Harga Emas Antam Terkoreksi ke Rp2,65 Juta, Sentimen Pasar Global Menekan

Berdasarkan data perdagangan logam mulia domestik pada Jumat, 7 Agustus 2025, harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami penurunan sebesar Rp29 ribu per gram, menjadi Rp2,65 j...

Aug 07, 2026 - 14:19
0 0
Harga Emas Antam Terkoreksi ke Rp2,65 Juta, Sentimen Pasar Global Menekan

Berdasarkan data perdagangan logam mulia domestik pada Jumat, 7 Agustus 2025, harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami penurunan sebesar Rp29 ribu per gram, menjadi Rp2,65 juta per gram. Koreksi ini terjadi setelah sebelumnya harga emas sempat bertahan di level psikologis Rp2,68 juta per gram pada perdagangan sebelumnya. Pergerakan ini sejalan dengan dinamika pasar global yang dipengaruhi oleh data ekonomi Amerika Serikat dan pergerakan indeks dolar.

Fundamental Pasar: Tekanan dari Penguatan Dolar dan Imbal Hasil Obligasi

Penurunan harga emas Antam hari ini tidak terlepas dari sentimen eksternal yang dominan. Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS (DXY) menguat sekitar 0,4 persen dalam dua hari terakhir, mencapai level 104,7. Penguatan dolar ini secara langsung menekan harga emas yang diperdagangkan dalam denominasi mata uang tersebut. Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga naik ke kisaran 4,2 persen, meningkatkan biaya oportunitas bagi investor yang memegang aset tanpa bunga seperti emas.

Pro: Penurunan harga ini dapat menjadi momentum akumulasi bagi investor jangka panjang yang melihat fundamental emas masih kuat. Bank sentral global, terutama di Asia, tercatat terus menambah cadangan emas mereka. Data World Gold Council menunjukkan pembelian emas oleh bank sentral mencapai 1.137 ton pada paruh pertama 2025, meningkat 12 persen year-on-year. Hal ini menunjukkan permintaan struktural tetap solid meskipun harga terkoreksi.

Kontra: Namun, dari sisi teknikal, penembusan level support Rp2,66 juta per gram dapat memicu pelemahan lebih lanjut. Analis pasar komoditas mencatat bahwa posisi spekulatif net-long di pasar berjangka Comex telah turun 8 persen dalam sepekan terakhir, mengindikasikan adanya aksi ambil untung oleh pelaku pasar. Jika tekanan ini berlanjut, bukan tidak mungkin harga emas Antam akan menguji level Rp2,62 juta per gram dalam beberapa hari ke depan.

"Koreksi ini adalah bagian dari siklus normal setelah reli 15 persen sepanjang tahun ini. Investor perlu memperhatikan data inflasi AS yang akan dirilis pekan depan, karena itu akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed," ujar seorang ekonom di lembaga riset pasar modal, merujuk pada proyeksi inflasi inti yang masih di atas target 2 persen.

Perbandingan Harga dan Dampak pada Likuiditas Domestik

Pada perdagangan hari ini, harga pembelian kembali (buyback) emas Antam juga turun sebesar Rp29 ribu menjadi Rp2,44 juta per gram. Selisih antara harga jual dan buyback mencapai Rp210 ribu per gram, yang mencerminkan biaya premium dan margin yang diterapkan Antam. Angka ini relatif stabil dibandingkan pekan lalu, menunjukkan tidak ada perubahan signifikan pada biaya produksi atau distribusi.

Di sisi likuiditas pasar domestik, penurunan harga ini justru menarik minat pembeli di beberapa gerai. Berdasarkan pantauan di platform perdagangan emas digital, volume transaksi pada pagi hari ini meningkat 15 persen dibandingkan rata-rata harian pekan sebelumnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian investor memanfaatkan koreksi untuk menambah portofolio, sementara yang lain memilih menunggu hingga harga stabil di bawah level psikologis Rp2,6 juta.

Pro: Bagi investor ritel, harga yang lebih rendah berarti barrier to entry yang lebih kecil. Dengan harga Rp2,65 juta per gram, investor dapat membeli emas dalam pecahan 0,5 gram dengan nilai sekitar Rp1,32 juta, sehingga lebih terjangkau untuk diversifikasi aset. Data historis menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir, setiap koreksi di bawah 2 persen selalu diikuti oleh rebound rata-rata 4 persen dalam 30 hari berikutnya.

Kontra: Namun, perlu dicatat bahwa tren harga emas juga dipengaruhi oleh kebijakan moneter domestik. Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen pada bulan Juli, yang membuat imbal hasil riil obligasi pemerintah Indonesia masih menarik. Hal ini dapat mengalihkan sebagian dana investor dari emas ke instrumen pendapatan tetap, terutama jika terjadi capital outflow dari pasar komoditas.

Proyeksi Jangka Pendek dan Strategi Diversifikasi

Melihat data teknikal, harga emas dunia saat ini berada di kisaran USD 2.410 per troy ounce, turun dari level tertinggi sepanjang masa di USD 2.480 pada bulan Juni. Moving average 50 hari masih berada di atas moving average 200 hari, yang secara umum mengindikasikan tren jangka menengah masih bullish. Namun, indikator RSI (Relative Strength Index) harian berada di level 58, menunjukkan momentum yang mulai melemah dari kondisi overbought sebelumnya.

Untuk pasar domestik, proyeksi harga emas Antam hingga akhir kuartal III 2025 akan sangat bergantung pada dua faktor utama. Pertama, keputusan Federal Reserve pada pertemuan September mengenai suku bunga. Berdasarkan Fed Funds Futures, probabilitas penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai 62 persen. Jika ini terjadi, harga emas berpotensi naik kembali ke level Rp2,7 juta per gram. Kedua, stabilitas nilai tukar rupiah yang saat ini berada di level Rp16.150 per dolar AS. Pelemahan rupiah lebih lanjut akan meningkatkan harga emas dalam denominasi lokal, meskipun harga internasional flat.

Sebagai penutup, penting bagi investor untuk tidak hanya melihat pergerakan harga harian, tetapi juga memahami bahwa emas berfungsi sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik. Dengan inflasi domestik yang masih di kisaran 3,2 persen year-on-year, dan ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok yang belum mereda, permintaan emas sebagai aset safe haven diperkirakan tetap terjaga. Namun, alokasi ideal dalam portofolio sebaiknya tidak melebihi 10-15 persen, mengingat volatilitas jangka pendek yang dapat mempengaruhi nilai investasi secara signifikan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User