Oct 11, 2026
Bisnis

SMEXPO Pertamina dan Dorongan UMKM Yogyakarta

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per 2025, sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. Angka ...

SMEXPO Pertamina dan Dorongan UMKM Yogyakarta

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per 2025, sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. Angka ini menjadi konteks penting ketika Pertamina SMEXPO kembali digelar di Pasar Ngasem, Yogyakarta, pada 2-4 Oktober 2026, dengan melibatkan 47 UMKM lokal sebagai peserta utama.

Penyelenggaraan pameran di ruang publik tradisional seperti Pasar Ngasem menunjukkan pergeseran pendekatan pemberdayaan usaha mikro. Alih-alih memusatkan kegiatan di pusat konvensi, kegiatan ini menyasar langsung simpul ekonomi rakyat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses pasar dan kemitraan.

Kontekstualisasi Ekonomi: Ketika UMKM Bertemu Pasar

UMKM di Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki karakteristik unik. Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UKM setempat, lebih dari 70 persen usaha mikro di wilayah ini bergerak di sektor kuliner, kriya, dan tekstil. Sektor-sektor ini sangat bergantung pada akses pasar fisik dan jejaring kemitraan untuk bertahan. Kehadiran SMEXPO di Pasar Ngasem berpotensi mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli potensial, distributor, hingga mitra korporasi.

Secara makro, pertumbuhan ekonomi DIY pada triwulan pertama 2026 tercatat sekitar 5,1 persen year-on-year, sedikit di atas rata-rata nasional. Namun, laju ini tidak otomatis dinikmati pelaku usaha mikro. Kesenjangan antara pertumbuhan agregat dan kesejahteraan pelaku UMKM masih menjadi pekerjaan rumah, terutama menyangkut akses permodalan dan pemasaran.

Pro: Pintu Masuk Menuju Rantai Pasok

Di satu sisi, keterlibatan korporasi besar dalam pameran UMKM memberi nilai tambah yang tidak kecil. Peserta tidak hanya mendapatkan ruang untuk menjual produk, tetapi juga berpeluang masuk ke rantai pasok perusahaan. Dalam skema kemitraan yang tepat, UMKM dapat memperoleh kepastian pesanan atau kontrak pasokan, yang pada gilirannya memperbaiki arus kas dan likuiditas mereka.

“Kolaborasi antara badan usaha milik negara dan UMKM adalah salah satu jalur tercepat untuk memperkuat fundamental usaha kecil, terutama dalam hal standarisasi produk dan akses distribusi,” ujar seorang pengamat ekonomi daerah, yang meminta identitasnya tidak disebutkan.

Program semacam ini juga berpotensi mendorong digitalisasi. Pelaku usaha yang terpilih biasanya mendapat pelatihan pencatatan keuangan, pemasaran digital, dan manajemen produksi. Efeknya bisa terasa jangka panjang meski pameran hanya berlangsung tiga hari.

Kontra: Antara Seremoni dan Keberlanjutan

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa pameran bersifat sementara. Dampak jangka panjang sangat bergantung pada tindak lanjut pascakegiatan, khususnya keberlanjutan kemitraan. Tanpa pendampingan dan akses pembiayaan lanjutan, sebagian peserta berisiko kembali ke kondisi awal setelah acara berakhir.

Kritik lain menyoroti skala. Dengan 47 UMKM, cakupan program relatif terbatas dibandingkan total puluhan ribu usaha mikro di DIY. Rasio peserta terhadap populasi UMKM di wilayah ini diperkirakan kurang dari 1 persen. Artinya, program seperti ini lebih tepat diposisikan sebagai percontohan ketimbang solusi menyeluruh.

Dari kacamata sentimen pasar, kehadiran korporasi besar juga dapat menimbulkan ketergantungan. Jika kemitraan berhenti, UMKM yang telah menyesuaikan kapasitas produksi untuk pesanan besar bisa mengalami kelebihan kapasitas. Ini menuntut perencanaan bisnis yang hati-hati.

Proyeksi dan Sikap yang Perlu Diambil

Ke depan, keberhasilan inisiatif ini sebaiknya diukur bukan dari jumlah pengunjung atau transaksi selama acara, melainkan dari indikator pascakegiatan: berapa banyak UMKM yang berhasil menandatangani kontrak lanjutan, berapa yang naik kelas ke segmen menengah, dan seberapa besar perbaikan omzet dalam enam bulan setelah pameran.

Pemerintah daerah dan pelaku usaha juga perlu memastikan adanya pendampingan berkelanjutan, termasuk fasilitasi sertifikasi produk, akses kredit berbunga rendah, dan integrasi ke platform digital. Tanpa kerangka ini, semangat yang muncul di Pasar Ngasem berpotensi menguap bersama berakhirnya acara.

Pada akhirnya, pemberdayaan UMKM adalah maraton, bukan sprint. Pameran dapat menjadi katalis, tetapi pertumbuhan yang berkelanjutan tetap ditentukan oleh fundamental usaha, kualitas produk, dan ekosistem pendukung yang konsisten. Publik berhak menantikan bukti nyata, bukan sekadar seremoni tahunan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User