Oct 08, 2026
Bisnis

Hashim Proyeksi Harga Minyak Turun, Indonesia Dinilai Makin Terang

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per Oktober 2026, harga minyak mentah dunia jenis Brent masih bergerak di kisaran USD 75–80 per barel, sementara Indonesia crude pr...

Hashim Proyeksi Harga Minyak Turun, Indonesia Dinilai Makin Terang

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per Oktober 2026, harga minyak mentah dunia jenis Brent masih bergerak di kisaran USD 75–80 per barel, sementara Indonesia crude price (ICP) berada pada level USD 72–76 per barel. Di tengah volatilitas tersebut, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, menyatakan bahwa prospek perekonomian nasional justru semakin cerah apabila harga minyak dunia mengalami penurunan. Pernyataan ini menjadi sinyal penting bagi arah kebijakan energi dan fiskal ke depan.

Mengapa Harga Minyak Turun Bisa Menguntungkan Indonesia

Secara fundamental, Indonesia adalah net importer minyak—artinya konsumsi minyak dalam negeri lebih besar daripada produksi. Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), produksi minyak siap jual (lifting) nasional pada 2025 berada di kisaran 580–600 ribu barel per hari, sementara kebutuhan domestik mencapai 1,4–1,5 juta barel per hari. Selisih inilah yang membuat Indonesia rentan terhadap kenaikan harga minyak dunia.

Ketika harga minyak turun, beban impor energi berkurang. Ini berdampak langsung pada neraca perdagangan migas, yang sepanjang 2025 masih mencatat defisit sekitar USD 12–14 miliar per tahun. Penurunan harga juga meredam tekanan inflasi dari sisi imported inflation, sehingga daya beli masyarakat terjaga dan konsumsi rumah tangga—yang menyumbang sekitar 53% dari Produk Domestik Bruto (PDB)—bisa tetap tumbuh.

Dua Sisi Pandangan: Pro dan Kontra

Di satu sisi, penurunan harga minyak memberikan ruang fiskal lebih lega bagi pemerintah. Subsidi dan kompensasi energi, yang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 dialokasikan sekitar Rp 190–200 triliun, berpotensi ditekan. Dana tersebut bisa dialihkan untuk belanja produktif seperti infrastruktur, pendidikan, dan perlindungan sosial. Bagi dunia usaha, biaya produksi dan transportasi mengalami penurunan, sehingga margin perusahaan membaik dan iklim investasi lebih menarik.

Di sisi lain, harga minyak yang turun juga memukul penerimaan negara dari sektor hulu migas. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor ESDM pada 2025 mencapai sekitar Rp 250 triliun, dan sebagian besar berasal dari migas. Jika harga jatuh terlalu dalam—misalnya di bawah USD 60 per barel—pemerintah harus menyesuaikan asumsi makro APBN dan berpotensi memperlebar defisit anggaran. Selain itu, harga minyak rendah dapat memperlambat realisasi investasi di sektor energi terbarukan karena insentif ekonomi beralih kembali ke bahan bakar fosil.

“Indonesia dalam kondisi terang, dan kami optimistis harga minyak dunia akan menurun. Ini akan menjadi berkah bagi perekonomian kita,” ujar Hashim dalam pernyataannya.

Dampak pada Rupiah, Inflasi, dan Pasar Modal

Dari sisi sentimen pasar, penurunan harga minyak biasanya mengurangi tekanan capital outflow dari negara-negara berkembang. Rupiah berpotensi menguat karena permintaan dolar AS untuk impor energi berkurang. Bank Indonesia mencatat bahwa setiap kenaikan USD 10 per barel harga minyak dapat melebarkan defisit transaksi berjalan sekitar 0,2–0,3% dari PDB. Sebaliknya, penurunan harga akan memperbaiki rasio tersebut.

Di pasar modal, sektor transportasi, logistik, dan manufaktur cenderung diuntungkan karena biaya bahan bakar turun. Namun, emiten di sektor energi dan pertambangan justru menghadapi tekanan pada valuasi dan laba bersih. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara umum bisa bergerak positif apabila penurunan harga minyak diikuti oleh stabilitas global dan kebijakan moneter yang akomodatif.

Proyeksi ke depan, pemerintah perlu menjaga buffer fiskal dan memperkuat diversifikasi energi agar tidak sepenuhnya bergantung pada fluktuasi harga minyak. Tren transisi energi tetap menjadi agenda jangka panjang, terlepas dari naik-turunnya harga komoditas. Dengan fundamental yang solid dan likuiditas global yang memadai, Indonesia berada pada posisi yang relatif tangguh menghadapi dinamika pasar energi dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User