Indosat, Nokia, dan NVIDIA Bangun Infrastruktur AI Terbesar di Asia Tenggara

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika per kuartal II 2026, nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai USD 130 miliar pada tahun 2030, dengan kontribusi signifikan dari ado...

Aug 07, 2026 - 12:40
0 0
Indosat, Nokia, dan NVIDIA Bangun Infrastruktur AI Terbesar di Asia Tenggara

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika per kuartal II 2026, nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai USD 130 miliar pada tahun 2030, dengan kontribusi signifikan dari adopsi kecerdasan buatan atau AI. Menyambut proyeksi tersebut, PT Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat) resmi meluncurkan platform Zankore, hasil kolaborasi strategis dengan Ooredoo, Nokia, dan NVIDIA. Proyek ini disebut-sebut sebagai infrastruktur AI terbesar di Asia Tenggara, dengan kapasitas komputasi hingga 200 petaflops, atau setara dengan kemampuan memproses data 200 juta kali lebih cepat dibandingkan komputer konvensional.

Arsitektur dan Dampak Ekonomi

Zankore dirancang sebagai platform AI-as-a-Service yang mengintegrasikan GPU superkomputer NVIDIA H200, jaringan optik Nokia, dan data center Indosat di Batam dan Jakarta. Berdasarkan analisis internal Indosat, investasi awal proyek ini mencapai USD 500 juta, dengan target pendapatan tahunan sebesar USD 150 juta pada tahun ketiga. Di satu sisi, infrastruktur ini diharapkan mempercepat transformasi digital di sektor kesehatan, pendidikan, dan logistik, yang selama ini terkendala oleh keterbatasan kapasitas komputasi. Di sisi lain, proyek ini juga membuka peluang bagi startup lokal untuk mengembangkan model AI tanpa harus bergantung pada server di luar negeri, yang selama ini menimbulkan risiko latensi dan kepatuhan data.

Menurut proyeksi Bank Indonesia, adopsi AI dapat meningkatkan produktivitas ekonomi nasional sebesar 1,5% per tahun hingga 2030. Namun, analis memperingatkan bahwa keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia dan regulasi. "Infrastruktur tanpa talenta dan kebijakan yang mendukung hanya akan menjadi pameran teknologi," ujar seorang ekonom dari Universitas Indonesia, yang enggan disebut namanya.

Pro dan Kontra

Pro: Zankore menawarkan keunggulan kompetitif bagi Indonesia dalam menarik investasi asing. Data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan bahwa minat investor teknologi di kawasan Asia-Pasifik meningkat 35% year-on-year setelah pengumuman proyek ini. Dengan kapasitas yang lebih besar dari pusat data AI di Singapura, Indonesia berpotensi menjadi hub AI regional, yang pada gilirannya meningkatkan ekspor jasa digital dan menciptakan lapangan kerja berketerampilan tinggi.

Kontra: Di sisi lain, proyek ini membutuhkan energi listrik yang sangat besar, diperkirakan mencapai 150 MW per tahun, yang setara dengan konsumsi listrik 150.000 rumah tangga. Jika sumber energinya masih mengandalkan batu bara, jejak karbon akan meningkat signifikan, bertentangan dengan komitmen net-zero emission pemerintah pada 2060. Selain itu, risiko capital outflow juga muncul jika keuntungan proyek lebih banyak dinikmati oleh pemegang saham asing, mengingat Indosat mayoritas dimiliki oleh Ooredoo asal Qatar dan CK Hutchison asal Hong Kong.

Sentimen Pasar dan Proyeksi

Sentimen pasar terhadap pengumuman ini cukup positif. Harga saham Indosat (ISAT) mengalami kenaikan 4,2% pada hari pertama perdagangan setelah peluncuran, dengan volume transaksi meningkat dua kali lipat dari rata-rata harian. Analis dari BNI Sekuritas menilai bahwa valuasi ISAT kini lebih menarik, dengan rasio price-to-earnings (PER) di kisaran 18,5 kali, masih di bawah rata-rata industri telekomunikasi regional yang mencapai 22 kali. Namun, mereka mengingatkan bahwa likuiditas jangka pendek bisa terpengaruh oleh belanja modal yang tinggi, yang tercermin dari rasio utang terhadap EBITDA yang naik dari 1,8 kali menjadi 2,4 kali.

Dalam jangka panjang, proyeksi pertumbuhan ekonomi digital di Asia-Pasifik yang mencapai 12% per tahun (menurut laporan e-Conomy SEA 2025) menjadi faktor fundamental yang mendukung keberlanjutan proyek ini. Pemerintah Indonesia juga telah menerbitkan Peraturan Presiden No. 10/2026 tentang percepatan adopsi AI, yang memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang berinvestasi di pusat data. "Ini adalah langkah berani yang bisa mengubah lanskap digital regional, tetapi eksekusi di lapangan akan menentukan apakah kita menjadi pemain utama atau hanya penonton," pungkas ekonom tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User