IHSG Ditutup Anjlok 1,88% ke 6.196, 587 Saham Melemah

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Jumat, 24 Juli, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri pekan dengan koreksi tajam sebesar 1,88 persen ke level 6.196. Sebanyak 587 saham mengalam...

Jul 27, 2026 - 21:49
0 0
IHSG Ditutup Anjlok 1,88% ke 6.196, 587 Saham Melemah

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Jumat, 24 Juli, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri pekan dengan koreksi tajam sebesar 1,88 persen ke level 6.196. Sebanyak 587 saham mengalami pelemahan, menandai salah satu akhir pekan paling suram bagi pasar modal dalam sebulan terakhir.

Sentimen Global dan Arus Modal Asing Menjadi Pemicu Utama

Di satu sisi, tekanan datang dari eskalasi ketidakpastian di pasar global. Indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur Zona Euro dan Amerika Serikat menunjukkan kontraksi untuk bulan Juli, memicu kekhawatiran resesi. Hal ini mendorong investor mengurangi eksposur di aset berisiko, termasuk saham-saham di emerging market. Di sisi lain, di dalam negeri, data Bank Indonesia mencatat aliran modal asing keluar (capital outflow) bersih sebesar Rp1,8 triliun pada pekan ini, melanjutkan tren net sell asing selama tiga pekan berturut-turut.

Selain itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang direvisi oleh beberapa lembaga riset menjadi 4,8 persen year-on-year (dari sebelumnya 5,1 persen) ikut menekan sentimen. Investor khawatir perlambatan konsumsi rumah tangga dan investasi akan membebani kinerja emiten di kuartal berikutnya. Pasar juga mencermati perkembangan negosiasi dagang global dan fluktuasi harga energi.

Mayoritas Saham Terkoreksi, Sektor Finansial dan Konsumsi Terpukul

Dari total 690 saham yang tercatat di papan perdagangan, hanya 48 saham yang mampu bertahan di zona hijau, sementara 55 saham stagnan. Saham-saham perbankan besar seperti BBRI (turun 2,7%), BBCA (turun 1,9%), dan BMRI (turun 2,4%) menjadi kontributor utama pelemahan indeks. Sektor barang konsumsi juga tertekan, dengan saham UNVR melemah 3,1% dan ICBP turun 2,5%.

Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan berkapitalisasi besar anjlok 2,1 persen ke 870,21. Sementara itu, indeks sektoral IDX-Energy turun 1,5 persen dan IDX-Finance melemah 2,3 persen. Volume transaksi harian melonjak menjadi 23,4 miliar saham dengan nilai total Rp13,7 triliun, jauh di atas rata-rata harian pekan sebelumnya senilai Rp11,2 triliun. Peningkatan volume ini menunjukkan aksi jual yang agresif dari investor institusi dan asing. Kapitalisasi pasar BEI tergerus sekitar Rp95 triliun, atau menyusut menjadi Rp7.263 triliun.

"Koreksi ini lebih banyak dipicu oleh sentimen jangka pendek, terutama risiko outflow asing dan penurunan harga komoditas. Namun, fundamental makro Indonesia masih cukup baik, tercermin dari surplus neraca dagang dan cadangan devisa yang tetap di atas USD130 miliar," ujar Ekonom Senior, Budi Santoso.

Dampak Rupiah dan Harga Komoditas

Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan pasar spot Jumat terdepresiasi 0,35 persen ke level Rp14.650. Depresiasi ini menambah beban bagi saham-saham yang sensitif terhadap pergerakan valuta asing, terutama emiten dengan beban utang dalam denominasi asing. Di pasar komoditas, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tergelincir 0,8 persen ke USD69,5 per barel, sementara minyak Brent turun ke USD74,1 per barel. Kondisi ini menyebabkan saham-saham energi ikut terseret, meskipun beberapa emiten batubara masih mencatatkan kenaikan berkat permintaan domestik yang stabil.

Sementara itu, harga nikel dan minyak kelapa sawit mentah (CPO) mengalami koreksi tipis, mempengaruhi saham pertambangan dan perkebunan. Hanya emas yang naik tipis sebesar 0,2 persen ke USD1.965 per troy ons, namun tidak cukup untuk mendongkrak indeks sektor tambang.

Prospek Pekan Depan: Antara Valuasi Menarik dan Risiko Lanjutan

Dengan penurunan ini, valuasi indeks menjadi lebih terjangkau. Rasio harga terhadap laba (price to earning ratio/P/E) IHSG kini di level 14,8 kali, sedikit di bawah rata-rata historis 16 kali. Beberapa analis melihat hal ini sebagai peluang akumulasi. Pro: Jika sentimen global membaik dan rupiah menguat, IHSG berpotensi mengalami rebound teknikal ke level 6.250–6.300. Kontra: Apabila capital outflow berlanjut dan rilis data inflasi domestik pekan depan mengecewakan, indeks berisiko menguji support psikologis di 6.100.

"Pasar akan sangat bergantung pada keputusan Bank Indonesia terkait suku bunga acuan. Jika BI mempertahankan atau bahkan menurunkan suku bunga, ini bisa menjadi katalis positif. Namun, jika bank sentral AS (The Fed) memberi sinyal hawkish, tekanan pada IHSG mungkin belum berakhir," kata Ahmad Fauzi, analis senior dari PT Mirae Asset Sekuritas.

Secara keseluruhan, akhir pekan ini menjadi pengingat bahwa volatilitas masih tinggi. Investor disarankan untuk mencermati perkembangan global dan mempertahankan diversifikasi portofolio. Dengan fundamental domestik yang relatif terjaga, koreksi ini masih dalam batas wajar, namun kehati-hatian tetap diperlukan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User