Oct 10, 2026
Bisnis

Harga Telur Anjlok, Peternak Terjepit Biaya Pakan Naik

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan asosiasi peternak per akhir kuartal, harga telur ayam ras di tingkat peternak mengalami penurunan yang cukup dalam, sementara biaya pakan justru berger...

Harga Telur Anjlok, Peternak Terjepit Biaya Pakan Naik

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan asosiasi peternak per akhir kuartal, harga telur ayam ras di tingkat peternak mengalami penurunan yang cukup dalam, sementara biaya pakan justru bergerak ke arah sebaliknya. Kondisi ini menciptakan tekanan ganda bagi pelaku usaha peternakan ayam petelur di berbagai sentra produksi, mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat. Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi musiman biasa, melainkan sinyal adanya ketidakseimbangan antara struktur biaya produksi dan dinamika harga jual di pasar.

Secara definisi, harga di tingkat peternak adalah harga yang diterima produsen sebelum barang masuk ke rantai distribusi dan perdagangan. Ketika harga ini turun di bawah harga pokok produksi, margin usaha menjadi negatif. Itulah yang kini dialami banyak peternak: kandang-kandang yang biasanya terisi penuh mulai kosong karena sebagian peternak mengurangi populasi ayam untuk menekan kerugian.

Tekanan dari Sisi Biaya Pakan

Pakan menyumbang sekitar 70 hingga 80 persen dari total biaya produksi telur. Komponen utama pakan, yakni jagung dan bungkil kedelai, memiliki harga yang sangat dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta harga komoditas global. Ketika rupiah melemah, biaya impor bahan baku pakan ikut naik, dan tekanan ini merambat ke peternak dalam waktu singkat.

Di satu sisi, kenaikan biaya pakan mencerminkan tekanan eksternal yang sulit dikendalikan pelaku usaha kecil. Di sisi lain, harga jual telur justru dibiarkan turun akibat pasokan yang melimpah. Kombinasi ini membuat rasio keuntungan terhadap biaya produksi mengecil, bahkan negatif bagi peternak dengan skala usaha terbatas. Tidak mengherankan jika sejumlah peternak memilih mengurangi jumlah ayam produktif, yang dalam jangka menengah berpotensi menurunkan pasokan nasional.

Pro dan Kontra di Tengah Pasar

Dari kacamata konsumen, harga telur yang rendah adalah kabar baik karena telur merupakan sumber protein hewani terjangkau bagi rumah tangga berpenghasilan menengah ke bawah. Penurunan harga membantu menjaga daya beli dan menekan inflasi pangan. Pro: masyarakat luas merasakan manfaat langsung berupa harga yang lebih ringan, terutama menjelang periode konsumsi tinggi.

Namun kontra: jika harga terlalu rendah dalam waktu lama, sinyal pasar yang diterima produsen adalah untuk keluar dari usaha. Ketika banyak peternak mengurangi populasi atau menutup kandang, pasokan bisa menciut tajam dalam beberapa bulan berikutnya, dan harga justru berpotensi melonjak. Pola ini menciptakan siklus harga yang berulang, dikenal sebagai siklus harga komoditas, yang pada akhirnya merugikan konsumen juga.

"Harga telur yang jatuh di bawah biaya produksi bukan hanya masalah peternak, tetapi masalah ketahanan pangan karena menyangkut keberlanjutan pasokan protein nasional," demikian gambaran yang sering disampaikan kalangan asosiasi peternak dalam berbagai forum.

Fundamental, Sentimen, dan Proyeksi ke Depan

Secara fundamental, permintaan telur cenderung inelastis: orang tetap membeli telur meski harganya berubah, karena tidak ada substitusi sempurna yang setara dari sisi harga dan nilai gizi. Karena itu, fluktuasi harga lebih banyak dipengaruhi sisi pasokan dan sentimen pasar, termasuk timing panen, siklus populasi ayam, serta kebijakan impor bahan baku.

Dari sisi proyeksi, jika pengurangan populasi ayam berlanjut, pasokan bisa menyusut dalam dua hingga tiga kuartal ke depan. Indeks harga pangan dan indeks nilai tukar akan menjadi indikator penting untuk memantau arah biaya pakan. Likuiditas usaha peternak skala kecil juga perlu dicermati, karena akses permodalan yang terbatas membuat mereka rentan terhadap periode kerugian berkepanjangan.

Di sisi lain, ada peluang perbaikan struktur. Integrasi rantai pasok, penggunaan bahan baku pakan lokal, dan efisiensi manajemen kandang dapat memperkuat fundamental usaha. Namun semua itu membutuhkan waktu dan dukungan kebijakan yang konsisten, bukan sekadar respons jangka pendek terhadap gejolak harga.

Kesimpulannya, penurunan harga telur di tengah kenaikan biaya pakan adalah persoalan dua sisi yang menuntut pembacaan hati-hati: di satu sisi menguntungkan konsumen dalam jangka pendek, di sisi lain mengancam keberlanjutan pasokan jika dibiarkan berkepanjangan. Neraca antara keduanya akan sangat menentukan arah portofolio pangan nasional dan stabilitas harga di bulan-bulan mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User