Indeks Literasi Keuangan RI 2026 Naik ke 69,57%, Gen X Terdepan
Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi keuangan nasional tercatat mencapai 69,57%, mengalami kenaikan d...
Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi keuangan nasional tercatat mencapai 69,57%, mengalami kenaikan dari 65,43% pada survei 2024. Kenaikan sekitar 4,14 poin persentase dalam dua tahun ini memperpanjang tren perbaikan yang terlihat sejak 2022, ketika indeks masih berada di level 49,68%. Secara year-on-year, capaian ini menandakan masyarakat Indonesia semakin memahami cara mengelola keuangan, meski jalan menuju target jangka panjang masih panjang.
Sebagai catatan, indeks literasi keuangan mengukur tingkat pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku masyarakat dalam mengelola keuangan serta memanfaatkan produk dan jasa keuangan formal. Indeks ini berbeda dengan inklusi keuangan, yang mengukur seberapa luas akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal seperti rekening bank, kredit, asuransi, hingga investasi.
Gen X Memimpin, Bukan Gen Alpha
Jika dirinci berdasarkan kelompok umur, posisi teratas tidak ditempati generasi termuda. Generasi X, yakni kelompok kelahiran sekitar 1965 hingga 1980, tercatat sebagai kelompok dengan tingkat literasi keuangan paling tinggi, disusul Generasi Y atau milenial. Adapun Gen Z berada di lapisan berikutnya, sementara Gen Alpha, kelompok paling muda yang akrab dengan gawai sejak dini, justru mencatatkan tingkat literasi paling rendah.
Fenomena ini sebenarnya konsisten dengan pola survei-survei sebelumnya. Gen X umumnya berada pada fase pendapatan paling stabil, telah mengakumulasi aset, dan berpengalaman menggunakan beragam produk keuangan mulai dari deposito, asuransi, dana pensiun, hingga portofolio investasi di pasar modal. Pengalaman panjang berinteraksi dengan lembaga keuangan formal membuat pemahaman mereka lebih matang dibanding generasi muda yang sebagian besar baru memasuki dunia kerja.
Di Satu Sisi: Fundamental yang Kian Kokoh
Di satu sisi, kenaikan indeks literasi keuangan merupakan sinyal positif bagi fundamental ekonomi nasional. Masyarakat yang lebih melek keuangan cenderung lebih disiplin menabung, lebih selektif memilih instrumen investasi, dan lebih kebal terhadap jerat pinjaman online ilegal, judi daring, maupun skema investasi bodong. Dari sisi pasar modal, literasi yang membaik berpotensi memperdalam basis investor ritel domestik, memperkuat likuiditas, dan meredam volatilitas akibat sentimen pasar yang berlebihan.
Data pendukung menunjukkan jumlah investor pasar modal terus bertumbuh dalam beberapa tahun terakhir, dengan kontribusi investor lokal yang kian dominan. Kondisi ini penting untuk menjaga stabilitas indeks harga saham ketika terjadi capital outflow akibat ketidakpastian global, karena investor domestik yang literat cenderung tidak panik menjual asetnya saat pasar bergejolak.
Kenaikan literasi keuangan adalah prasyarat agar pertumbuhan inklusi tidak menimbulkan risiko baru. Akses tanpa pemahaman justru bisa menjadi bumerang bagi rumah tangga, ujar seorang ekonom pasar keuangan di Jakarta.
Di Sisi Lain: Kesenjangan Belum Teratasi
Di sisi lain, capaian 69,57% berarti masih ada sekitar 30% penduduk yang belum memiliki pemahaman keuangan memadai. Kesenjangan antarwilayah juga masih lebar: tingkat literasi di perkotaan dan Pulau Jawa secara konsisten lebih tinggi dibanding kawasan pedesaan serta Indonesia bagian timur. Selain itu, target inklusi keuangan sebesar 90% yang pernah dipatok pemerintah untuk 2024 nyatanya belum tercapai, dengan realisasi inklusi pada survei 2024 sebesar 75,02%.
Tantangan lain datang dari sisi digital. Kemudahan membuka rekening, berinvestasi lewat aplikasi, dan mengakses kredit secara daring bergerak lebih cepat ketimbang kecepatan masyarakat memahami risikonya. Rasio penggunaan produk keuangan digital yang melonjak tidak otomatis diikuti pemahaman soal valuasi aset, biaya layanan, maupun perlindungan data pribadi.
Proyeksi dan Agenda ke Depan
Dengan tren kenaikan rata-rata sekitar dua poin persentase per tahun dalam satu dekade terakhir, indeks literasi keuangan nasional diproyeksikan dapat menembus level 75% menjelang akhir dekade ini. Namun proyeksi tersebut sangat bergantung pada konsistensi program edukasi keuangan, perluasan kurikulum literasi di sekolah, serta kolaborasi regulator, industri, dan komunitas.
Pada akhirnya, kenaikan indeks literasi keuangan 2026 patut diapresiasi, tetapi bukan alasan untuk berpuas diri. Pekerjaan rumah terbesar adalah memastikan generasi muda, khususnya Gen Z dan Gen Alpha, tidak hanya menjadi pengguna aktif layanan keuangan digital, melainkan juga pengelola keuangan yang cakap. Tanpa itu, gelar raja keuangan akan tetap dipegang generasi yang lebih tua untuk waktu yang lama.
Comments (0)