Berdasarkan data pemantauan harga pangan di sejumlah pasar tradisional Jakarta per Jumat (28/8), Indeks Harga Konsumen (IHK) kembali menghadapi tekanan dari komponen bergejolak atau volatile food. Bank Indonesia menetapkan sasaran inflasi 2026 pada kisaran 2,5 persen plus minus satu persen secara year-on-year, dan pergerakan harga komoditas pokok dalam sepekan terakhir berpotensi menguji proyeksi tersebut. Daging ayam ras tercatat menyentuh Rp38 ribu per kilogram, naik dari kisaran Rp35 ribu hingga Rp36 ribu pada pekan sebelumnya, sementara telur ayam ras dan cabai merah ikut menguat mengikuti pola musiman khas menjelang akhir tahun.
Kenaikan ini tidak berdiri sendiri. Di pasar induk, harga telur ayam ras bergerak naik sekitar lima hingga tujuh persen dalam sepekan dan mendekati level Rp29 ribu per kilogram, sedangkan cabai merah keriting yang sempat melandai kembali menguat ke kisaran Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram seiring menyusutnya pasokan dari sentra produksi di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Bagi rumah tangga berpenghasilan menengah ke bawah, ketiga komoditas ini sulit disubstitusi dalam jangka pendek, sehingga gejolak harganya langsung terekam dalam belanja harian dan berpotensi menaikkan ekspektasi inflasi konsumen.
Pemicu Kenaikan: Pasokan, Musim, dan Biaya Produksi
Dari sisi penawaran, kenaikan harga ayam ras dipengaruhi pola produksi day old chick (DOC) yang dikelola peternak skala besar. Ketika permintaan DOC menurun pada awal tahun, pasokan ayam siap potong di pasar ikut berkurang dua hingga tiga bulan kemudian, menciptakan siklus harga yang khas pada komoditas ini. Di sisi biaya, harga jagung pakan dan konsentrat yang masih tinggi menekan margin peternak, sehingga sebagian pelaku usaha memilih menahan laju produksi ketimbang memproduksi di bawah biaya.
Untuk cabai merah, faktor cuaca menjadi variabel utama. Peralihan musim kemarau ke penghujan di sejumlah daerah sentra membuat hasil panen menurun karena tanaman rentan terhadap penyakit dan pembusukan. Logistik dari daerah produksi ke Jakarta ikut memperlambat pasokan, dan selisih harga di tingkat petani dengan di pasar konsumen melebar lantaran rantai distribusi yang panjang serta biaya transportasi yang belum turun signifikan.
Dua Sisi: Beban Konsumen versus Pemulihan Peternak
Di satu sisi, kenaikan harga pangan menekan daya beli karena pangan menempati porsi terbesar dalam portofolio belanja rumah tangga, terutama golongan menengah ke bawah. Jika tren kenaikan ini berlanjut, komponen volatile food berpotensi menyumbang tambahan inflasi tahunan yang dihitung BPS. Ekonom menilai tekanan ini masih tertahan karena harga energi dan sewa cenderung stabil, namun risiko inflasi pangan tetap perlu diwaspadai mengingat bobotnya yang signifikan dalam keranjang Indeks Harga Konsumen.
Di sisi lain, bagi peternak dan petani, kenaikan harga justru membawa angin segar. Sepanjang semester pertama tahun ini, harga ayam hidup sempat berada di bawah biaya produksi, membuat banyak peternak mandiri menanggung kerugian dan sebagian memilih berhenti berproduksi. Kondisi harga yang membaik saat ini membantu memperbaiki valuasi harga jual terhadap biaya produksi serta rasio margin usaha peternakan, sehingga pasokan nasional diharapkan tidak semakin menyusut dalam beberapa bulan ke depan.
Respons Pemerintah dan Proyeksi ke Depan
Menghadapi pergerakan ini, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional dan Perum Bulog memiliki sejumlah instrumen, mulai dari operasi pasar, penguatan stok cadangan pangan, hingga fasilitasi distribusi dari daerah sentra. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan intervensi yang tepat waktu dapat meredam gejolak harga cabai dan telur dalam waktu dua hingga empat pekan. Namun efektivitasnya bergantung pada koordinasi antardaerah karena sebagian besar pasokan pangan Jakarta berasal dari provinsi tetangga.
Proyeksi jangka pendek menunjukkan tekanan harga berpotensi bertahan hingga akhir tahun seiring meningkatnya permintaan menjelang libur panjang dan hari besar. Dari sisi makro, sentimen pasar keuangan domestik masih dipengaruhi dinamika suku bunga global; apabila tekanan capital outflow berlanjut, likuiditas di pasar obligasi pemerintah mengetat dan nilai tukar rupiah tertekan, yang pada akhirnya menaikkan biaya impor bahan baku pakan. Sebaliknya, jika pasokan domestik pulih lebih cepat dari perkiraan, tekanan harga dapat mereda lebih awal dan inflasi tetap berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia.
Para pengamat menilai kunci utama adalah memastikan rantai pasok berjalan lancar dan data harga di tingkat petani tidak terputus dari pasar konsumen. Fundamental pasokan pangan nasional pada dasarnya masih cukup, sehingga gejolak harga kali ini lebih bersifat musiman dibandingkan struktural. Dengan pengelolaan stok yang baik dan transparansi harga, ekspektasi inflasi masyarakat dapat dijaga, dan daya beli rumah tangga tetap terlindungi tanpa mengorbankan insentif bagi produsen di hulu.
Comments (0)