Harga Telur Anjlok, Bapanas Usulkan Tambahan Kuota Jagung Pakan 150 Ribu Ton

Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas) per awal Juli 2026, harga telur ayam ras di tingkat peternak pada sejumlah daerah sentra produksi masih berada dalam tren menurun. Di Temanggung, Jawa ...

Aug 21, 2026 - 07:50
0 0
Harga Telur Anjlok, Bapanas Usulkan Tambahan Kuota Jagung Pakan 150 Ribu Ton

Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas) per awal Juli 2026, harga telur ayam ras di tingkat peternak pada sejumlah daerah sentra produksi masih berada dalam tren menurun. Di Temanggung, Jawa Tengah, harga telur tercatat anjlok ke kisaran Rp17.000 hingga Rp18.000 per kilogram, jauh di bawah estimasi biaya produksi rata-rata peternak yang masih terbebani oleh tingginya harga pakan. Kondisi ini mendorong Bapanas mengusulkan penambahan kuota program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan hingga 150 ribu ton.

Jagung pakan merupakan komponen terbesar dalam struktur biaya produksi telur, dengan porsi mencapai sekitar 50 hingga 60 persen dari total biaya pakan. Karena itu, penyediaan jagung dengan harga lebih rendah melalui mekanisme SPHP dinilai menjadi salah satu instrumen paling langsung untuk menekan biaya produksi tanpa harus mendorong harga telur naik di tingkat konsumen. Usulan penambahan kuota ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah menilai tekanan di sisi peternak sudah cukup dalam untuk membutuhkan intervensi pada harga input.

Mekanisme SPHP Jagung dan Tekanan di Sisi Peternak

Program SPHP jagung pakan pada dasarnya merupakan instrumen intervensi pasar yang menjual jagung kepada peternak melalui mitra resmi dengan harga di bawah harga pasar. Semakin besar kuota yang dialokasikan, semakin luas peternak yang dapat mengakses jagung murah, sehingga biaya produksi secara agregat berpeluang turun. Bapanas memperkirakan tambahan 150 ribu ton tersebut akan memperkuat pasokan jagung SPHP di daerah-daerah yang selama ini mengeluhkan harga jagung pakan masih tinggi.

Penurunan harga telur di tingkat peternak sebenarnya telah berlangsung sejak beberapa bulan terakhir, seiring normalisasi permintaan pascaperiode hari raya dan meningkatnya pasokan dari peternak yang memperluas produksi pada awal tahun. Secara year-on-year, indeks harga telur pada semester pertama 2026 mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kombinasi antara harga jual yang turun dan biaya pakan yang masih relatif kaku membuat margin banyak peternak menyempit hingga berada di bawah titik impas.

Di Satu Sisi: Manfaat Intervensi bagi Peternak Skala Kecil

Dari sisi fundamental, penambahan kuota jagung SPHP merupakan respons yang tepat sasaran. Jika biaya pakan dapat ditekan, tekanan pada harga telur di tingkat peternak akan mereda tanpa mengorbankan daya beli konsumen. Dalam jangka pendek, langkah ini juga menjaga likuiditas usaha peternak skala kecil dan menengah yang menjadi penopang utama pasokan telur nasional. Banyak peternak mandiri yang terpaksa menjual di bawah biaya produksi karena daya tawar mereka terhadap pemasok jagung relatif lemah.

Pro: penambahan kuota berpotensi menekan biaya pakan sekitar 5 hingga 10 persen di tingkat peternak, mempercepat pemulihan margin, dan menjaga pasokan telur tetap stabil menjelang periode permintaan tinggi pada akhir tahun. Intervensi pada sisi input juga dinilai lebih efektif dibandingkan subsidi langsung kepada konsumen karena menyasar akar masalah, yaitu struktur biaya produksi yang membengkak.

Di Sisi Lain: Risiko Distorsi dan Efektivitas Penyaluran

Di sisi lain, kuota yang terlalu besar berisiko mengganggu keseimbangan pasar jagung domestik. Petani jagung lokal dapat mengalami penurunan harga jual karena pasokan murah dari program SPHP membanjiri pasar, sehingga beban masalah hanya bergeser dari peternak ayam kepada petani jagung. Selain itu, distribusi kuota yang tidak merata berpotensi menimbulkan disparitas harga antardaerah, sementara pengawasan penyaluran yang kerap menjadi tantangan dapat menurunkan efektivitas program.

Kontra: apabila realisasi penyaluran tidak tepat sasaran, sebagian kuota dapat dinikmati pedagang perantara dan justru memperlebar selisih harga antara peternak besar dan kecil. Pengalaman program-program serupa menunjukkan bahwa tanpa pendataan penerima yang akurat, intervensi harga input kerap bocor ke pihak yang tidak membutuhkan. Rasio antara harga jual telur dan biaya produksi (R/C ratio) yang berada di bawah satu di banyak daerah menjadi indikator bahwa sebagian peternak kini beroperasi di zona rugi, sehingga kecepatan realisasi kuota menjadi kunci.

Proyeksi Harga dan Implikasi Makroekonomi

Dengan tambahan kuota tersebut, proyeksi harga telur nasional hingga akhir tahun diperkirakan masih bergerak fluktuatif mengikuti pola musiman permintaan. Sentimen pasar akan sangat bergantung pada seberapa cepat kuota direalisasikan dan seberapa luas jangkauannya ke peternak kecil di daerah. Secara makro, stabilisasi harga telur turut berkontribusi menahan laju inflasi pangan, yang menjadi salah satu perhatian utama bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mencegah tekanan capital outflow di pasar keuangan domestik.

"Penambahan kuota jagung SPHP adalah langkah yang tepat dalam jangka pendek, tetapi pemerintah perlu memastikan penyalurannya tepat sasaran agar tidak menciptakan distorsi baru di pasar jagung. Tanpa perbaikan struktur, intervensi ini hanya menunda masalah," ujar seorang analis pertanian dalam keterangannya.

Para pengamat mengingatkan bahwa intervensi harga input hanyalah solusi jangka pendek. Masalah struktural seperti fluktuasi harga pakan, rendahnya efisiensi skala usaha, dan rantai distribusi yang panjang tetap menjadi pekerjaan rumah utama. Valuasi keekonomian usaha peternakan telur ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara kepentingan peternak dan petani jagung, sekaligus memastikan anggaran intervensi digunakan secara efisien.

Kebijakan kuota tambahan ini kini menunggu keputusan final pemerintah. Yang jelas, arah kebijakan ke depan akan menentukan apakah pemulihan margin peternak benar-benar terjadi, atau hanya menjadi solusi sementara yang kembali menghadapi masalah yang sama ketika kuota habis.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User