Oct 11, 2026
Bisnis

Harga Telur Anjlok, Peternak Demo dan Buang Stok

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan dan Badan Pusat Statistik per akhir kuartal pertama tahun ini, harga telur ayam ras di tingkat peternak mengalami penurunan yang cukup tajam. Dari harga acuan ...

Harga Telur Anjlok, Peternak Demo dan Buang Stok

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan dan Badan Pusat Statistik per akhir kuartal pertama tahun ini, harga telur ayam ras di tingkat peternak mengalami penurunan yang cukup tajam. Dari harga acuan yang berkisar antara Rp24.000 hingga Rp26.000 per kilogram pada periode yang sama tahun lalu, kini di sejumlah sentra produksi seperti Blitar, Kediri, dan Malang, harga di tingkat kandang merosot hingga menyentuh angka Rp17.000 sampai Rp19.000 per kilogram. Penurunan ini memicu gelombang protes dari kalangan peternak ayam petelur yang berujung pada aksi demonstrasi, termasuk aksi simbolik dengan melempar dan membuang telur ke jalan.

Dalam konteks ekonomi, telur ayam ras merupakan salah satu komoditas pangan strategis yang memiliki karakteristik permintaan inelastis. Artinya, perubahan harga tidak serta-merta diikuti oleh perubahan jumlah permintaan yang signifikan. Ketika pasokan melimpah sementara daya beli masyarakat tidak tumbuh secepat produksi, maka harga di tingkat produsen akan tertekan. Fenomena ini dikenal sebagai over-supply atau kelebihan pasokan, yang pada akhirnya memukul margin peternak hingga di bawah titik impas.

Mengapa Harga di Tingkat Peternak Runtuh?

Di satu sisi, lonjakan produksi telur dalam beberapa tahun terakhir tidak diimbangi oleh pertumbuhan konsumsi domestik yang memadai. Data Kementerian Pertanian menunjukkan produksi telur nasional pada tahun lalu menembus 5,6 juta ton, tumbuh sekitar 7,2 persen year-on-year, sementara konsumsi per kapita hanya meningkat sekitar 2,8 persen. Kesenjangan ini menciptakan tekanan berlebih pada sisi pasokan yang tidak terserap pasar secara optimal.

Di sisi lain, faktor musiman turut memperparah situasi. Periode pasca-Lebaran dan tahun ajaran baru biasanya diikuti oleh penurunan permintaan dari sektor industri makanan olahan dan katering. Akibatnya, stok menumpuk di gudang peternak dan distributor, memaksa mereka menjual dengan harga rendah agar tidak mengalami kerugian lebih besar akibat telur yang rusak. Biaya pakan yang masih menjadi komponen 70-75 persen dari total biaya produksi juga membuat ruang manuver peternak sangat sempit. Ketika harga jual jatuh, sementara harga jagung dan konsentrat tetap tinggi, margin keuntungan langsung tergerus.

Dampak Rantai Pasok dan Likuiditas Peternak

Tekanan harga ini berdampak langsung pada likuiditas usaha peternak skala kecil dan menengah. Banyak peternak yang mengandalkan pinjaman modal kerja dari perbankan atau koperasi kini menghadapi kesulitan arus kas. Rasio pendapatan terhadap biaya operasional yang semula berada di kisaran 1,15 — artinya masih ada margin tipis — kini merosot mendekati 0,85, yang berarti peternak menjual di bawah biaya produksi. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan gelombang kebangkrutan dan pengurangan populasi ayam petelur dalam beberapa bulan ke depan, yang pada gilirannya dapat menyebabkan lonjakan harga secara mendadak di kemudian hari atau yang biasa disebut siklus ayam.

"Harga telur di tingkat peternak saat ini sudah tidak mencerminkan struktur biaya produksi yang wajar. Jika dibiarkan, ini bukan hanya soal kerugian sesaat, tetapi ancaman terhadap ketahanan pangan nasional ke depan," ujar seorang pengamat ekonomi pertanian dari sebuah lembaga riset independen.

Dari kacamata sentimen pasar, aksi demo dan pembuangan telur ini sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri pangan olahan. Namun, sejumlah analis menilai bahwa gejolak ini lebih bersifat sementara dan bersumber dari disrupsi pasokan jangka pendek. Proyeksi ke depan memperkirakan harga dapat kembali stabil jika ada intervensi kebijakan yang tepat, seperti penyerapan stok oleh pemerintah melalui program bantuan pangan atau operasi pasar terbatas yang menyasar konsumen akhir, bukan hanya di tingkat distributor.

Langkah Kebijakan dan Proyeksi ke Depan

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menyatakan telah mengidentifikasi sejumlah penyebab struktural, termasuk lemahnya informasi pasar dan minimnya data produksi yang akurat di tingkat daerah. Salah satu usulan yang mengemuka adalah penerapan rasio pasokan-permintaan yang terukur serta penguatan sistem logistik pendingin agar telur tidak cepat rusak saat terjadi kelebihan stok. Selain itu, diversifikasi produk olahan telur — seperti telur bubuk dan telur pasteurisasi — dinilai dapat menjadi katup pengaman ketika pasar segar mengalami kejenuhan.

Namun, kebijakan jangka pendek seperti pembatasan impak atau relaksasi impor bahan pakan perlu dipertimbangkan secara hati-hati. Jika pemerintah terlalu agresif menekan harga di tingkat konsumen demi menjaga inflasi pangan, maka tekanan justru akan berpindah ke peternak sebagai produsen. Sebaliknya, bila harga dibiarkan tinggi tanpa kendali, daya beli masyarakat rentan tergerus. Di sinilah pentingnya kebijakan yang seimbang: melindungi konsumen tanpa mematikan insentif produsen.

Ke depan, fundamental industri peternakan telur nasional masih cukup kuat jika dilihat dari tren konsumsi protein hewani yang terus meningkat seiring pertumbuhan kelas menengah. Namun, tanpa perbaikan tata kelola pasokan dan transparansi harga, siklus jatuh-bangun harga telur akan terus berulang. Pelaku pasar disarankan mencermati indikator produksi bulanan dan kebijakan pemerintah sebelum mengambil keputusan portofolio pada sektor terkait. Pada akhirnya, keseimbangan antara produksi, konsumsi, dan intervensi kebijakan akan menjadi kunci stabilitas harga telur dalam beberapa kuartal mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User