Sep 17, 2026
Nasional

JAKARTA — Pemerintah Genjot Mitigasi Karhutla Hadapi Kemarau Panjang

Asap tipis memancar dari sela-sela tanah gambut yang mengering di kawasan Sumatra dan Kalimantan. Di bawah terik matahari kemarau panjang, aroma vegetasi t

JAKARTA — Pemerintah Genjot Mitigasi Karhutla Hadapi Kemarau Panjang

Asap tipis memancar dari sela-sela tanah gambut yang mengering di kawasan Sumatra dan Kalimantan. Di bawah terik matahari kemarau panjang, aroma vegetasi terbakar mulai menyengat udara—menjadi sinyal bahaya ekologis yang berulang saban tahun. Menghadapi ancaman krisis tahunan ini, pemerintah meluncurkan strategi mitigasi terpadu untuk menekan risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) sebelum api merambat tak terkendali.

Tim investigator Beritadua.com mengamati pergeseran pola penanganan di lapangan. Langkah pencegahan kini mengedepankan pendekatan berbasis teknologi tinggi dan diplomasi komunitas, menggeser paradigma lama yang berfokus pada pemadaman reaktif saat api sudah meluas. Berdasarkan pemetaan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak kemarau tahun ini berpotensi memicu kekeringan ekstrem di enam provinsi prioritas karhutla.

Pemetaan Zona Merah dan Operasi Teknologi Mitigasi

Guna mengantisipasi bencana lingkungan ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta TNI/Polri telah menyiagakan ribuan personel dan sistem pemantauan satelit real-time. Fokus utama dialokasikan pada ekosistem gambut dalam yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran paling masif.

Provinsi Rawan Estimasi Luas Gambut (Ha) Fokus Mitigasi Utama
Riau 5.000.000 Hujan Buatan (TMC) & Sekat Kanal
Kalimantan Tengah 3.000.000 Patroli Terpadu & Wetting Gambut
Sumatra Selatan 1.200.000 Monitoring Satelit & Helikopter WB

Penggunaan Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) menjadi salah satu benteng pertahanan utama. Armada pesawat penyebar garam dapur (NaCl) dikerahkan ke awan-awan konvektif untuk memicu hujan buatan sebelum kekeringan parah melanda area yang sulit dijangkau.

"Mitigasi kali ini bukan sekadar respons darurat, melainkan upaya sistematis. Kami memastikan ketersediaan air di kawasan gambut tetap terjaga melalui pembasahan ulang (rewetting) dan pembangunan sekat kanal secara intensif," ujar Dr. Bambang Heru, pakar tata kelola ekosistem gambut.

Tantangan Lahan Gambut dan Penegakan Hukum

Penyebab utama Karhutla kerap berakar dari praktik penyiapan lahan dengan cara membakar karena dianggap berbiaya paling murah. Pada lahan gambut, api yang membakar bagian permukaan sering kali merambat turun hingga kedalaman 2 hingga 4 meter di bawah tanah, membuat pemadaman darat menjadi sangat rumit dan memakan waktu berminggu-minggu.

Di sisi lain, penegakan hukum terhadap pembuat api menjadi pilar krusial. Polisi dan Penegak Hukum (Gakkum) KLHK menegaskan tidak akan mengampuni oknum perorangan maupun korporasi yang sengaja membakar lahan demi pembersihan lahan.

"Kita tidak boleh membiarkan jutaan warga kembali menghirup asap beracun hanya demi efisiensi biaya pembukaan lahan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab," tegas seorang penyidik Gakkum KLHK saat ditemui di posko pemantauan.

Evaluasi Strategi Jangka Panjang

Pencegahan Karhutla tidak cukup hanya mengandalkan operasional helikopter pemadam (water bombing) yang menyedot anggaran hingga ratusan miliar rupiah per musim kemarau. Pendekatan berbasis komunitas melalui program kesadaran lokal dinilai jauh lebih berdaya guna.

  • Restorasi Gambut: Pembasahan kembali area gambut yang terdegradasi untuk menjaga kelembapan alami.
  • Patroli Mandiri Desa: Penguatan garda terdepan masyarakat lokal di zona rawan konflik lahan.
  • Penegakan Sanksi Tegas: Penerapan sanksi administratif, pidana, hingga pencabutan izin bagi perusahaan yang terbukti lalai.

Kemarau panjang tahun ini menjadi ujian nyata bagi konsistensi mitigasi pemerintah. Efektivitas komitmen yang digelorakan saat ini akan teruji oleh sejauh mana langit Sumatra dan Kalimantan dapat tetap bersih dari kabut asap yang merenggut kesehatan serta ketahanan ekonomi warga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User