India Pasar Saham Paling Tak Disukai di Asia, Indonesia Justru Dilirik

Berdasarkan laporan hasil survei manajer dana global yang dirilis Bank of America (BofA) pada kuartal terbaru, posisi India sebagai tujuan investasi saham di kawasan Asia mengalami penurunan signifika...

Aug 22, 2026 - 04:53
0 0
India Pasar Saham Paling Tak Disukai di Asia, Indonesia Justru Dilirik

Berdasarkan laporan hasil survei manajer dana global yang dirilis Bank of America (BofA) pada kuartal terbaru, posisi India sebagai tujuan investasi saham di kawasan Asia mengalami penurunan signifikan. Survei tersebut menempatkan India sebagai pasar saham yang paling tidak disukai di Asia, sebuah pembalikan tajam dibandingkan dua tahun sebelumnya ketika Negeri Bollywood masih menjadi primadona dengan arus masuk modal asing yang deras. Di sisi lain, Indonesia mulai mencuri perhatian para investor global berkat kinerja positif Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tercatat resilient di tengah gejolak ekonomi dunia.

Perubahan Peta Investasi di Asia

Hasil survei BofA menunjukkan terjadi pergeseran preferensi yang cukup dramatis dalam portofolio investor institusional. India yang sebelumnya dijuluki pasar dengan valuasi premium kini kehilangan daya tarik karena rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio) yang dinilai terlalu mahal dibandingkan fundamental ekonominya. Istilah valuasi sendiri merujuk pada penilaian wajar suatu aset berdasarkan kinerja keuangan perusahaan, dan ketika harga saham melampaui proyeksi laba, investor cenderung mengurangi eksposur. Kondisi ini diperparah oleh sentimen pasar yang mulai khawatir terhadap perlambatan pertumbuhan laba korporasi India pada tahun fiskal berjalan.

Sebagai pembanding, pada periode 2022 hingga 2024 arus modal asing ke pasar saham India mencapai rekor tertinggi dengan kenaikan year-on-year yang konsisten di atas dua digit. Namun pada tahun ini, tren tersebut berbalik arah. Data kepemilikan asing menunjukkan terjadi capital outflow dari pasar saham India selama tiga bulan berturut-turut, fenomena yang oleh analis disebut sebagai rotasi portofolio. Dana-dana global memindahkan alokasi dananya dari Mumbai menuju bursa-bursa Asia Tenggara yang dinilai lebih murah, termasuk Jakarta.

Indonesia Menjadi Alternatif Baru

Di tengah memburuknya persepsi terhadap India, Indonesia justru mengalami kenaikan minat investor. Kinerja IHSG yang mampu bertahan di zona hijau dengan penguatan indeks sebesar 8,4 persen sejak awal tahun menjadi daya tarik utama. Angka ini lebih baik dibandingkan rata-rata pergerakan indeks di kawasan yang hanya tumbuh sekitar 3,1 persen pada periode yang sama. Para pengelola dana menilai fundamental ekonomi domestik yang ditopang konsumsi rumah tangga dan ekspor komoditas masih solid, sehingga likuiditas pasar tetap terjaga.

Bank Indonesia mencatat penurunan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin sepanjang tahun ini, kebijakan yang membantu menekan biaya pendanaan korporasi dan mendorong ekspansi bisnis. Hal ini pada gilirannya memperbaiki proyeksi laba emiten dan meningkatkan daya tarik saham-saham berkapitalisasi besar di bursa Tanah Air. Survei BofA juga mencatat bahwa posisi Indonesia naik dalam peringkat preferensi investor Asia, sebuah sinyal bahwa alokasi dana global mulai bergeser ke arah pasar yang menawarkan valuasi lebih masuk akal.

Dua Sisi Analisis: Optimisme versus Kewaspadaan

Di satu sisi, pergeseran minat investor ke Indonesia merupakan kabar positif. Masuknya dana asing dapat memperkuat likuiditas, menopang nilai tukar rupiah, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan Badan Pusat Statistik berada di kisaran lima persen year-on-year hingga akhir tahun. Jika tren ini berlanjut, IHSG berpotensi menembus level tertinggi barunya dalam beberapa kuartal ke depan, dan sektor perbankan serta konsumer diperkirakan menjadi penopang utama.

Di sisi lain, para analis mengingatkan bahwa ketertarikan investor asing bersifat fluktuatif dan sangat bergantung pada sentimen pasar global. Di satu sisi, Indonesia mendapat angin segar; namun di sisi lain, ketergantungan pada aliran modal asing membuat pasar domestik rentan terhadap gejolak eksternal seperti kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat. Apabila Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga, risiko capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, akan meningkat kembali. Seorang kepala riset sebuah sekuritas nasional menegaskan bahwa investor perlu membedakan antara tren jangka pendek dan fundamental jangka panjang.

Perputaran dana global memang sedang berpihak pada Indonesia, tetapi jangan pernah melupakan bahwa sentimen pasar bisa berbalik dalam sekejap. Yang menentukan adalah seberapa kuat fundamental ekonomi kita menahan guncangan, bukan sekadar angka indeks hari ini.

Proyeksi ke Depan

Untuk enam bulan ke depan, proyeksi para ekonom terbelah. Sebagian optimistis bahwa rotasi portofolio dari India menuju Asia Tenggara akan berlangsung hingga akhir tahun, mengingat valuasi bursa India yang masih tinggi dibandingkan rata-rata historisnya. Sebagian lain mengingatkan bahwa pasar saham Indonesia juga menghadapi tantangan domestik, seperti defisit fiskal yang perlu dijaga dan daya beli masyarakat kelas menengah yang belum sepenuhnya pulih.

Kesimpulannya, perubahan persepsi investor terhadap India dan Indonesia mencerminkan dinamika normal dalam siklus pasar modal global. Bagi pembaca awam, hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa pergerakan indeks tidak boleh dijadikan satu-satunya acuan. Rasio valuasi, arus likuiditas, dan fundamental makroekonomi tetap menjadi bingkai analisis yang lebih utuh. Beritadua akan terus memantau perkembangan ini dan menyajikan analisis dua sisi yang berimbang bagi para pembaca setia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User