Langkah PT Pertamina (Persero) dalam mendorong transisi energi hijau melalui bahan bakar minyak (BBM) ramah lingkungan mulai menunjukkan hasil signifikan pada awal tahun 2025. Penjualan produk Pertamax Green 95 tercatat mengalami lonjakan drastis hingga 446 persen jika dibandingkan dengan periode awal pengenalannya. Angka konsumsi harian produk BBM berbasis campuran bioetanol ini kini secara konsisten menembus angka 132 Kiloliter (KL) per hari, menandai pergeseran bertahap pada pola konsumsi bahan bakar masyarakat perkotaan.
Pertumbuhan signifikan ini tidak lepas dari agresi Pertamina dalam memperluas infrastruktur penyaluran di hilir. Hingga kuartal pertama 2025, jaringan distribusi Pertamax Green 95 telah menjangkau 190 SPBU yang tersebar secara strategis, dengan konsentrasi utama berada di wilayah Pulau Jawa. Tren kenaikan ini memberikan indikasi positif bagi peta jalan dekarbonisasi sektor transportasi nasional, meski sejumlah tantangan struktural terkait rantai pasok bahan baku masih membayangi di balik layar.
Dinamika Pertumbuhan dan Rekam Jejak Distribusi
Perjalanan ekspansi Pertamax Green 95 menunjukkan akselerasi yang cukup tajam dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Penetrasi pasar yang awalnya terbatas pada wilayah metropolitan tertentu kini mulai merambah ke koridor-koridor ekonomi utama di Pulau Jawa.
Berikut adalah kronologi dan capaian penting dalam komersialisasi Pertamax Green 95 hingga awal tahun 2025:
- Fase Uji Coba Terbatas (2023): Peluncuran perdana dilakukan secara bertahap di 15 SPBU yang berlokasi di Jakarta dan Surabaya untuk menguji respons pasar serta daya tahan mesin kendaraan terhadap campuran bioetanol 5 persen (E5).
- Penetrasi Pasar Regional (2024): Jangkauan penyaluran diperluas ke puluhan SPBU tambahan di wilayah Jabodetabek dan Jawa Timur seiring dengan peningkatan kapasitas blending di terminal bahan bakar minyak (TBBM).
- Lonjakan Akseleratif (Awal 2025): Jaringan resmi menyentuh 190 SPBU, mendorong volume penjualan harian meroket hingga 446 persen mencapai 132 KL per hari.
Perbandingan Kinerja Operasional Pertamax Green 95
Untuk memahami skala pertumbuhan ini, redaksi menganalisis perbandingan parameter operasional Pertamax Green 95 antara fase awal pengenalan dan kondisi pada awal 2025 dalam tabel berikut:
| Parameter Kinerja | Fase Awal Peluncuran | Kondisi Awal 2025 | Pertumbuhan / Perubahan |
|---|---|---|---|
| Volume Penjualan Harian | ~24,1 KL / hari | 132 KL / hari | +446% |
| Jumlah SPBU Penyalur | 15 SPBU | 190 SPBU | Meningkat pesat |
| Fokus Konsentrasi Wilayah | Jakarta & Surabaya | Koridor Utama Pulau Jawa | Ekspansi Regional Jawa |
| Komposisi Campuran Bioetanol | E5 (5% Molase) | E5 (5% Molase) | Konsisten |
Faktor Pemicu dan Analisis Rantai Pasok Bioetanol
Lonjakan volume penjualan sebesar 446 persen ini dipengaruhi oleh kombinasi kesadaran konsumen akan BBM beroktan tinggi yang lebih ramah lingkungan serta respon kinerja mesin yang dinilai lebih optimal. Produk dengan angka oktan (RON) 95 ini menawarkan tingkat emisi gas buang yang lebih rendah berkat kandungan bioetanol yang bersumber dari tetes tebu (molase).
"Kenaikan konsumsi Pertamax Green 95 sebesar 446 persen menandakan bahwa pasar otomotif domestik, terutama segmen pengguna kendaraan modern, sangat siap menyerap BBM ramah lingkungan. Namun, tantangan terbesarnya bukan lagi pada tingkat permintaan pasar, melainkan pada keandalan rantai pasok bahan baku bioetanol molase dari industri gula dalam negeri," ujar pakar analisis energi terbarukan.
Di sisi lain, penelusuran menunjukkan adanya disparitas geografis yang cukup mencolok dalam peta distribusi saat ini. Penyaluran di 190 SPBU masih terpusat secara masif di Pulau Jawa, terutama wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Wilayah di luar Jawa masih menghadapi kendala logistik BBM berbasis etanol yang membutuhkan penanganan khusus agar tidak menyerap air selama proses pengiriman.
Ke depan, Pertamina dituntut untuk tidak hanya mengejar ekspansi titik penyaluran di SPBU, tetapi juga memetakan kepastian pasokan bahan baku bioetanol secara berkelanjutan. Tanpa integrasi yang kuat dengan industri gula dan pengolahan etanol nasional, upaya peningkatan porsi campuran bioetanol maupun perluasan distribusi ke luar Pulau Jawa berpotensi menemui hambatan pasokan di masa mendatang.
Comments (0)