Oct 11, 2026
Bisnis

INACRAFT 2026 dan Denyut Ekonomi Kriya Nusantara

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Bank Indonesia per kuartal ketiga 2026, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 7,8 persen terhadap produk domestik bruto nasional, dengan subsektor kr...

INACRAFT 2026 dan Denyut Ekonomi Kriya Nusantara

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Bank Indonesia per kuartal ketiga 2026, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 7,8 persen terhadap produk domestik bruto nasional, dengan subsektor kriya menempati posisi kedua terbesar setelah kuliner. Pameran INACRAFT 2026 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC) hingga 11 Oktober 2026 menjadi cermin bagaimana geliat industri kerajinan本土 diuji di tengah tekanan global. Ajang ini bukan sekadar etalase produk mewah, melainkan barometer daya tahan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menopang sekitar 97 persen tenaga kerja sektor kreatif.

Kinerja Sektor Kriya di Tengah Ketidakpastian Global

Di satu sisi, kinerja ekspor produk kerajinan menunjukkan tren positif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor kriya dan perhiasan pada periode Januari–Agustus 2026 mencapai USD 4,2 miliar, atau mengalami kenaikan 6,3 persen year-on-year dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Permintaan dari pasar Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa terhadap produk berbasis kearifan lokal seperti batik tulis, songket, ukiran kayu, dan perak filigri tetap menjadi penopang utama. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) subsektor kriya pada September 2026 berada di level 52,4, masih di atas ambang ekspansi 50, meski tipis.

Di sisi lain, sentimen pasar domestik belum sepenuhnya pulih. Rasio konsumsi rumah tangga terhadap PDB pada semester I 2026 tercatat 53,1 persen, turun dari 54,4 persen pada periode yang sama 2025. Artinya, daya beli masyarakat kelas menengah cenderung menahan diri. Tekanan capital outflow di pasar keuangan turut memengaruhi likuiditas pelaku usaha, terutama karena suku bunga acuan Bank Indonesia yang bertahan di level 5,75 persen membuat biaya modal kerja bagi perajin kecil tetap tinggi. Inilah paradoks INACRAFT: panggung kemewahan kriya berjalan seiring kekhawatiran akan pelemahan permintaan di segmen ritel menengah bawah.

Pro dan Kontra: Antara Valuasi Estetika dan Aksesibilitas Pasar

Pro: Pameran berskala internasional seperti INACRAFT memberi ruang kurasi yang memperkuat valuasi produk kriya. Menurut ekonom kreatif dari Universitas Indonesia,

"Kriya bernilai tinggi menciptakan efek berganda bagi daerah asal, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga penguatan identitas budaya yang sulit ditiru pasar global."
Selain itu, kehadiran pembeli dari mancanegara membuka peluang kontrak jangka panjang, bukan hanya transaksi musiman. Proyeksi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menargetkan kontribusi kriya terhadap devisa mencapai USD 7 miliar pada akhir 2026.

Kontra: Kritik datang dari sisi aksesibilitas. Harga produk kriya premium di pameran ini dinilai menyasar segmen portofolio konsumen kelas atas, sehingga perajin kecil hanya menjadi pelengkap. Ketimpangan ini terlihat dari data OJK per Agustus 2026 yang menunjukkan hanya 21,4 persen UMKM kriya yang memiliki akses kredit formal, sementara sisanya bergantung pada modal sendiri atau rentenir dengan bunga tinggi. Tanpa intervensi struktural, pameran mewah berpotensi memperlebar jurang antara perajin bertahan hidup dan perajin berskala ekspor.

Fundamental dan Proyeksi ke Depan

Secara fundamental, sektor kriya memiliki ketahanan karena berbasis bahan baku lokal dan tenaga kerja padat karya. Namun, tanpa perbaikan rantai pasok dan digitalisasi pemasaran, pertumbuhan akan terbatas. Pemerintah menargetkan porsi ekonomi kreatif terhadap PDB naik ke 8,5 persen pada 2027, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,2 persen. Untuk mencapainya, likuiditas bagi perajin, perlindungan hak kekayaan intelektual, dan perluasan pasar ekspor non-tradisional menjadi kata kunci.

Kesimpulannya, INACRAFT 2026 mencerminkan dua wajah industri kriya: gemerlap valuasi estetika di satu sisi, dan kerentanan pembiayaan di sisi lain. Tren positif ekspor perlu dijaga, tetapi tanpa pemerataan manfaat, narasi kemewahan kriya hanya akan menjadi potret sebagian kecil pelaku. Sentimen pasar ke depan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan kemampuan pelaku usaha membaca perubahan selera global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User