HUT Ke-49 Pasar Modal, Airlangga Singgung VOC dan Kepercayaan Investor
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Desember 2025, jumlah investor pasar modal Indonesia tercatat menembus 16 juta single investor ID (SID), melonjak lebih dari empat kali lipat dibandin...
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Desember 2025, jumlah investor pasar modal Indonesia tercatat menembus 16 juta single investor ID (SID), melonjak lebih dari empat kali lipat dibandingkan posisi 2020 yang baru mencapai 3,9 juta investor. Sementara itu, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) bertengger di kisaran Rp12.500 triliun dengan nilai transaksi harian rata-rata sekitar Rp13 triliun. Capaian tersebut membingkai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-49 Pasar Modal Indonesia, momentum yang digunakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto untuk menegaskan kembali pentingnya kepercayaan investor sebagai fondasi utama industri.
Dalam sambutannya, Airlangga menarik benang merah sejarah panjang perdagangan efek di Nusantara. Ia menyinggung peran Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), kongsi dagang Belanda yang beroperasi di kepulauan Indonesia pada abad ke-17, sebagai bagian dari akar sejarah pasar modal dunia. Pernyataan itu disampaikan untuk mengingatkan publik bahwa tradisi penghimpunan dana masyarakat melalui instrumen efek telah berusia lebih dari empat abad, jauh sebelum bursa modern berdiri di Jakarta.
Jejak VOC dan Akar Sejarah Bursa
Secara historis, VOC tercatat sebagai perusahaan pertama di dunia yang menerbitkan saham kepada publik pada 1602, yang kemudian diperdagangkan di bursa Amsterdam—kerap disebut sebagai bursa efek tertua di dunia. Bagi pembaca awam, saham adalah surat bukti kepemilikan atas suatu perusahaan; pembelinya berhak atas bagian keuntungan berupa dividen sekaligus menanggung risiko kerugian. Model inilah yang kelak berkembang menjadi pasar modal modern, termasuk di Indonesia yang mengaktifkan kembali bursanya pada 10 Agustus 1977.
Di satu sisi, rujukan pada VOC memberikan legitimasi historis: wilayah Nusantara bukanlah pendatang baru dalam peta keuangan global, melainkan lokasi operasi korporasi yang melahirkan konsep penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO). Di sisi lain, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa VOC juga merupakan simbol kolonialisme. Karena itu, narasi sejarah semestinya menjadi pijakan untuk membangun pasar modal yang berdaulat dan berpihak pada kepentingan ekonomi nasional, bukan sekadar nostalgia empat abad silam.
Kepercayaan Investor: Dua Sisi Mata Uang
Airlangga menegaskan bahwa kepercayaan merupakan mata uang utama pasar modal. Di satu sisi, fundamental kepercayaan itu terlihat dari tren pertumbuhan investor ritel yang didominasi kalangan muda—sekitar 55 persen investor kini berusia di bawah 30 tahun. Digitalisasi melalui aplikasi perdagangan daring menurunkan hambatan masuk secara signifikan; membuka rekening efek kini cukup dilakukan dari gawai dengan modal awal mulai Rp100 ribu.
Di sisi lain, kepercayaan tersebut terbilang rapuh. Dalam beberapa tahun terakhir, publik menyaksikan sejumlah kasus yang menguji integritas pasar, mulai dari dugaan penggorengan saham, suspensi emiten, hingga persoalan tata kelola perusahaan tercatat. Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan OJK menunjukkan indeks literasi keuangan nasional baru sekitar 65 persen, sementara literasi khusus pasar modal jauh lebih rendah, di kisaran 5 persen. Artinya, lonjakan jumlah investor belum sepenuhnya diimbangi pemahaman risiko yang memadai.
Fundamental Pasar dan Proyeksi ke Depan
Dari sisi kinerja, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif sepanjang 2025, sempat menyentuh level tertinggi di atas 7.900 sebelum terkoreksi akibat capital outflow—keluarnya dana asing dari portofolio domestik—yang dipicu ketidakpastian arah suku bunga global dan sentimen geopolitik. Meski demikian, secara year-on-year indeks masih mencatat tren penguatan jangka panjang. Dari sisi valuasi, rasio harga terhadap laba (price-to-earnings ratio) pasar Indonesia berada di kisaran 13 hingga 15 kali, relatif kompetitif dibandingkan bursa regional.
Pro: pendalaman pasar berjalan konsisten, ditandai antrean IPO emiten, penguatan infrastruktur perdagangan, serta membaiknya likuiditas pasar sekunder. Kontra: kedalaman pasar Indonesia masih tertinggal; rasio kapitalisasi pasar terhadap produk domestik bruto (PDB) baru berkisar 50 persen, di bawah Singapura dan Malaysia yang menembus 100 persen. Likuiditas juga masih terkonsentrasi pada segelintir saham berkapitalisasi besar, sehingga pasar rentan bergejolak ketika investor asing melakukan rebalancing portofolio.
Sejumlah ekonom menilai usia 49 tahun merupakan fase matang bagi sebuah bursa. Tantangan ke depan bukan lagi sekadar menambah jumlah investor, melainkan menjaga kualitas tata kelola dan penegakan aturan agar kepercayaan publik tidak tergerus oleh kasus-kasus yang merusak sentimen pasar.
Ke depan, proyeksi pasar modal Indonesia akan sangat ditentukan oleh konsistensi kebijakan fiskal dan moneter, stabilitas nilai tukar rupiah, serta kredibilitas otoritas dalam menindak pelanggaran. Pesan yang mengemuka pada HUT ke-49 ini pada akhirnya bermuara pada satu hal: sejarah panjang sejak era VOC membuktikan pasar modal lahir dari kepercayaan—dan hanya kepercayaan pula yang akan menentukan apakah bursa Tanah Air mampu menapaki usia emasnya.
Comments (0)