga harus mengalokasikan anggaran untuk pemadaman dan rehabilitasi, sementara nilai ekonomi hutan yang terbakar — bila dihitung dari jasa lingkungan dan potensi kunjungan yang hilang — jauh melampaui biaya penanaman kembali.

"Pemulihan kawasan seperti ini tidak bisa diselesaikan dengan satu musim tanam. Butuh pendekatan jangka panjang yang melibatkan masyarakat, karena akar masalahnya sering berada di sekitar kawasan, bukan di dalam hutan," ujar seorang peneliti kehutanan yang enggan disebut namanya.

Risiko Berulang dan Proyeksi Pemulihan

Proyeksi pemulihan kawasan terbakar bergantung pada dua faktor: cuaca dan tata kelola. Jika musim hujan datang normal, semai alami dapat tumbuh dalam beberapa tahun, tetapi komposisi vegetasi bisa berubah dan tidak selalu kembali seperti semula. Jika kemarau panjang berlanjut, risiko kebakaran susulan justru meningkat, sehingga pengawasan di area terdampak menjadi pekerjaan rumah jangka panjang.

Kontra dari optimisme pemulihan adalah keterbatasan pengawasan. Luas kawasan taman nasional yang puluhan ribu hektare berbanding timpang dengan jumlah petugas di lapangan. Tanpa patroli rutin, edukasi warga, dan penegakan hukum yang konsisten terhadap pembakaran lahan, siklus karhutla berpotensi terulang setiap puncak kemarau. Sanksi pidana bagi pembakar lahan sebenarnya sudah diatur dalam undang-undang kehutanan, tetapi pembuktian dan penindakan di lapangan kerap menemui hambatan.

Pelajaran bagi Pengelolaan Kawasan

Kebakaran Bromo kali ini menjadi pengingat bahwa menjaga hutan bukan hanya soal memadamkan api, tetapi juga mengelola perilaku manusia di sekitarnya. Di satu sisi, pemerintah daerah dan otoritas taman nasional perlu memperkuat sistem peringatan dini serta jalur koordinasi cepat dengan warga. Di sisi lain, masyarakat sekitar harus dilibatkan sebagai garda terdepan pengawasan, misalnya melalui kelompok sadar api dan alternatif mata pencaharian yang mengurangi ketergantungan pada aktivitas berisiko seperti pembakaran arang.

Dengan luas 125 hektare yang hangus, angka ini memang kecil jika dibandingkan total kawasan taman nasional. Namun, secara fundamental, setiap hektare hutan yang hilang adalah kerugian yang terakumulasi. Pemulihan penuh — baik secara ekologis maupun ekonomi — membutuhkan waktu, anggaran, dan kesadaran bersama. Yang pasti, tren kebakaran akan terus menjadi ancaman selama musim kemarau dan aktivitas berisiko masih berjalan tanpa pengawasan memadai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User