Sep 15, 2026
Nasional

Kabut Asap Karhutla Lumpuhkan Jadwal Penerbangan Bandara Supadio Pontianak

Langit di atas kawasan Kubu Raya dan Kota Pontianak diselimuti kabut pekat berwarna abu-abu kecokelatan yang menyengat indra penciuman. Kebakaran hutan dan

Kabut Asap Karhutla Lumpuhkan Jadwal Penerbangan Bandara Supadio Pontianak

Langit di atas kawasan Kubu Raya dan Kota Pontianak diselimuti kabut pekat berwarna abu-abu kecokelatan yang menyengat indra penciuman. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali mengganas di sejumlah titik di Kalimantan Barat kini mulai memukul urat nadi transportasi udara. Otoritas Bandara Internasional Supadio terpaksa menunda dan mengatur ulang sejumlah jadwal penerbangan komersial akibat jarak pandang landasan pacu yang anjlok drastis di bawah standar keselamatan penerbangan.

Jarak Pandang Menukik di Bawah Batas Aman

Berdasarkan pantauan instrumen meteorologi di lapangan, pekatnya konsentrasi partikel asap membuat runway visual range (RVR) di Bandara Supadio merosot tajam hingga menyentuh angka di bawah 800 meter pada jam-jam sibuk pagi hari. Kondisi ini membuat pilot kesulitan memperoleh referensi visual yang memadai untuk melakukan fase lepas landas maupun pendaratan secara presisi.

"Kami tidak mengambil risiko sekecil apa pun terkait keselamatan penumpang. Begitu visibilitas berada di bawah batas minimum operasional, protokol keselamatan langsung diaktifkan dengan menahan jadwal keberangkatan dan mengalihkan penerbangan yang hendak mendarat," tegas salah seorang petugas operasional navigasi udara di Supadio.

Akibat anomali cuaca buatan akibat asap ini, ratusan penumpang tertahan di ruang tunggu keberangkatan. Sejumlah maskapai komersial terpaksa memberlakukan skema holding procedure di udara bagi pesawat yang mendekati Pontianak, sementara beberapa armada lainnya dialihkan mendarat darurat (divert) ke bandara terdekat seperti Bandara Internasional Hang Nadim Batam atau Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Jejak Bara Gambut dan Pola Krisis Berulang

Investigasi lapangan menunjukkan bahwa kepulan asap tebal ini bersumber dari kebakaran lahan gambut dalam yang tersebar di wilayah Kubu Raya, Mempawah, dan Ketapang. Karakteristik lahan gambut yang menyimpan bahan bakar organik di bawah permukaan tanah membuat api sulit dipadamkan total hanya dengan penyemprotan air permukaan.

Krisis kabut asap ini menegaskan sejumlah celah krusial dalam rantai mitigasi bencana di daerah:

  • Aktivitas Land Clearing Ilegal: Masih maraknya pembukaan lahan dengan cara membakar yang dilakukan secara terstruktur demi menekan biaya operasional.
  • Kerusakan Tata Air Gambut: Kanalisasi masif di lahan gambut menyebabkan kubah gambut mengering dan rentan terbakar saat musim kemarau tiba.
  • Keterbatasan Akses Pemadaman: Titik api kerap berada di pedalaman tanpa akses jalan darat, menyulitkan mobilisasi tim Manggala Agni dan pemadam gabungan.

Kerugian Multisektor yang Membayangi Daerah

Gangguan operasional di Bandara Supadio bukan sekadar persoalan keterlambatan jadwal terbang, melainkan cerminan dari kerugian ekonomi dan logistik yang merembet luas. Rantai pasok kargo medis, bahan pokok segar, serta mobilitas pebisnis lintas wilayah terputus seketika saat ruang udara terkontaminasi asap pekat.

Tanpa adanya langkah hukum yang tegas terhadap aktor pembakar lahan serta restorasi hidrologis gambut yang komprehensif, ruang udara Kalimantan Barat akan terus tersandera oleh siklus tahunan yang mengancam keselamatan publik dan merusak ekosistem secara permanen.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User