Oct 05, 2026
Hukum

Itera Hadirkan Superblok Komersial dan Panggung Sineas Lokal

Langit Lampung Selatan menyaksikan dua denyut baru yang saling memperkuat di Institut Teknologi Sumatera (Itera). Satu denyut membawa visi ekonomi dan ruan

Itera Hadirkan Superblok Komersial dan Panggung Sineas Lokal

Langit Lampung Selatan menyaksikan dua denyut baru yang saling memperkuat di Institut Teknologi Sumatera (Itera). Satu denyut membawa visi ekonomi dan ruang hidup modern, denyut satunya lagi mengalirkan energi budaya dan identitas. Dalam kurun waktu hanya tiga hari, kampus yang berdiri di atas lahan 275 hektare itu secara resmi memperkenalkan rencana pengembangan Kawasan Kolaborasi Itera (KKI) seluas 42 hektare sekaligus menggelar perhelatan sinema lokal Layar Sumatera yang mempertemukan karya sineas dari seluruh pelosok pulau. Dua peristiwa ini menandai babak baru: Itera bukan lagi sekadar menara gading pendidikan, melainkan mesin penggerak ekonomi dan kebudayaan yang mencoba merangkul pemerintah, investor, dan komunitas seni dalam satu ekosistem terpadu.

Dari Visi Kampus Menjadi Superblok Terpadu

Pada Selasa, 14 Juli 2026, Aula Gedung Kuliah Umum (GKU) 2 Itera menjadi saksi pertemuan para pemangku kepentingan dalam acara Investor Gathering Kawasan Komersil Itera bertema "Sinergi Inovasi Berdampak, Untuk Kemajuan Bersama". Di hadapan perwakilan pemerintah provinsi dan sejumlah calon investor, Ketua Tim Pengembangan Kawasan Komersial Itera, M. Bobby Rahman, S.T., M.Si. (Han), Ph.D., memaparkan cetak biru sebuah kawasan berkonsep superblok yang tidak sekadar mengejar nilai komersial, tetapi juga didesain untuk memperkuat pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi.

"Kami menyebutnya Kawasan Kolaborasi Itera agar kita bisa berkolaborasi antara pemerintah, badan usaha, dan perguruan tinggi. Melalui proyek ini, kami ingin generate income yang pada dasarnya nanti akan kembali untuk mendukung Tridharma Itera,"

ungkap Bobby Rahman, menegaskan bahwa pendapatan dari pengelolaan lahan seluas 42 hektare itu akan diputar kembali demi menopang riset, pengajaran, dan pengabdian masyarakat. Konsep superblok yang diusung tidak main-main. Rencana induk mencakup pusat perbelanjaan, hotel, area komersial, ruang publik, dan fasilitas pendukung lainnya yang diharapkan menciptakan ekosistem walkable dan berkelanjutan. Langkah ini sejalan dengan strategi banyak perguruan tinggi negeri yang mulai mengoptimalkan aset lahan sebagai sumber pendapatan mandiri guna mengurangi ketergantungan pada anggaran negara.

Yang menarik, desain KKI dirancang dengan pendekatan kolaborasi triple helix: akademisi menyediakan riset dan inovasi, pemerintah memberi dukungan regulasi dan infrastruktur, sementara badan usaha menyuntikkan modal serta keahlian pengelolaan. Master plan yang disusun Tim Bobby Rahman sengaja membuka ruang bagi keterlibatan swasta secara luas, mulai dari tahap perencanaan hingga operasional. Diharapkan, dalam tiga hingga lima tahun ke depan, kawasan ini sudah bisa beroperasi sebagian dan menjadi destinasi baru di sekitar Gerbang Tol Trans Sumatera.

Layar Sumatera: Identitas Lokal Menembus Batas

Tiga hari sebelum keramaian investor gathering, tepatnya Sabtu, 11 Juli 2026, Kebun Raya Itera berubah menjadi bioskop terbuka yang intim sekaligus megah. Di bawah rimbun pepohonan, layar besar memantulkan gambar-gambar dari Aceh hingga Lampung: program Layar Sumatera dalam naungan Tanah Lado International Film Festival (TLIFF) 2026 kembali digelar, mempertegas posisi Itera sebagai simpul kebudayaan. Puluhan film pendek dan dokumenter diputar, masing-masing membawa narasi lokal yang kuat—mitos masyarakat pesisir, ironi pembangunan di pelosok, hingga potret ketahanan perempuan adat.

Tidak seperti festival pada umumnya yang berakhir begitu lampu bioskop menyala, Layar Sumatera justru menghidupkan sesi diskusi pasca-pemutaran yang mempertemukan sutradara, penulis skenario, dan penonton dalam satu forum setara. Narasumber yang dihadirkan berasal dari berbagai latar: pengamat film, akademisi Itera, hingga praktisi yang pernah membawa karya Sumatera ke festival internasional. Mereka membedah bagaimana cerita-cerita lokal bisa dikemas dengan bahasa visual yang kompetitif tanpa kehilangan roh aslinya.

Para pembuat film muda yang hadir mendapatkan pelajaran berharga bahwa keberagaman budaya Sumatera adalah tambang emas narasi yang belum banyak tergarap. Layar Sumatera sekaligus menjadi pembuktian bahwa infrastruktur kreatif—seperti kebun raya yang disulap menjadi ruang pemutaran—sama pentingnya dengan talenta di balik kamera. Dengan dukungan lokasi seperti ini, festival film tidak lagi eksklusif milik kota-kota besar; kota kecil seperti Lampung Selatan pun bisa menjadi tuan rumah perbincangan sinema nasional.

Sinergi Ekonomi dan Budaya dalam Satu Napas

Jika dilihat sekilas, KKI dan Layar Sumatera mungkin tampak sebagai dua agenda terpisah. Namun, mencermati lebih dalam, keduanya adalah sisi dari koin yang sama. Itera tengah membangun fondasi ekosistem yang menggabungkan pertumbuhan ekonomi dengan penguatan identitas. Kawasan komersial superblok yang akan dibangun nantinya bisa menjadi rumah bagi ruang-ruang kreatif permanen—galeri, bioskop alternatif, atau studio produksi—yang menyokong keberlanjutan acara seperti Layar Sumatera. Sebaliknya, gelaran budaya semacam TLIFF mampu menjadi magnet yang meningkatkan trafik kunjungan ke kawasan komersial, menciptakan siklus yang saling menguntungkan.

Beberapa kota pendidikan di dunia seperti Austin (Texas) atau Cambridge (Inggris) telah membuktikan bahwa ketika universitas membuka diri terhadap investasi dan industri kreatif, lompatan ekonomi lokal terjadi secara signifikan. Itera, dengan posisinya sebagai institut teknologi terdepan di Sumatera, mencoba mengadaptasi model tersebut dengan sentuhan lokal. Dukungan Pemerintah Provinsi Lampung yang turut menandatangani pakta integritas KKI menjadi sinyal politik positif bahwa proyek ini mendapat payung kebijakan yang memadai.

Sementara itu, komunitas film Sumatera yang selama ini kerap mengeluhkan minimnya ruang apresiasi, kini memiliki panggung yang terlembaga. Keberadaan Kebun Raya Itera sebagai lokasi tetap Layar Sumatera adalah contoh konkret bagaimana aset kampus didayagunakan untuk kepentingan publik yang lebih luas, jauh melampaui dinding kelas dan laboratorium.

Prospek dan Harapan

Rencana pengembangan 42 hektare lahan menjadi superblok komersial tentu tidak lepas dari tantangan: pendanaan, perizinan, dampak lingkungan, dan yang paling penting, menjaga keseimbangan agar kampus tidak kehilangan roh akademiknya. Namun, strategi yang menempatkan pendapatan kembali ke Tridharma bisa menjadi tameng jika tata kelolanya transparan. Di sisi lain, keberhasilan Layar Sumatera mendatangkan antusiasme tinggi dari publik adalah modal sosial yang tak ternilai, menunjukkan bahwa ada selera dan apresiasi terhadap konten lokal berkualitas.

Ke depan, publik menantikan seberapa cepat groundbreaking KKI dilakukan dan bagaimana desain akhir superblok itu benar-benar mampu merangkul fungsi komersial sekaligus ruang publik yang inklusif. Untuk Layar Sumatera, agenda tahunan ini diharapkan bisa berkembang menjadi laboratorium produksi yang menghubungkan mahasiswa Itera dengan sineas profesional, menciptakan ekosistem perfilman Sumatera yang mandiri dan berkarakter. Yang pasti, Juli 2026 telah mengukir tinta tebal dalam sejarah Itera: kampus ini kini berdiri sebagai entitas yang merangkul pasar dan panggung dalam satu tarikan napas.

[SOCIAL_TWEET]: Superblok 42 hektare dan panggung sineas Sumatera—Itera buktikan kampus bisa jadi mesin ekonomi sekaligus rumah budaya. #KKI #LayarSumatera[SOCIAL_TG]: 🌱 Itera tidak main-main: 42 hektare lahan disulap jadi superblok komersial, Kebun Raya jadi bioskop sineas lokal. Kolaborasi triple helix berpadu dengan energi kreatif Sumatera. Baca liputannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User