IHSG Lanjutkan Reli di Tengah RUU Larangan Kapal AS-Israel di Hormuz
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Bank Indonesia per penutupan perdagangan akhir Juni 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan ke level 6.917, menguat sekitar 0,8 pers...
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Bank Indonesia per penutupan perdagangan akhir Juni 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan ke level 6.917, menguat sekitar 0,8 persen secara year-on-year dibandingkan posisi akhir Juni 2024 di kisaran 6.870. Penguatan ini terjadi di tengah eskalasi geopolitik Timur Tengah, menyusul langkah parlemen Iran yang menyetujui rancangan undang-undang (RUU) pembatasan lintas kapal Amerika Serikat dan Israel di Selat Hormuz, jalur air paling strategis bagi perdagangan energi dunia.
Sentimen pasar global sempat bergejolak. Harga minyak mentah Brent melesat ke 81,4 dolar AS per barel, level tertinggi dalam lima bulan, sebelum melandai ke kisaran 68 dolar AS setelah kabar gencatan senjata. Sementara itu, rupiah bergerak di kisaran Rp16.200 per dolar AS, relatif stabil berkat langkah stabilisasi Bank Indonesia.
RUU Hormuz dan Taruhannya bagi Pasokan Energi Dunia
Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran biasa. Sekitar 20 persen konsumsi minyak global, atau setara 20 juta barel per hari, melintasi selat selebar 33 kilometer tersebut. Sekitar sepertiga perdagangan minyak lintas laut dunia dan seperlima ekspor gas alam cair (LNG) global juga bergantung pada koridor ini. RUU yang disahkan parlemen Iran memang masih memerlukan persetujuan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran sebelum berlaku efektif, namun sinyal politiknya cukup kuat untuk mengguncang pasar.
Di satu sisi, penutupan total dinilai sejumlah pengamat sebagai skenario berprobabilitas rendah karena akan merugikan Iran sendiri, mengingat sebagian besar ekspor minyaknya ke China melewati jalur yang sama. Di sisi lain, gangguan sekecil apa pun, misalnya pemeriksaan kapal selektif atau insiden terbatas, cukup untuk menaikkan premi risiko (risk premium) harga minyak sebesar 5 hingga 10 dolar AS per barel.
"Pasar tidak menunggu penutupan benar-benar terjadi. Ekspektasi gangguan pasokan saja sudah cukup menggerakkan harga energi dan memicu reposisi portofolio global," ujar seorang ekonom pasar modal di Jakarta.
Reli IHSG: Fundamental Domestik Menahan Guncangan
Meski sentimen global bergejolak, IHSG melanjutkan reli. Data BEI menunjukkan investor asing mencatatkan beli bersih (net foreign buy) sekitar Rp1,2 triliun dalam sepekan, terutama di saham perbankan berkapitalisasi besar dan emiten energi. Likuiditas pasar membaik dengan nilai transaksi harian rata-rata Rp11 triliun, naik dari rata-rata Rp9 triliun pada bulan sebelumnya.
Ada dua penjelasan atas ketahanan ini. Pertama, valuasi IHSG tergolong murah dengan rasio harga terhadap laba (price-to-earnings ratio) sekitar 12 kali, di bawah rata-rata lima tahun di 15 kali, sehingga menarik bagi investor yang mencari aset undervalued. Kedua, ekspektasi pelonggaran moneter: Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan ke 5,5 persen, memberi ruang bagi penguatan aset berisiko.
Sektor energi menjadi motor reli. Emiten batu bara dan migas menguat karena kenaikan harga komoditas memperbaiki proyeksi pendapatan. Indeks sektor energi mengalami kenaikan lebih dari 3 persen dalam sepekan, mengungguli indeks acuan.
Dua Sisi bagi Ekonomi Indonesia
Pro: kenaikan harga minyak dan gas menguntungkan penerimaan negara dari sektor energi. Harga batu bara termal yang ikut terkerek juga menopang kinerja ekspor komoditas andalan Indonesia dan memperbaiki prospek neraca perdagangan.
Kontra: Indonesia adalah importir neto minyak. Kenaikan harga minyak mentah menaikkan beban subsidi energi dan berpotensi melebarkan defisit transaksi berjalan (current account deficit). Jika Brent bertahan di atas 80 dolar AS, tekanan inflasi impor (imported inflation) bisa mendorong Bank Indonesia menahan suku bunga lebih lama, yang berisiko memicu capital outflow, yakni keluarnya dana asing dari pasar saham dan obligasi domestik.
Proyeksi: Skenario yang Perlu Dicermati
Ke depan, arah pasar akan ditentukan tiga variabel: realisasi RUU Hormuz, keberlanjutan gencatan senjata, dan arah kebijakan bank sentral AS. Pada skenario moderat, yakni ketegangan mereda tanpa gangguan pasokan, proyeksi IHSG berada di rentang 6.800 hingga 7.100 hingga akhir kuartal berikutnya. Pada skenario ekstrem berupa penutupan sebagian selat, harga minyak bisa menembus 100 dolar AS dan menguji ketahanan fundamental domestik.
Bagi pembaca awam, pelajaran pentingnya sederhana: indeks yang menguat belum tentu mencerminkan risiko yang hilang. Diversifikasi portofolio dan kehati-hatian tetap diperlukan, karena tren reli yang digerakkan sentimen geopolitik dapat berbalik secepat ia terbentuk.
Comments (0)