Sep 15, 2026
Nasional

Kalsel — Terjebak Fragmentasi Habitat, 12 Bekantan Ditemukan Mati Terpanggang

Tragedi kelam kembali menimpa satwa endemik pulau Kalimantan. Sebanyak 12 ekor bekantan (Nasalis larvatus) ditemukan mati dalam kondisi mengenaskan akibat

Kalsel — Terjebak Fragmentasi Habitat, 12 Bekantan Ditemukan Mati Terpanggang

Tragedi kelam kembali menimpa satwa endemik pulau Kalimantan. Sebanyak 12 ekor bekantan (Nasalis larvatus) ditemukan mati dalam kondisi mengenaskan akibat kebakaran lahan di Kalimantan Selatan. Investigasi di lapangan mengungkap fakta miris: kawanan primata berhidung panjang ini gagal menyelamatkan diri bukan semata karena kobaran api yang ganas, melainkan akibat habitat alami mereka yang telah terfragmentasi parah dan terkepung oleh aktivitas manusia.

Kawasan tempat kawanan bekantan tersebut bertahan hidup diketahui berada di atas tanah desa dan lahan milik masyarakat. Jalur pergerakan satwa ini terputus oleh akses jalan raya, pembukaan lahan, serta pemukiman, menciptakan kantong habitat sempit tanpa koridor penyelamatan saat bencana api melanda.

Kronologi Tragedi di Kantong Habitat Sempit

Berdasarkan penelusuran tim investigasi di lokasi kejadian, peristiwa memilukan ini berlangsung melalui rangkaian situasi kritis:

  1. Munculnya Titik Api: Api mulai membakar semak belukar dan sisa vegetasi rawa gambut di sekitar area kepemilikan warga, dipicu cuaca kering dan material gambut yang mudah tersulut.
  2. Primata Terjebak Kepungan Api: Kawanan bekantan berusaha lari mencari pohon pelindung yang lebih tinggi, namun pergerakan mereka terkunci karena batas jalan dan bentang lahan terbuka di sekelilingnya.
  3. Gagal Menyeberang Koridor: Pohon-pohon penyambung kanopi telah hilang ditebang, memaksa bekantan bertahan di pucuk pohon yang akhirnya tersapu lidah api tebal dan asap pekat.
  4. Penemuan Bangkai Satwa: Tim gabungan dan warga setempat menemukan 12 bangkai primata berhidung mancung tersebut dalam kondisi hangus terbakar di antara sisa-sisa ranting arang.
"Bekantan tidak terbiasa bergerak bebas di permukaan tanah terbuka dalam jarak jauh. Begitu kanopi terputus dan jalan membelah hutan mereka, saat api datang, mereka tidak punya pilihan jalan keluar selain terjebak di tengah kepungan asap," ujar salah seorang relawan penyelamat satwa liar setempat.

Jeratan Fragmentasi dan Hilangnya Koridor Ekologis

Kematian 12 bekantan ini menjadi alarm keras mengenai darurat tata ruang di kawasan penyangga ekosistem Kalimantan Selatan. Fakta bahwa primata ini hidup di tanah milik warga menunjukkan betapa terdesaknya satwa liar akibat ekspansi lahan perkebunan, permukiman, dan infrastruktur transportasi.

Poin-poin kritis penyebab tragedi ini meliputi:

  • Ketiadaan Koridor Satwa: Tidak tersedianya jembatan kanopi atau sabuk hijau yang menghubungkan kantong vegetasi satu dengan lainnya.
  • Status Lahan Rawan: Area yang dihuni bekantan tidak berstatus kawasan konservasi resmi, melainkan tanah hak milik dan tanah kas desa tanpa regulasi proteksi satwa.
  • Kerentanan Kebakaran Gambut: Vegetasi terisolasi yang mengering sangat rentan tersulut api, menciptakan perangkap maut instan bagi fauna arboreal.

Pemerintah daerah bersama otoritas balai konservasi kini didesak untuk segera memetakan ulang kantong populasi bekantan yang tersisa di luar kawasan konservasi. Tanpa adanya pemulihan konektivitas lanskap dan penetapan koridor ekologis yang mengikat, satwa berstatus terancam punah (endangered) ini dipastikan akan terus menjadi korban berikutnya dari ekspansi spasial yang abai lingkungan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User