Sep 10, 2026
Nasional

JAKARTA — Kredivo Sebut Mayoritas Pengguna Gunakan PayLater untuk Modal Usaha

Deru mesin kendaraan pengantar barang dan kesibukan para pedagang mikro di sudut-sudut kota kini menyimpan cerita baru. Di balik layar ponsel pintar yang m

JAKARTA — Kredivo Sebut Mayoritas Pengguna Gunakan PayLater untuk Modal Usaha

Deru mesin kendaraan pengantar barang dan kesibukan para pedagang mikro di sudut-sudut kota kini menyimpan cerita baru. Di balik layar ponsel pintar yang mereka genggam, ada pergeseran peta keuangan digital yang berlangsung senyap namun masif. Fasilitas buy now pay later (BNPL) atau PayLater, yang selama ini dicap sebagai pemicu perilaku konsumtif generasi muda untuk membeli pakaian trendi hingga gawai terbaru, kini telah berganti wajah menjadi mesin penggerak ekonomi riil.

Di tangan para pemilik warung kelontong, pedagang kuliner rumahan, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), aplikasi kredit digital ini bertransformasi menjadi instrumen penyelamat rantai pasok. Kecepatan transaksi dan kemudahan akses menjadikannya pilihan utama ketika perputaran arus kas terancam macet di tengah melambatnya dinamika ekonomi harian.

Mengurai Data: Garis Tipis Antara Konsumsi dan Pembiayaan Modal

Temuan di lapangan ini sejalan dengan statistik internal yang dirilis oleh penyedia layanan keuangan digital terkemuka. Co-Founder dan Presiden Direktur Kredivo Indonesia, Umang Rustagi, mengungkapkan fakta signifikan mengenai tren penggunaan platformnya. Ia menegaskan bahwa lebih dari 50 persen pengguna Kredivo kini memanfaatkan PayLater untuk kebutuhan produktif, khususnya sebagai penyokong modal usaha mikro.

Pergeseran ini menandai babak baru dalam industri pembiayaan berbasis teknologi (*fintech*). Penggunaan dana tidak lagi didominasi oleh transaksi barang-barang sekunder, melainkan beralih ke pembelian bahan baku, inventaris barang dagangan, hingga alat-alat penunjang operasional bisnis harian.

"Kami melihat dinamika yang sangat menarik di mana masyarakat mulai memanfaatkan limit pembiayaan digital ini untuk memutar roda bisnis mereka. PayLater bukan lagi sekadar pemuas gaya hidup konsumtif, melainkan instrumen ekonomi yang inklusif bagi sektor riil mikro," ungkap Co-Founder Kredivo Indonesia Umang Rustagi.

Kondisi ini dipicu oleh terbatasnya akses UMKM terhadap perbankan formal (*unbanked* dan *underbanked*). Birokrasi yang rumit, persyaratan agunan fisik, serta proses persetujuan yang memakan waktu lama membuat kredit perbankan konvensional sering kali tak terjangkau bagi pedagang skala kecil yang membutuhkan suntikan modal instan.

Perbandingan Komparatif: Akses Pembiayaan Modal UMKM

Untuk memahami mengapa modal berbasis PayLater kian diminati oleh sektor usaha mikro dibanding pembiayaan konvensional, berikut adalah perbandingan karakter dari kedua instrumen keuangan tersebut:

Indikator Evaluasi Kredit Perbankan Konvensional PayLater / Pembiayaan Digital
Waktu Persetujuan 3 hingga 14 hari kerja Hitungan menit hingga jam
Persyaratan Agunan Wajib (Aset fisik seperti sertifikat/BPKB) Tanpa agunan fisik (Skor kredit data alternatif)
Fleksibilitas Nominal Skala menengah-besar (Plafon tinggi) Skala mikro-kecil (Plafon disesuaikan kebutuhan)
Target Penggunaan Ekspansi bisnis jangka panjang Modal kerja harian & persediaan barang ekspres

Sisi Gelap dan Tantangan Tata Kelola Keuangan

Kendati menawarkan kemudahan tanpa tanding, penggunaan PayLater untuk modal usaha bukannya tanpa risiko. Pengamat ekonomi mengingatkan bahwa fleksibilitas pembiayaan digital ini harus diimbangi dengan literasi keuangan yang mumpuni dari para pelaku usaha. PayLater kini menjadi napas buatan bagi pelaku usaha kecil yang kesulitan menembus tembok birokrasi perbankan konvensional, namun tanpa perhitungan matang, instrumen ini bisa menjadi jebakan utang berantai.

Suku bunga harian atau bulanan serta denda keterlambatan pada platform fintech umumnya berbeda dibanding kredit usaha rakyat (KUR) yang disubsidi pemerintah. Jika perputaran modal usaha mikro mengalami kerugian atau kemacetan arus kas, beban cicilan PayLater berpotensi menggerus margin keuntungan secara drastis, yang pada akhirnya memicu risiko kredit bermasalah atau *non-performing loan* (NPL).

Oleh karena itu, penyedia platform seperti Kredivo dituntut tidak hanya menyalurkan pembiayaan secara agresif, tetapi juga memperketat kecerdasan algoritma penilaian risiko (*credit scoring*) dan memperluas program edukasi finansial. Transformasi PayLater menjadi alat produksi adalah sinyal positif bagi inklusi keuangan nasional, asalkan diiringi dengan mitigasi risiko yang ketat dan tata kelola pinjaman yang bertanggung jawab.

Lebih dari 50% pengguna Kredivo memanfaatkan pembiayaan digital untuk kebutuhan produktif dan modal kerja harian. Baca analisis lengkapnya di Beritadua.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User