Harga Emas Stagnan di Tengah Konflik Timur Tengah: Analisis Dua Sisi

Ketegangan di Timur Tengah kembali mencuat tajam sepanjang pekan ketiga Oktober 2024. Eskalasi serangan antara Israel, Hizbullah, dan Iran memicu kekhawatiran akan perang regional yang lebih luas. Nam...

Jul 28, 2026 - 09:58
0 0
Harga Emas Stagnan di Tengah Konflik Timur Tengah: Analisis Dua Sisi

Ketegangan di Timur Tengah kembali mencuat tajam sepanjang pekan ketiga Oktober 2024. Eskalasi serangan antara Israel, Hizbullah, dan Iran memicu kekhawatiran akan perang regional yang lebih luas. Namun, alih-alih melonjak seperti yang diharapkan dari aset safe haven tradisional, harga emas justru menunjukkan pergerakan yang mengejutkan: stagnasi. Berdasarkan data pasar spot, pada penutupan perdagangan Rabu (23/10), harga emas internasional bertengger di level US$2.715 per troy ounce, nyaris identik dengan posisi US$2.710 pada 18 Oktober. Fenomena ini memunculkan perdebatan di kalangan analis: mengapa logam mulia gagal terbang saat geopolitik sedang memanas?

Ketegangan Geopolitik versus Fundamental Makro

Secara konvensional, peningkatan risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah hampir selalu menjadi pemicu reli harga emas. Konflik yang melibatkan Israel dan Iran, dua kekuatan regional dengan pengaruh pada pasokan energi, seharusnya mendorong investor global untuk memburu aset lindung nilai. Di satu sisi, permintaan fisik emas dari bank sentral dan konsumen di Asia memang mengalami kenaikan. Menurut data World Gold Council, pembelian emas oleh bank sentral global pada kuartal III 2024 mencapai 337 ton, meningkat 12% year-on-year, dengan kontribusi signifikan dari Tiongkok dan India. Di sisi lain, tekanan dari fundamental makro global ternyata lebih dominan dalam membentuk arah harga. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menyentuh level 4,85%, tertinggi dalam 16 tahun terakhir, seiring dengan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi di atas 5,25% lebih lama dari perkiraan. Emas yang merupakan aset tanpa imbal hasil (non-yielding) kehilangan daya tariknya dibandingkan surat utang yang memberikan kupon menarik.

Peran Dominasi Dolar AS dan Data Inflasi

Dari sisi mata uang, indeks dolar AS (DXY) menguat ke level 106,2 pada pekan yang sama, didukung oleh data ekonomi yang solid. Indeks harga konsumen inti (core CPI) bulan September mencatat kenaikan 0,3% month-to-month, sedikit di atas ekspektasi pasar. Hal ini mengindikasikan bahwa inflasi masih membandel dan membuka ruang bagi The Fed untuk menunda pemangkasan suku bunga. Dolar yang perkasa otomatis menekan harga emas karena logam mulia menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Para analis menilai bahwa tarik-menarik antara kekhawatiran geopolitik dan fundamental suku bunga tinggi inilah yang menciptakan kondisi stagnasi. "Pasar saat ini lebih dikendalikan oleh arus modal institusional yang berbasis data ketimbang sentimen sesaat. Selama data tenaga kerja dan inflasi AS tetap kuat, dorongan dari konflik regional akan teredam," ujar seorang ekonom senior di Jakarta.

Aliran Dana dan Perilaku Investor yang Terbelah

Data pasar berjangka dan ETF semakin mempertegas gambaran stagnasi. Di Commodity Exchange (COMEX), posisi net long spekulatif pada kontrak emas menurun sebesar 8% dalam dua pekan terakhir, menandakan bahwa hedge fund dan spekulan mengurangi eksposur. Sementara itu, exchange-traded fund (ETF) berbasis emas mencatat arus keluar bersih sebesar US$1,2 miliar sepanjang Oktober, mengonfirmasi pergeseran preferensi ke aset pendapatan tetap. Namun, di pasar fisik, situasinya berbeda. Pusat-pusat perdagangan emas seperti London dan Swiss melaporkan lonjakan pengiriman emas batangan ke negara-negara Timur Tengah dan India. Permintaan dari konsumen ritel dan perhiasan justru naik seiring musim festival Diwali dan kekhawatiran akan ketidakstabilan regional. Sayangnya, segmen ini tidak memiliki bobot yang cukup untuk menggerakkan harga spot global, yang lebih sensitif terhadap sentimen makro dan posisi spekulatif.

Pelajaran dari Sejarah: Konflik Tidak Selalu Menguntungkan Emas

Sejarah membuktikan bahwa hubungan antara konflik geopolitik dan harga emas tidak selalu linear. Pada saat invasi Irak tahun 2003, harga emas justru turun 1,5% dalam sepekan karena dolar AS melonjak tajam direspons pasar sebagai mata uang aman. Pola yang sama terlihat pada krisis Semenanjung Korea 2017 dan beberapa ketegangan Teluk Persia sebelumnya. Kuncinya terletak pada apakah konflik tersebut mengganggu pasokan energi global atau memicu resesi yang dalam. Selama dampaknya terbatas, emas tidak langsung menjadi buruan utama. Dalam konteks saat ini, meskipun ada ancaman terhadap Selat Hormuz, aliran minyak belum terganggu secara signifikan sehingga pasar komoditas tidak panik.

Proyeksi: Tarik-Menarik Berlanjut

Ke depan, arah harga emas akan sangat tergantung pada dua katalis utama: pidato Ketua The Fed yang dijadwalkan pekan depan dan potensi eskalasi konflik yang dapat menyeret kekuatan besar. Jika The Fed memberikan sinyal dovish dengan menyinggung perlambatan ekonomi, emas berpeluang menembus level resisten di US$2.750. Namun, apabila data tenaga kerja AS bulan Oktober kembali positif, tekanan pada emas akan meningkat. Analis dari beberapa bank investasi memproyeksikan skenario yang terbelah: beberapa mempertahankan target harga akhir tahun di kisaran US$2.800 dengan asumsi eskalasi geopolitik, sementara lainnya merevisi turun ke US$2.600 jika suku bunga tetap tinggi. Bagi investor, stagnasi saat ini adalah cerminan dari tarik-menarik antara ketakutan dan kalkulasi rasional. Satu hal yang pasti: dalam pusaran ketidakpastian ini, emas masih dianggap sebagai penyimpan nilai, namun tidak imun terhadap hukum-hukum ekonomi makro.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User