IHSG Tertekan Aksi Jual Asing, Sektor Konsumer Non-Primer Jadi Penyelamat

JAKARTA — Pasar saham domestik kembali menghadapi tekanan pada perdagangan sesi pertama hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,36% ke level 6.842,5, melanjutkan pelemahan dar...

Jul 28, 2026 - 02:44
0 0
IHSG Tertekan Aksi Jual Asing, Sektor Konsumer Non-Primer Jadi Penyelamat

JAKARTA — Pasar saham domestik kembali menghadapi tekanan pada perdagangan sesi pertama hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,36% ke level 6.842,5, melanjutkan pelemahan dari sesi sebelumnya. Berdasarkan data transaksi Bursa Efek Indonesia (BEI) per pukul 12.00 WIB, investor asing mencatatkan aksi jual bersih senilai Rp487,3 miliar, dengan total nilai perdagangan mencapai Rp5,2 triliun. Dari sepuluh indeks sektoral, hanya satu sektor yang mampu menghijau, yaitu sektor konsumer non-primer yang justru menguat tipis 0,52%.

Tekanan Jual Asing dan Dampaknya

Di satu sisi, aksi jual investor asing menjadi pendorong utama koreksi IHSG pada sesi ini. Dana asing yang keluar dari pasar modal Indonesia dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global terkait arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve. Para pelaku pasar mencermati data inflasi AS yang masih tinggi, sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan kembali menguat. Kondisi ini membuat investor asing mengurangi eksposur di aset-aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang seperti Indonesia.

Saham-saham yang dilego asing didominasi oleh saham-saham berkapitalisasi besar. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami net sell asing sebesar Rp156,2 miliar dengan harga saham turun 1,2% ke Rp9.675. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga dilepas, mencatat net sell Rp98,7 miliar dan terkoreksi 0,9%. Sementara itu, PT Astra International Tbk (ASII) turut dilego dengan net sell Rp74,5 miliar, menyebabkan sahamnya melemah 1,5%.

Di sisi lain, koreksi ini dianggap wajar oleh sejumlah analis karena secara year-on-year, IHSG masih mencatatkan pertumbuhan positif sekitar 2,3%, dan fundamental ekonomi Indonesia tetap solid dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) triwulan I 2024 sebesar 5,11%. Valuasi IHSG saat ini berada pada rasio price-to-earning (PER) 14,5 kali, relatif lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata kawasan, sehingga sebagian analis melihat potensi rebound dalam jangka pendek.

Sektor Konsumer Non-Primer Menjadi Anomali

Di tengah maraknya aksi jual, sektor konsumer non-primer justru menunjukkan performa yang kontras. Indeks sektor ini naik 0,52% menjadi 1.245,8 poin, didorong oleh optimisme terhadap momentum Ramadan dan persiapan Idulfitri yang biasanya meningkatkan belanja konsumen secara signifikan. Saham-saham seperti PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) menjadi pendorong utama, dengan kenaikan masing-masing 2,1% dan 3,4%.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024 menunjukkan indeks kepercayaan konsumen berada di level 123,4, mengindikasikan tetap kuatnya daya beli masyarakat. Survei Bank Indonesia juga mencatat bahwa penjualan eceran diproyeksikan tumbuh 4,8% secara year-on-year pada kuartal I-2024. Angka-angka ini menjadi fundamental bagi minat investor terhadap sektor konsumsi non-primer, terlepas dari sentimen negatif global. Terlebih lagi, sentimen pasar terhadap saham-saham konsumsi cenderung defensif, sehingga di saat terjadi capital outflow di sektor lain, sektor ini tetap menjadi pilihan portofolio.

Proyeksi dan Sentimen Pasar ke Depan

Proyeksi pergerakan IHSG dalam sesi kedua dan beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada bagaimana investor menilai rilis data ekonomi domestik dan eksternal. Di satu sisi, nilai tukar rupiah yang masih tertekan di level Rp15.650 per dolar AS dapat memicu aksi jual lanjutan. Kekhawatiran terhadap inflasi impor dan tekanan pada neraca perdagangan turut mempengaruhi persepsi risiko. Investor asing kemungkinan akan tetap berhati-hati hingga ada kepastian arah suku bunga The Fed.

Di sisi lain, likuiditas pasar terjaga dengan baik, tercermin dari rata-rata volume harian yang masih di atas 15 miliar saham. Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan 6,0% untuk menjaga stabilitas rupiah, yang bisa menjadi katalis positif bagi pasar obligasi dan saham. Selain itu, rilis laporan keuangan emiten kuartal I-2024 yang segera dimulai dapat menjadi katalis baru, terutama jika kinerja perusahaan melampaui ekspektasi analis.

Dengan mempertimbangkan pro dan kontra tersebut, banyak analis memproyeksikan bahwa IHSG akan bergerak dalam rentang 6.800 – 6.950 hingga akhir pekan ini, dengan potensi penguatan jika net sell asing berkurang dan data ekonomi domestik mengejutkan positif. Investor disarankan untuk tetap memperhatikan rasio risiko dan imbal hasil, serta memonitor pergerakan indeks global sebagai acuan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User