INACRAFT 2026 dan Paradoks Ekonomi Kriya Nusantara
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Badan Pusat Statistik per kuartal II 2026, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 7,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional, dengan subsektor...
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Badan Pusat Statistik per kuartal II 2026, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 7,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional, dengan subsektor kriya menempati posisi kedua terbesar setelah kuliner. Pameran INACRAFT 2026 yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC) hingga 11 Oktober 2026 menjadi barometer penting bagi industri kerajinan tanah air, sekaligus cermin dari dinamika yang lebih kompleks di balik gemerlap produk bernilai estetika tinggi.
Antusiasme pengunjung yang mengamati aneka produk kerajinan menunjukkan bahwa permintaan pasar domestik terhadap karya kriya masih bertahan. Namun pertanyaannya, seberapa besar geliat pameran ini berkorelasi dengan fundamental industri secara keseluruhan?
Kinerja Sektor Kriya dalam Angka Makro
Merujuk laporan Bank Indonesia per Agustus 2026, nilai ekspor produk kerajinan nasional mencapai USD 892 juta atau setara Rp 14,3 triliun pada semester I 2026, tumbuh 5,4 persen year-on-year dibanding periode yang sama tahun 2025. Angka ini memang positif, tetapi jika dibandingkan dengan total ekspor nasional yang menembus USD 128 miliar, kontribusi kriya masih di bawah 0,7 persen.
Indeks Kepercayaan Industri (IKI) subsektor kriya pada September 2026 berada di level 52,3, sedikit di atas ambang ekspansi 50, menandakan pelaku usaha masih optimistis meski tipis. Likuiditas pelaku UMKM kriya menjadi catatan tersendiri, karena sekitar 64 persen di antaranya masih mengandalkan modal sendiri tanpa akses kredit formal.
Pro: Pameran sebagai Katalis Pasar dan Diplomasi Budaya
Di satu sisi, penyelenggaraan INACRAFT 2026 memberi ruang bagi perajin dari berbagai daerah untuk bertemu langsung dengan pembeli ritel, korporasi, hingga kurator internasional. Transaksi di ajang semacam ini kerap menjadi leading indicator permintaan ekspor kuartal berikutnya. Data Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia menunjukkan pameran berskala nasional mampu mengangkat nilai kontrak hingga Rp 780 miliar dalam satu penyelenggaraan.
Selain itu, sentimen pasar terhadap produk kriya bernilai tinggi cenderung inelastis terhadap perlambatan ekonomi. Segmen kolektor dan wisatawan premium tetap mencari keunikan, sehingga valuasi karya perajin bisa jauh melampaui biaya produksi. Ini menjadi semacam buffer bagi industri ketika permintaan massal melemah.
"Kriya bukan sekadar komoditas, tapi identitas budaya yang punya daya tarik ekonomi berkelanjutan," ujar seorang pengamat industri kreatif dalam sebuah diskusi panel ekonomi kreatif nasional.
Kontra: Struktur Biaya dan Ketergantungan Pasar Tertentu
Di sisi lain, fundamental industri kriya masih rapuh pada sisi pasokan. Sekitar 71 persen bahan baku masih dipasok dari sumber lokal yang fluktuatif, sementara biaya logistik antar-pulau menyumbang 18 sampai 25 persen dari total harga jual. Kondisi ini membuat margin perajin rentan tergerus ketika harga bahan naik, seperti yang terjadi pada awal 2026 ketika indeks harga bahan baku kriya naik 6,2 persen.
Ketergantungan pada pasar tertentu juga menjadi risiko. Proyeksi Bank Indonesia menempatkan Amerika Serikat dan Jepang sebagai tujuan utama, dengan porsi gabungan mencapai 47 persen. Perlambatan ekonomi salah satu negara tujuan berpotensi memicu capital outflow dari sektor riil dan menekan permintaan. Di saat yang sama, regenerasi perajin menjadi persoalan serius: hanya 23 persen tenaga kerja kriya berusia di bawah 35 tahun.
Dari kacamata portofolio industri, kriya masih memiliki rasio nilai tambah yang rendah, rata-rata 32 persen, jauh di bawah sektor manufaktur padat teknologi yang bisa menembus 55 persen. Ini menandakan bahwa sebagian besar keuntungan dinikmati oleh rantai distribusi hilir, bukan perajin di hulu.
Proyeksi dan Sentimen Pasar ke Depan
Ke depan, tren ekonomi kriya diperkirakan tumbuh moderat di kisaran 4,5 sampai 6 persen pada 2027, bergantung pada tiga faktor: akses pembiayaan, digitalisasi pemasaran, dan kebijakan penguatan bahan baku domestik. Pemerintah menargetkan kontribusi ekonomi kreatif naik ke 8,2 persen PDB pada 2027, namun tanpa perbaikan struktural, target tersebut berisiko menjadi proyeksi normatif semata.
Pameran seperti INACRAFT 2026 memang menampilkan wajah menjanjikan dari kriya Nusantara. Namun analisis yang berimbang menuntut kita melihat bahwa di balik kemewahan visual, ada persoalan fundamental yang belum tuntas: likuiditas perajin, daya saing rantai pasok, serta keberlanjutan sumber daya manusia. Tanpa penyelesaian itu, pertumbuhan sektor kriya akan tetap bergantung pada momentum pameran, bukan pada kekuatan fundamental yang kokoh.
Comments (0)