Hashim Sebut Prabowo Curhat Program Bagus Belum Mulus
Sebuah pengakuan family affair mengemuka ke ranah publik, memperlihatkan sisi personal dari pemimpin tertinggi negeri. Hashim S. Djojohadikusumo, adik kandung Presiden Prabowo Subianto, mengungkapkan ...
Sebuah pengakuan family affair mengemuka ke ranah publik, memperlihatkan sisi personal dari pemimpin tertinggi negeri. Hashim S. Djojohadikusumo, adik kandung Presiden Prabowo Subianto, mengungkapkan bahwa sang kakak kerap meluapkan kegelisahannya dalam perbincangan santai. Topik yang paling sering menyeruak adalah nasib sejumlah program pemerintah yang secara konsep sudah gemilang, tetapi di tataran praktik masih jauh dari kata sempurna.
Pernyataan ini sontak membuka jendela baru tentang dinamika di balik dinding kekuasaan—bahwa seorang presiden pun bergelut dengan harapan dan frustrasi saat melihat ide-ide besarnya terjerat realitas birokrasi dan lapangan. Hashim menyampaikan hal tersebut dalam sebuah forum diskusi ekonomi tertutup di Jakarta, Selasa lalu, yang sedianya membahas tantangan investasi nasional.
Cerita dari Ruang Keluarga
Hashim menuturkan, perbincangan dengan Prabowo kerap terjadi di waktu-waktu informal—usai makan malam bersama, atau saat keluarga besar berkumpul di akhir pekan. Dalam kesempatan itulah, presiden mencurahkan isi hatinya. "Beliau bilang, banyak gagasan bagus yang sudah dirancang matang. Tapi begitu turun ke bawah, jalannya tidak semulus yang diharapkan," ujar Hashim, menirukan keluhan sang kakak.
Menariknya, curhat itu bukan sekadar keluhan kosong. Menurut Hashim, Prabowo selalu menyertai ceritanya dengan data dan evaluasi. Hal ini menunjukkan bahwa presiden tidak hanya mendengar laporan resmi dari para menteri, tetapi juga punya saluran pemantauan sendiri, termasuk melalui jaringan relawan dan masyarakat sipil.
Program Strategis yang Tersendat
Meski Hashim tidak merinci satu per satu program yang dimaksud, ia memberi petunjuk bahwa persoalan banyak terjadi pada program padat karya dan infrastruktur pedesaan. Kedua sektor ini menjadi andalan pemerintah dalam mendorong pemerataan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja jangka pendek. Namun, di banyak titik, implementasinya menghadapi beragam ganjalan.
Ambil contoh, proyek irigasi pertanian di sejumlah kabupaten. Desainnya sudah disesuaikan dengan kebutuhan petani lokal, tetapi pengerjaan di lapangan kerap terhambat kemampuan kontraktor yang minim pengalaman, keterbatasan alat berat, hingga cuaca. Akibatnya, serapan anggaran yang seharusnya memicu pertumbuhan ekonomi lokal justru melambat dan memicu keluhan warga.
Demikian pula program bantuan pangan bergizi untuk ibu hamil dan balita. Pakar gizi menyebut rancangan program ini sebagai salah satu yang paling komprehensif di Asia Tenggara. Tetapi distribusinya terkendala rantai dingin, infrastruktur pergudangan, dan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Presiden Prabowo, melalui Hashim, mengaku sedih karena target penurunan stunting yang ambisius terancam meleset jika hambatan ini tidak segera diurai.
Tantangan Klasik dan Modern
Pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Mirza Fahmi, mengatakan bahwa problem eksekusi semacam ini bukanlah hal baru. "Kita sering kali pintar merancang, tetapi lemah dalam delivery," katanya. Menurutnya, ada tiga faktor utama yang kerap menjadi batu sandungan: ketidaksiapan sumber daya manusia di tingkat pelaksana, tumpang tindih regulasi antar-kementerian, serta belum matangnya pemanfaatan teknologi digital dalam pengawasan.
Namun, di era pemerintahan Prabowo yang sangat menekankan digitalisasi, tantangan baru juga muncul: banyak program sudah mengandalkan platform digital, tetapi penetrasi internet di daerah terpencil masih rendah. Alhasil, sistem yang dirancang untuk memangkas birokrasi justru menambah rantai masalah baru—warga kesulitan mengakses, dan petugas lapangan gagap teknologi.
Dukungan Istana dan Harapan Perbaikan
Menanggapi pengakuan Hashim, pihak Istana Kepresidenan tidak membantah. Justru, seorang staf khusus presiden menyatakan bahwa keluhan itu adalah bagian dari mekanisme evaluasi internal yang lebih jujur. "Presiden tidak anti-kritik, bahkan dari orang terdekatnya sendiri. Itu yang membuat beliau terus mendorong reformasi birokrasi secara konsisten," ujar staf tersebut.
Langkah konkret sudah mulai bergulir. Kantor Staf Presiden tengah menggodok sistem pemantauan program prioritas berbasis data real-time yang mengintegrasikan laporan lapangan, citra satelit, dan kecerdasan buatan. Proyek percontohan di delapan provinsi dijadwalkan berjalan awal tahun depan. Harapannya, keluhan semacam yang disampaikan Prabowo kepada Hashim bisa diantisipasi lebih dini, bahkan sebelum menjadi masalah besar.
Citra Pemimpin dan Realita
Pengakuan Hashim ini memberikan dimensi baru pada sosok Prabowo yang selama ini dikenal tegas dan jarang menunjukkan keraguan. Publik kini bisa melihat bahwa di balik pidato-pidato penuh optimisme, ada proses reflektif yang terus berlangsung. Hal ini bisa dipandang positif karena menunjukkan sisi manusiawi dan keterbukaan untuk mengakui kelemahan.
Di sisi lain, muncul pula kekhawatiran bahwa curhat semacam ini bisa dimaknai sebagai ketidakmampuan pemerintah mengontrol mesin birokrasi. Namun, pengamat politik Ahmad Khoirul Umam menilai cerita justru ini bisa menjadi komunikasi politik yang efektif. "Dengan menyampaikan bahwa presiden tahu dan peduli soal hambatan di lapangan, publik bisa merasa aspirasinya didengar, meskipun jalannya tidak selalu mulus," tukasnya.
Hashim sendiri menutup pembicaraan dengan optimisme khas keluarga Djojohadikusumo. "Beliau selalu bilang, perbaikan itu proses. Yang penting kita tidak berhenti mencoba. Dan saya tahu, kakak saya bukan orang yang gampang menyerah." Pernyataan ini seakan menjadi pengingat bahwa di setiap rencana besar yang tersendat, selalu ada upaya untuk melicinkan kembali jalannya.
Baca juga:
Comments (0)