Oct 09, 2026
Bisnis

Jejak Kapur Barus RI dalam Al-Qur'an dan Jejak Dagang Arab

Berdasarkan data Kementerian Agama dan catatan sejarah perdagangan Nusantara, kapur barus atau kafur yang disebut dalam Al-Qur'an sebagai salah satu komponen minuman surga ternyata memiliki jejak prod...

Jejak Kapur Barus RI dalam Al-Qur'an dan Jejak Dagang Arab

Berdasarkan data Kementerian Agama dan catatan sejarah perdagangan Nusantara, kapur barus atau kafur yang disebut dalam Al-Qur'an sebagai salah satu komponen minuman surga ternyata memiliki jejak produksi di Barus, pantai barat Sumatra. Wilayah ini dikenal sebagai penghasil kapur barus terbaik sejak abad ke-7 hingga ke-16, jauh sebelum istilah "kamper" menjadi kata serapan dalam berbagai bahasa dunia.

Barus dan Jejak Perdagangan Rempah Kuno

Barus, yang kini masuk wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, tercatat dalam berbagai sumber klasik sebagai pelabuhan utama penghasil kapur barus. Para pedagang Arab, Persia, India, dan Tiongkok rutin singgah untuk membeli komoditas ini. Bukti arkeologis berupa temuan keramik Dinasti Tang dan permukiman kuno menguatkan dugaan bahwa Barus merupakan simpul perdagangan internasional yang ramai sebelum era Malaka.

Dalam konteks ekonomi modern, Barus dapat dianalogikan sebagai kawasan dengan keunggulan komparatif berbasis sumber daya alam. Nilai tambah berasal dari pengolahan getah pohon kapur yang menghasilkan kristal beraroma khas. Komoditas ini kemudian menjadi bagian dari rantai pasok ekspor yang menghubungkan Sumatra dengan pasar Timur Tengah, Tiongkok, dan Eropa.

Pro: Kapur Barus sebagai Diplomasi Dagang dan Budaya

Di satu sisi, keberadaan kapur barus Barus dalam Al-Qur'an menjadi daya tarik tersendiri bagi wisata religi dan kajian sejarah. Ketertarikan masyarakat Arab terhadap komoditas ini membuka jalur interaksi ekonomi yang kemudian mempercepat penyebaran Islam di Nusantara. Para pedagang Arab tidak hanya membeli barang, tetapi juga membawa ajaran agama, sistem nilai, dan tradisi literasi.

Dari sisi ekonomi, kapur barus memiliki proyeksi nilai ekspor yang dapat dikembangkan melalui industri aromaterapi, farmasi, dan kosmetik. Jika dikelola dengan branding sejarah, produk kafur Barus berpeluang masuk segmen premium pasar global. Sentimen pasar terhadap produk berbasis warisan budaya cenderung positif, terutama di kawasan Teluk yang memiliki keterkaitan historis dengan Barus.

Kontra: Tantangan Fundamental dan Risiko Komoditas

Di sisi lain, produksi kapur barus modern menghadapi tantangan fundamental. Pohon kapur yang dulu melimpah kini jarang ditemukan di Barus. Sebagian besar pasokan kafur global saat ini berasal dari sintesis kimia, bukan getah alami. Artinya, ketergantungan pada narasi sejarah saja tidak cukup untuk membangun industri berkelanjutan tanpa dukungan kebun budidaya, riset, dan hilirisasi.

Sebagai catatan, data Balai Besar Industri Hasil Perkebunan menunjukkan bahwa nilai ekspor produk turunan rempah aromatik Indonesia masih fluktuatif. Likuiditas pelaku usaha kecil di daerah penghasil cenderung terbatas, sementara akses pembiayaan dan sertifikasi mutu menjadi kendala. Capital outflow di sektor hulu juga berisiko jika bahan mentah lebih banyak diekspor daripada diolah.

Meski demikian, momentum kebangkitan ekonomi syariah dan wisata halal dapat menjadi katalis. Pemerintah daerah dan pelaku usaha perlu menyusun peta jalan yang mengintegrasikan konservasi, riset, dan pemasaran. Dengan begitu, kapur barus bukan hanya nama dalam kitab suci, melainkan komoditas bernilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat Barus dan sekitarnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User