Oct 19, 2026
Bisnis

IVES 2026 Hadirkan Kalkulator Dampak Ekonomi Event

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per akhir 2025, industri penyelenggaraan acara di Indonesia mencatat kontribusi terhadap produk domestik bruto nasional yang terus mengalami...

IVES 2026 Hadirkan Kalkulator Dampak Ekonomi Event

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per akhir 2025, industri penyelenggaraan acara di Indonesia mencatat kontribusi terhadap produk domestik bruto nasional yang terus mengalami kenaikan, dengan tren pertumbuhan year-on-year mencapai dua digit dalam tiga tahun terakhir. Namun, hingga kini belum ada instrumen baku yang mampu mengukur secara presisi berapa nilai ekonomi riil dari sebuah festival, konferensi, atau konser musik terhadap perekonomian daerah maupun nasional. Kesenjangan metodologis inilah yang coba dijawab melalui forum Indonesia Event Management Summit (IVES) 2026, yang memperkenalkan sebuah kalkulator pengukur dampak ekonomi event sebagai kerangka kerja baru bagi para pelaku industri.

Urgensi Standarisasi Pengukuran Dampak Ekonomi

Selama ini, perhitungan dampak ekonomi sebuah acara kerap bersandar pada estimasi jumlah pengunjung dan belanja rata-rata yang bersifat sporadis. Akibatnya, angka yang dipublikasikan sering kali tidak konsisten antara satu penyelenggara dengan penyelenggara lain, sehingga menyulitkan pemerintah daerah dalam menyusun proyeksi anggaran maupun mengevaluasi kelayakan insentif. Kehadiran kalkulator ini diharapkan mampu menciptakan standar pengukuran yang seragam, mencakup variabel seperti pengeluaran delegasi, okupansi hotel, konsumsi lokal, hingga efek berganda terhadap sektor transportasi dan kuliner.

Dari sisi metodologi, pendekatan yang ditawarkan mengadopsi kerangka input-output multiplier, yakni sebuah model ekonomi yang menghitung bagaimana satu rupiah belanja pengunjung berputar ulang di dalam perekonomian lokal sebelum akhirnya keluar sebagai impor atau tabungan. Dengan pendekatan ini, penyelenggara dapat memisahkan antara dampak langsung, dampak tidak langsung, dan dampak terinduksi dari sebuah kegiatan.

Pro: Transparansi Data dan Daya Tarik Investasi

Di satu sisi, kehadiran alat ukur ini dinilai sebagai terobosan yang mampu meningkatkan kredibilitas industri event di mata investor dan pemerintah. Selama ini, banyak penyelenggara kesulitan mengakses pembiayaan karena tidak mampu menyajikan studi kelayakan berbasis data kuantitatif. Dengan adanya angka dampak ekonomi yang terstandardisasi, valuasi sebuah event menjadi lebih mudah dibandingkan, sehingga menarik minat portofolio investor yang selama ini menahan diri karena tingginya risiko ketidakpastian.

Selain itu, data yang rapi memungkinkan pemerintah daerah menyusun kebijakan berbasis bukti. Alih-alih menggelontorkan dana tanpa arah, pemangku kepentingan bisa menilai rasio antara biaya penyelenggaraan dan manfaat ekonomi yang dihasilkan. Beberapa studi internasional bahkan menunjukkan bahwa setiap satu dolar belanja penyelenggaraan event berkualitas dapat menghasilkan tiga hingga lima dolar aktivitas ekonomi tambahan di wilayah tuan rumah.

"Tanpa pengukuran yang konsisten, industri event akan selalu dipandang sebagai sektor sekunder, padahal kontribusinya terhadap lapangan kerja dan perputaran likuiditas daerah sangat besar," ujar seorang pelaku industri penyelenggara acara dalam forum tersebut, menggambarkan kebutuhan mendesak akan standarisasi ini.

Kontra: Keterbatasan Metodologi dan Risiko Interpretasi Berlebih

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa kalkulator semacam ini bukan tanpa kelemahan. Kritik utama menyasar asumsi multiplier yang sering kali bersifat statis dan seragam antarwilayah. Padahal, struktur ekonomi setiap daerah berbeda. Wilayah dengan ketergantungan tinggi pada pasokan dari luar daerah akan memiliki multiplier lebih rendah dibandingkan daerah dengan rantai pasok lokal yang kuat. Jika asumsi ini tidak disesuaikan, hasil perhitungan bisa menciptakan ilusi dampak ekonomi yang jauh lebih besar dari kenyataan.

Risiko lain adalah double counting atau penghitungan ganda, di mana belanja yang sama dihitung berulang di beberapa kategori. Selain itu, ada bahaya bahwa angka dampak ekonomi digunakan sebatas alat legitimasi politik untuk memperkuat argumen pengucuran anggaran publik, tanpa diimbangi evaluasi terhadap dampak sosial dan lingkungan. Sentimen pasar terhadap industri event memang sedang positif, tetapi fondasi metodologis yang lemah berpotensi menggerus kepercayaan dalam jangka panjang.

Untuk itu, pengembangan kalkulator ini perlu disertai proses audit independen, pembaruan basis data secara berkala, serta pelibatan akademisi dalam validasi model. Tanpa tata kelola data yang ketat, alat ukur secanggih apa pun hanya akan berujung pada kesimpulan yang menyesatkan. Pada akhirnya, nilai sesungguhnya dari inisiatif IVES 2026 terletak pada komitmen untuk terus memperbaiki metodologi, bukan sekadar menghasilkan angka besar yang enak didengar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User