Oct 14, 2026
Bisnis

IHSG Terkoreksi 2,59 Persen, Asing Tetap Akumulasi Saham Pilihan

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia per awal pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam sebesar 2,59 persen dan menyentuh level terendah dalam tiga bulan ter...

IHSG Terkoreksi 2,59 Persen, Asing Tetap Akumulasi Saham Pilihan

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia per awal pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam sebesar 2,59 persen dan menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir. Koreksi ini menjadi salah satu yang terdalam dalam periode kuartal berjalan, seiring meningkatnya tekanan jual di hampir seluruh sektor. Namun, di tengah gelombang aksi jual tersebut, investor asing justru mencatatkan pembelian bersih atau net buy senilai Rp128,89 miliar pada sejumlah saham unggulan.

Bagi pembaca awam, IHSG adalah indeks yang mengukur rata-rata pergerakan harga seluruh saham tercatat di bursa. Ketika indeks turun 2,59 persen dalam sehari, itu berarti secara agregat nilai pasar emiten-emiten di Indonesia menyusut signifikan dalam waktu singkat. Penurunan ini memperpanjang tren koreksi yang sudah berlangsung sejak beberapa pekan terakhir, di mana indeks bergerak di zona merah secara year-on-year dibandingkan level puncaknya pada periode yang sama tahun lalu.

Tekanan Eksternal dan Sentimen Pasar Global

Di satu sisi, koreksi IHSG tidak bisa dilepaskan dari sentimen pasar global. Ketidakpastian arah suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, ditambah gejolak geopolitik yang memicu penguatan dolar AS, telah mendorong terjadinya capital outflow dari pasar negara berkembang. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah turut memperbesar kekhawatiran investor terhadap prospek likuiditas pasar domestik. Ketika dolar menguat, imbal hasil aset berdenominasi rupiah menjadi kurang menarik secara relatif, sehingga sebagian portofolio asing dialihkan ke aset safe haven.

Di sisi lain, data net buy asing menunjukkan bahwa tidak semua investor meninggalkan pasar. Justru pada momen koreksi, sejumlah dana asing memanfaatkan penurunan harga untuk mengakumulasi saham dengan valuasi yang dinilai sudah murah. Pola ini lazim disebut contrarian investing, yakni strategi membeli saat pasar sedang lesu dengan asumsi fundamental emiten tetap kuat dalam jangka menengah panjang.

"Koreksi tajam yang disertai net buy asing sering kali menandakan adanya rotasi portofolio, bukan pelarian modal secara menyeluruh. Pasar sedang mencari titik keseimbangan baru antara harga dan ekspektasi laba emiten," ujar seorang analis pasar modal.

Sektor yang Menjadi Magnet Akumulasi

Berdasarkan data transaksi, saham-saham yang diborong asing terkonsentrasi pada sektor perbankan berkapitalisasi besar, komoditas, dan konsumen non-primer. Sektor perbankan menjadi favorit karena rasio valuasi seperti price to book value (PBV) berada di bawah rata-rata lima tahun terakhir. Rasio ini membandingkan harga saham dengan nilai buku ekuitas emiten; semakin rendah rasionya, semakin murah suatu saham relatif terhadap aset bersihnya.

Sektor komoditas juga mencuri perhatian seiring masih berlanjutnya tren harga komoditas global, meski volatil. Sementara itu, saham konsumen dipilih karena dianggap memiliki daya tahan laba yang lebih stabil di tengah perlambatan konsumsi domestik. Pola akumulasi ini menunjukkan bahwa asing masih melihat adanya fundamental yang solid pada emiten-emiten tertentu, terlepas dari tekanan indeks secara keseluruhan.

Proyeksi ke Depan dan Risiko yang Perlu Dicermati

Pro: sejumlah ekonom menilai net buy asing dapat menjadi sinyal awal bahwa fase koreksi mulai mendekati titik jenuh. Jika rupiah stabil dan data inflasi domestik tetap terkendali, indeks berpotensi menemukan support dan kembali menguji level resistensi dalam beberapa pekan ke depan. Likuiditas pasar yang masih terjaga menjadi modal penting untuk mendorong pemulihan.

Kontra: di sisi lain, risiko eksternal belum sepenuhnya mereda. Ketidakpastian kebijakan moneter global dan potensi capital outflow lanjutan dapat kembali menekan indeks. Selain itu, net buy yang relatif kecil dibandingkan nilai transaksi harian menunjukkan bahwa akumulasi asing belum cukup kuat untuk membalikkan tren secara signifikan. Proyeksi pertumbuhan laba emiten juga perlu dicermati, karena ekspektasi yang terlalu tinggi bisa memicu koreksi lanjutan bila realisasinya meleset.

Dari kacamata fundamental, valuasi IHSG saat ini berada pada level yang secara historis menarik, namun sentimen pasar tetap menjadi penentu arah jangka pendek. Investor disarankan mencermati data makro terbaru seperti inflasi, neraca perdagangan, dan cadangan devisa sebelum mengambil keputusan. Kombinasi antara data fundamental yang solid dan sentimen yang masih rentan menjadikan pasar saat ini sebagai medan uji bagi ketahanan portofolio masing-masing investor.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User