Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per awal 2026, sektor penyelenggaraan acara (event) di Indonesia terus menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan. Industri ini tidak lagi dipandang sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan sebagai penggerak ekonomi riil yang menyentuh berbagai lapisan usaha, mulai dari perhotelan, transportasi, katering, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dalam kerangka itu, Indonesia Event Management Summit (IVES) 2026 memperkenalkan sebuah sistem kalkulator yang dirancang untuk mengukur dampak ekonomi dari setiap event secara lebih terukur dan transparan.
Mengapa Pengukuran Dampak Ekonomi Menjadi Krusial
Selama ini, perhitungan kontribusi ekonomi sebuah acara kerap bersifat estimasi kasar. Penyelenggara biasanya hanya menghitung jumlah peserta, lama kegiatan, dan belanja langsung, tanpa mempertimbangkan efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian daerah. Padahal, dalam terminologi ekonomi, multiplier effect menggambarkan bagaimana satu rupiah belanja peserta dapat berputar beberapa kali di ekonomi lokal, menciptakan pendapatan tambahan bagi pelaku usaha dan tenaga kerja.
Kehadiran kalkulator ini disebut sebagai upaya membangun fundamental industri event yang lebih sehat. Dengan data yang lebih akurat, pelaku industri dapat menyusun proyeksi yang lebih realistis, sementara pemerintah daerah punya dasar kuat untuk menilai kelayakan investasi infrastruktur penunjang acara. Di satu sisi, alat ukur ini berpotensi meningkatkan kredibilitas industri di mata investor dan sponsor. Di sisi lain, muncul pertanyaan soal seberapa valid metode perhitungan yang digunakan, mengingat karakteristik setiap daerah dan jenis acara sangat beragam.
Pro dan Kontra Seputar Standarisasi Perhitungan
Pro: Standarisasi pengukuran memungkinkan perbandingan antar-event secara year-on-year, sehingga terlihat mana kegiatan yang benar-benar memberikan dampak ekonomi besar dan mana yang hanya ramai sesaat. Hal ini juga memudahkan audit dan evaluasi anggaran, terutama untuk event yang dibiayai dana publik. Kontra: Sejumlah pengamat menilai kalkulator semacam ini berisiko menyederhanakan realitas. Belanja peserta yang tercatat belum tentu seluruhnya terserap ke ekonomi lokal; sebagian bisa bocor ke pemasok luar daerah atau bahkan luar negeri, yang dalam istilah ekonomi disebut kebocoran (leakage).
Selain itu, ada kekhawatiran bahwa angka dampak ekonomi yang tinggi bisa menjadi alat legitimasi untuk menggelar event besar tanpa memperhatikan keberlanjutan. Jika hanya mengejar nilai nominal, industri berisiko mengabaikan aspek valuasi jangka panjang seperti dampak lingkungan dan sosial. Karena itu, kalkulator ini idealnya dilengkapi indikator non-ekonomi agar analisisnya berimbang.
Implikasi bagi Likuiditas dan Sentimen Pasar
Dari kacamata makro, geliat industri event berkaitan erat dengan likuiditas sektor jasa dan konsumsi rumah tangga. Ketika event besar digelar, terjadi peningkatan permintaan kamar hotel, tiket transportasi, dan jasa katering. Ini mendorong perputaran uang di daerah dan memperkuat sentimen pasar terhadap sektor pariwisata. Namun, efeknya sering bersifat sementara. Begitu acara usai, aktivitas ekonomi bisa kembali normal, sehingga dampaknya tidak selalu tercermin pada indeks kinerja ekonomi daerah dalam jangka panjang.
Risiko lain adalah capital outflow jika penyelenggara dan peserta lebih banyak menggunakan penyedia jasa asing. Untuk itu, penguatan rantai pasok lokal menjadi prasyarat agar dampak ekonomi benar-benar tinggal di dalam negeri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar produk domestik bruto, sehingga setiap rupiah yang berputar di sektor event berpotensi memperkuat fondasi konsumsi nasional.
"Pengukuran dampak ekonomi bukan sekadar angka, tetapi alat pengambilan keputusan agar industri event tumbuh berkelanjutan," ujar seorang pelaku industri dalam forum tersebut.
Ke depan, keberhasilan kalkulator ini bergantung pada kualitas data dan kesediaan pelaku industri mengisi data secara jujur. Tanpa itu, alat secanggih apa pun hanya menghasilkan portofolio angka tanpa makna. Kolaborasi antara penyelenggara, pemerintah, dan akademisi menjadi kunci agar metodologi terus disempurnakan, sehingga industri event dapat berkontribusi nyata bagi perekonomian nasional, bukan sekadar hingar-bingar sesaat.
Comments (0)