Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) per akhir 2025, pemerintah menargetkan realisasi investasi sebesar Rp2.900 triliun pada 2027. Dari angka tersebut, sekitar 40 persen atau setara Rp1.160 triliun diproyeksikan mengalir ke sektor hilirisasi, dengan mineral dan batu bara sebagai motor utama. Angka ini mengalami kenaikan signifikan dibandingkan target investasi 2024 yang berada di kisaran Rp1.650 triliun, atau tumbuh sekitar 75 persen dalam tiga tahun.
Hilirisasi sendiri merujuk pada upaya mengolah bahan mentah di dalam negeri sebelum diekspor, sehingga nilai tambah tidak dinikmati negara lain. Selama ini Indonesia dikenal sebagai eksportir nikel, bauksit, dan batu bara mentah. Dengan hilirisasi, komoditas tersebut diubah menjadi produk setengah jadi atau jadi seperti feronikel, alumina, dan baterai kendaraan listrik.
Di Satu Sisi: Fundamental Ekonomi yang Menguat
Dari kacamata fundamental, fokus hilirisasi mineral dan batu bara pada 2027 mencerminkan strategi yang berkelanjutan. Data BKPM menunjukkan realisasi investasi sektor pengolahan logam dan mineral pada 2024 menembus Rp220 triliun, tumbuh 14,8 persen year-on-year. Indeks kepercayaan investor di sektor ini juga tercatat di level 112, jauh di atas ambang netral 100.
Sentimen pasar turut didukung likuiditas global yang mulai longgar. Bank Indonesia mencatat capital outflow di pasar obligasi sepanjang 2024 hanya Rp18 triliun, jauh mengecil dibandingkan 2022 yang mencapai Rp180 triliun. Stabilitas ini memberi ruang bagi pemerintah untuk menarik portofolio investasi jangka panjang di sektor hilirisasi.
"Hilirisasi bukan sekadar kebijakan industri, tapi strategi geopolitik ekonomi. Negara yang menguasai rantai pasok mineral kritis akan punya daya tawar lebih tinggi dalam transisi energi global," ujar seorang ekonom senior yang meneliti kebijakan industri di Jakarta.
Di Sisi Lain: Risiko Valuasi dan Ketergantungan Komoditas
Namun, di sisi lain, ada sejumlah catatan kritis. Rasio investasi hilirisasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang terus naik membuat struktur ekonomi berpotensi terlalu bergantung pada siklus komoditas global. Ketika harga nikel dan batu bara terkoreksi, penerimaan negara dan arus investasi bisa langsung terdampak.
Proyeksi konservatif dari sejumlah lembaga riset menunjukkan harga nikel berpotensi turun 8-12 persen pada 2026-2027 akibat pasokan global yang melimpah, terutama dari Indonesia sendiri. Ini dapat menekan valuasi proyek hilirisasi dan memperlambat komitmen investasi baru.
Selain itu, tantangan struktural seperti kesiapan sumber daya manusia, pasokan energi bersih, dan infrastruktur logistik di wilayah timur Indonesia masih menjadi ganjalan. Rasio elektrifikasi di kawasan industri hilirisasi baru mencapai 92 persen, sementara kebutuhan industri baterai menuntut pasokan listrik yang stabil dan ramah lingkungan.
Pro dan Kontra dalam Proyeksi 2027
Pro: Target Rp2.900 triliun memberi sinyal kuat bahwa Indonesia serius membangun industri bernilai tambah. Jika terealisasi, sektor hilirisasi dapat menyumbang 7,2 persen terhadap PDB pada 2027, naik dari 5,1 persen pada 2023. Penciptaan lapangan kerja formal di sektor pengolahan juga diproyeksikan menembus 1,8 juta orang.
Kontra: Ketergantungan pada satu sektor menciptakan risiko konsentrasi. Pemerintah perlu memastikan kebijakan fiskal dan moneter tetap adaptif. Tanpa diversifikasi ke sektor jasa dan manufaktur non-komoditas, ekonomi rentan terhadap guncangan eksternal. Rasio utang terhadap PDB yang kini di level 39 persen juga perlu dijaga agar pembiayaan infrastruktur hilirisasi tidak membebani anggaran.
Ke depan, kunci keberhasilan bukan hanya pada besarnya angka investasi, tetapi pada kualitas realisasi, keberlanjutan lingkungan, dan pemerataan manfaat. Tren hilirisasi perlu dibarengi dengan penguatan institusi, kepastian hukum, dan transparansi perizinan agar portofolio investasi yang masuk benar-benar memberi nilai tambah jangka panjang bagi perekonomian nasional.
Comments (0)