Oct 09, 2026
Bisnis

IHSG Rebound 1,36 Persen, Asing Tetap Lepas 10 Saham Ini

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri rentetan pelemahan selama enam hari berturut-turut dengan mencatatkan penguatan 1,36 persen ke...

IHSG Rebound 1,36 Persen, Asing Tetap Lepas 10 Saham Ini

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri rentetan pelemahan selama enam hari berturut-turut dengan mencatatkan penguatan 1,36 persen ke level 6.118,86. Kendati demikian, penguatan indeks tersebut tidak serta-merta diikuti oleh aksi beli investor asing. Data menunjukkan bahwa investor asing masih membukukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp115,72 miliar pada perdagangan hari tersebut, mengindikasikan bahwa sentimen pasar masih dibayangi kehati-hatian meski secara teknikal indeks menunjukkan rebound.

Fenomena ini menarik untuk dicermati karena biasanya penguatan indeks kerap diiringi oleh aliran dana masuk (capital inflow). Namun, kondisi kali ini menunjukkan adanya divergensi antara pergerakan indeks dengan perilaku investor asing. Di satu sisi, penguatan IHSG didorong oleh aksi beli investor domestik dan beberapa sektor yang mengalami kenaikan. Di sisi lain, investor asing justru memanfaatkan momentum rebound ini untuk mengurangi eksposur pada sejumlah saham tertentu, yang tercermin dari daftar saham dengan net sell terbesar.

Daftar Saham yang Paling Banyak Dilepas Asing

Berdasarkan data transaksi, terdapat 10 saham yang mencatatkan penjualan bersih terbesar oleh investor asing. Saham-saham tersebut berasal dari berbagai sektor, mulai dari perbankan, komoditas, hingga teknologi. Salah satu saham yang paling banyak dilepas adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai net sell mencapai Rp78,3 miliar. Meskipun demikian, harga saham BBCA masih tercatat menguat tipis seiring dengan aksi beli dari investor domestik.

Selain BBCA, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga masuk dalam daftar dengan net sell sebesar Rp45,6 miliar. Sektor telekomunikasi memang tengah menghadapi tantangan berupa perlambatan pertumbuhan pendapatan akibat persaingan yang ketat dan perubahan perilaku konsumen. Saham ketiga adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan net sell Rp38,9 miliar, disusul oleh PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp27,4 miliar dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp22,1 miliar.

Kelima saham tersebut merupakan saham berkapitalisasi besar (big cap) yang biasanya menjadi buruan investor asing. Namun, dalam kondisi pasar yang masih volatil, investor asing cenderung melakukan aksi ambil untung (profit taking) atau mengurangi posisi untuk mengantisipasi ketidakpastian global. Saham lainnya yang masuk daftar adalah PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Pro dan Kontra Seputar Aksi Jual Asing

Menyikapi aksi jual investor asing di tengah penguatan IHSG, terdapat dua pandangan yang berkembang di kalangan pelaku pasar. Pro: Sebagian analis menilai bahwa aksi jual asing ini merupakan bagian dari strategi rebalancing portofolio global. Mereka berargumen bahwa penguatan IHSG yang hanya terjadi sehari setelah enam hari melemah belum cukup untuk mengubah tren jangka pendek. Selain itu, faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dan ketegangan geopolitik masih menjadi penentu utama arus modal asing. Dengan kata lain, capital outflow ini bersifat sementara dan tidak mencerminkan buruknya fundamental ekonomi domestik.

Kontra: Di sisi lain, sebagian pengamat justru melihat aksi jual asing ini sebagai sinyal bahwa investor asing masih meragukan keberlanjutan penguatan IHSG. Mereka menyoroti bahwa likuiditas pasar saham domestik masih sangat bergantung pada investor asing, sehingga jika outflow berlanjut, maka potensi pelemahan indeks ke depan masih terbuka. Selain itu, rasio valuasi beberapa saham big cap dinilai sudah cukup tinggi, sehingga wajar jika investor asing melakukan aksi ambil untung.

"Aksi jual asing di tengah rebound IHSG menunjukkan bahwa sentimen pasar masih terbelah. Investor asing cenderung menunggu kepastian arah kebijakan moneter global sebelum kembali masuk ke pasar emerging market," ujar seorang analis pasar modal di Jakarta, yang tidak ingin disebutkan namanya.

Proyeksi dan Faktor yang Perlu Dicermati

Ke depan, pergerakan IHSG dan arus modal asing akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, baik domestik maupun global. Dari dalam negeri, data inflasi, neraca perdagangan, dan kebijakan suku bunga Bank Indonesia menjadi kunci. Jika inflasi terkendali dan neraca perdagangan surplus, maka fundamental ekonomi Indonesia tetap solid dan dapat menarik kembali capital inflow. Dari luar negeri, arah kebijakan The Fed dan perkembangan ekonomi China akan menjadi penentu utama sentimen pasar.

Secara teknikal, level 6.100 menjadi support penting bagi IHSG. Jika level ini mampu dipertahankan, maka potensi penguatan lanjutan masih terbuka. Namun, jika kembali tertekan, maka level support berikutnya berada di 6.000. Bagi investor, kondisi saat ini menuntut kehati-hatian dalam mengelola portofolio. Diversifikasi dan fokus pada saham dengan fundamental kuat serta valuasi wajar menjadi strategi yang rasional di tengah ketidakpastian.

Pada akhirnya, penguatan IHSG sebesar 1,36 persen patut diapresiasi sebagai sinyal awal pemulihan. Namun, tanpa dukungan arus modal asing yang berkelanjutan, keberlanjutan tren ini masih perlu diuji. Investor disarankan untuk terus mencermati data makroekonomi dan perkembangan global sebelum mengambil keputusan investasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User