IHSG Melemah Tipis ke 6.185, Pasar Tertekan Sentimen Global
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan pekan ini dengan pelemahan terbatas. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 27 Juli, indeks acuan ditutup di level 6.185,2, atau terko...
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan pekan ini dengan pelemahan terbatas. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 27 Juli, indeks acuan ditutup di level 6.185,2, atau terkoreksi sebesar 0,3% dibandingkan posisi akhir pekan lalu. Pergerakan ini menjadi cerminan nyata dari tarik-menarik antara optimisme pemulihan ekonomi domestik yang mulai terlihat dan kekhawatiran investor terhadap eskalasi penyebaran varian Delta di sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Tekanan Eskalasi Pandemi dan Arus Modal Asing
Di satu sisi, kekhawatiran pasar terhadap lonjakan kasus COVID-19 secara global memberikan tekanan signifikan terhadap indeks. Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan peningkatan kasus harian di kawasan Asia Pasifik sebesar 12% secara week-on-week, yang memicu aksi risk-off. Akibatnya, investor asing cenderung mengurangi eksposur di pasar negara berkembang dan mengalihkan portofolionya ke aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat. Berdasarkan data RTI Business, sepanjang sesi perdagangan, investor non-resident mencatatkan net sell saham senilai Rp1,1 triliun, melanjutkan tren capital outflow yang telah terjadi dalam dua pekan terakhir.
Di sisi lain, kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang diperpanjang pemerintah untuk menekan laju penularan di dalam negeri turut membebani sentimen. Pelaku pasar membaca langkah ini sebagai potensi perlambatan mobilitas dan konsumsi rumah tangga dalam jangka pendek, yang tercermin dari terkoreksinya saham-saham sektor ritel dan properti. Namun, transaksi masih diwarnai oleh aksi beli selektif pada saham-saham defensif di sektor kesehatan dan telekomunikasi, yang menahan IHSG dari penurunan lebih dalam. Nilai transaksi bursa tercatat sebesar Rp14,2 triliun, dengan volume 18,7 miliar lembar saham diperdagangkan.
Fundamental Domestik yang Menopang Pasar
Sementara itu, sejumlah data makroekonomi domestik justru memperlihatkan fondasi yang cukup kokoh, sehingga membatasi ruang pelemahan indeks. Pro: Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mengumumkan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Juni sebesar USD1,3 miliar, lebih tinggi dari konsensus analis yang berada di kisaran USD0,9 miliar. Kinerja ekspor ditopang oleh melonjaknya harga komoditas unggulan, seperti batubara (naik 23% month-to-month) dan minyak kelapa sawit mentah (CPO) yang masih bertahan di atas level MYR3.800 per ton. Kontra: Meski demikian, impor bahan baku dan barang modal yang sempat tumbuh melambat mengindikasikan bahwa aktivitas manufaktur di kuartal III berpotensi kehilangan momentum di tengah pembatasan mobilitas.
Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 3,50%, sebuah kebijakan akomodatif yang menjaga likuiditas perbankan dan menekan imbal hasil obligasi pemerintah. Data terakhir menunjukkan bahwa imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun bergerak stabil di 6,42%, turun 5 basis poin dari minggu sebelumnya. Hal ini menjadi insentif bagi investor domestik untuk tetap bertahan di pasar saham, karena selisih imbal hasil dengan deposito masih cukup atraktif.
Valuasi dan Sikap Pelaku Pasar
Secara valuasi, posisi IHSG pada level 6.185 membuat rasio harga terhadap laba (price-to-earnings/P/E) berada di 17,8 kali, sedikit di bawah rata-rata historis tiga tahun sebesar 18,1 kali. Beberapa analis menilai kondisi ini membuka peluang akumulasi untuk saham-saham yang memiliki fundamental kuat dan tidak terlalu terpapar risiko restriksi mobilitas.
“Kami melihat bahwa tekanan dari sisi eksternal bersifat temporer. Selama data surplus perdagangan dan cadangan devisa tetap solid, IHSG memiliki potensi untuk rebound terbatas ke level 6.250 dalam sepekan ke depan. Investor disarankan untuk mengalihkan portofolio ke sektor berbasis ekspor dan logam dasar,” ujar Andika Pratama, Analis Ekonomi Senior.Meski demikian, prediksi tersebut tetap bergantung pada perkembangan kasus harian yang jika tidak terkendali, dapat memicu koreksi lanjutan ke arah support psikologis di level 6.000.
Proyeksi pergerakan IHSG untuk sisa pekan ini sangat bergantung pada rilis data inflasi inti Juli oleh BPS yang akan menjadi acuan baru bagi pelaku pasar. Jika inflasi inti tetap terkendali di bawah 1,5% year-on-year, maka ruang stimulus dan likuiditas masih terbuka lebar. Namun, sentimen global khususnya dari kebijakan tapering bank sentral AS, The Fed, akan menjadi risiko yang perlu diantisipasi. Secara sektoral, saham-saham di bidang perbankan, pertambangan, dan telekomunikasi diperkirakan akan kembali menarik minat investor seiring dengan ekspektasi dividen interim yang solid.
Comments (0)