IHSG Berpeluang Menguat Akhir Pekan di Tengah Likuiditas Melimpah

Berdasarkan data Bank Indonesia per awal Agustus 2020, suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate berada di level 4,00 persen, titik terendah sejak 2016 setelah empat kali pemangkasan sepanjang tahun...

Aug 10, 2026 - 04:50
0 0
IHSG Berpeluang Menguat Akhir Pekan di Tengah Likuiditas Melimpah

Berdasarkan data Bank Indonesia per awal Agustus 2020, suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate berada di level 4,00 persen, titik terendah sejak 2016 setelah empat kali pemangkasan sepanjang tahun berjalan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan inflasi Juli 2020 sebesar 1,54 persen year-on-year, berada di bawah kisaran target 2 hingga 4 persen. Kombinasi biaya dana murah dan inflasi terkendali menjadi latar makro yang menopang proyeksi penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (7/8), melanjutkan tren positif setelah indeks ditutup menguat pada sesi sebelumnya di kisaran level 5.200.

Likuiditas Melimpah Menjadi Katalis Penguatan Indeks

Di satu sisi, sentimen pasar sedang ditopang oleh melimpahnya likuiditas, yakni ketersediaan dana murah di sistem keuangan global maupun domestik. Kebijakan bank sentral Amerika Serikat yang mempertahankan suku bunga mendekati nol, ditambah rencana stimulus fiskal baru di negara tersebut, mendorong investor global mengalihkan portofolio ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun yang berada di kisaran 6,9 persen tetap menarik dibandingkan obligasi negara maju, sehingga arus modal asing berpotensi kembali masuk ke pasar saham.

Dari sisi domestik, penurunan suku bunga acuan menekan bunga deposito perbankan ke kisaran 4 hingga 5 persen, sehingga sebagian dana investor institusi dan ritel beralih ke instrumen berisiko seperti saham. Secara valuasi, rasio price-to-earnings (P/E) IHSG, yakni perbandingan harga saham terhadap laba per saham, berada di sekitar 15 kali, masih di bawah rata-rata lima tahun sekitar 17 kali. Kondisi ini menunjukkan harga saham secara agregat belum tergolong mahal, sehingga ruang penguatan indeks dinilai masih terbuka.

Di Sisi Lain, Fundamental Ekonomi Masih Dibayangi Risiko

Meski demikian, penguatan IHSG tidak sepenuhnya bebas risiko. BPS baru saja mengumumkan ekonomi Indonesia mengalami penurunan alias kontraksi 5,32 persen year-on-year pada kuartal II 2020, kontraksi pertama sejak krisis 1998. Angka ini menegaskan bahwa fundamental ekonomi riil belum pulih, sementara kinerja keuangan emiten semester I 2020 secara umum masih tertekan, terutama di sektor konsumsi, transportasi, dan properti.

Risiko lain datang dari pergerakan nilai tukar. Rupiah yang bergerak di kisaran Rp14.600 hingga Rp14.700 per dolar AS masih rentan terhadap gejolak eksternal. Apabila ketegangan Amerika Serikat dan China kembali memanas atau kasus COVID-19 di dalam negeri terus mengalami kenaikan, pasar bisa menghadapi capital outflow, yakni penarikan dana asing secara cepat dari pasar domestik. Tercatat, sepanjang tahun berjalan investor asing masih membukukan penjualan bersih puluhan triliun rupiah di pasar saham, yang menunjukkan keyakinan investor asing belum sepenuhnya pulih.

Proyeksi Pergerakan dan Level yang Dicermati Pelaku Pasar

Secara teknikal, IHSG diproyeksikan bergerak pada rentang support 5.100 hingga resistance 5.300 pada perdagangan akhir pekan. Support adalah level di mana tekanan jual biasanya tertahan, sedangkan resistance merupakan level di mana aksi ambil untung berpotensi muncul. Indikator rata-rata pergerakan harga menunjukkan tren jangka pendek yang masih positif, meski volume transaksi perlu terus dipantau sebagai konfirmasi kekuatan tren tersebut.

"Penguatan indeks dalam beberapa sesi terakhir lebih banyak ditopang faktor likuiditas dan sentimen global ketimbang perbaikan fundamental korporasi. Karena itu, pelaku pasar perlu mencermati rilis laporan keuangan semester I serta perkembangan penanganan pandemi sebagai penentu arah pasar berikutnya," ujar kepala riset salah satu perusahaan sekuritas di Jakarta.

Sebagai catatan akhir, proyeksi penguatan IHSG pada Jumat (7/8) berdiri di atas dua pijakan yang perlu ditimbang secara berimbang. Di satu sisi, likuiditas yang melimpah, suku bunga rendah, dan valuasi yang relatif terjangkau memberikan ruang bagi indeks untuk mengalami kenaikan. Di sisi lain, kontraksi ekonomi, tekanan pada kinerja emiten, serta potensi capital outflow menjadi pengingat bahwa tren penguatan bisa berbalik apabila sentimen pasar berubah. Pelaku pasar disarankan memantau data makro dan kinerja korporasi secara disiplin sebelum mengambil keputusan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User