Harga Daging dan Telur Ayam Naik, Cabai Rawit Justru Turun Tajam

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) per 23 Juli 2026, dinamika harga komoditas pangan di Pasar Induk Kramat Jati dan sejumlah pasar tradisional Jakarta menunjukkan pergerak...

Harga Daging dan Telur Ayam Naik, Cabai Rawit Justru Turun Tajam

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) per 23 Juli 2026, dinamika harga komoditas pangan di Pasar Induk Kramat Jati dan sejumlah pasar tradisional Jakarta menunjukkan pergerakan yang saling bertolak belakang. Komoditas sumber protein hewani seperti daging ayam ras dan telur ayam ras mengalami kenaikan signifikan, sementara harga cabai rawit justru anjlok hingga menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir.

Kenaikan Harga Protein Hewani

Harga daging ayam ras segar di tingkat pedagang eceran kini bertengger di kisaran Rp38.500 per kilogram, naik sekitar 8,2 persen dibandingkan posisi akhir Juni 2026 yang berada di Rp35.600 per kilogram. Secara year-on-year, kenaikan ini bahkan mencapai 12,7 persen. Sementara itu, telur ayam ras juga ikut merangkak naik menjadi Rp31.200 per kilogram, atau meningkat 5,8 persen secara bulanan. Tren ini didorong oleh kombinasi beberapa faktor fundamental: melonjaknya permintaan menjelang musim libur sekolah dan perayaan hari besar keagamaan, serta tekanan biaya produksi akibat harga pakan ternak yang masih tinggi. Harga jagung pipilan kering sebagai bahan baku utama pakan tercatat naik 6,3 persen year-on-year, sementara bungkil kedelai impor juga masih dibayangi pelemahan nilai tukar rupiah.

Dari sisi peternak, kenaikan harga jual ini menjadi angin segar setelah beberapa bulan sebelumnya margin keuntungan mereka tergerus oleh mahalnya biaya operasional. Seorang pedagang di Pasar Senen, Agus (45), mengungkapkan, “Pasokan dari pemasok sebenarnya lancar, tapi permintaan ke warung makan dan katering sedang tinggi-tingginya. Jadi harga di tingkat peternak juga ikut naik.”

Penurunan Harga Cabai Rawit

Berbeda dengan daging dan telur, harga cabai rawit merah justru mencatatkan penurunan paling tajam. Komoditas yang sempat menyentuh Rp80.000 per kilogram pada akhir Mei 2026 itu kini diperdagangkan di kisaran Rp32.000–Rp35.000 per kilogram, atau turun lebih dari 56 persen dalam waktu kurang dari dua bulan. Penurunan ini dipicu oleh masuknya panen raya di sentra-sentra produksi utama seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung, yang menyebabkan suplai melimpah ke pasar induk.

Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DKI Jakarta mencatat volume pasokan cabai rawit yang masuk ke Pasar Induk Kramat Jati pada pekan ketiga Juli 2026 mencapai 127 ton per hari, naik 42 persen dibandingkan rata-rata pasokan pada Mei lalu yang hanya 89 ton per hari. Kondisi ini menciptakan tekanan deflasi pada kelompok bahan pangan bumbu dapur, sekaligus membantu meredam laju inflasi pangan secara umum.

Dua Sisi Mata Uang

Fluktuasi harga yang berlawanan arah ini menghadirkan dampak berlapis bagi berbagai pihak. Di satu sisi, konsumen rumah tangga diuntungkan oleh murahnya harga cabai. Bahan baku sambal dan bumbu masak yang selama ini kerap menjadi biang inflasi kini bisa diperoleh dengan harga lebih ramah di kantong. “Alhamdulillah, sekarang belanja cabai nggak bikin jantungan. Semoga tahan lama,” kata Nurhayati (38), ibu rumah tangga di kawasan Pasar Minggu. Namun, di sisi lain, kenaikan harga daging dan telur ayam menambah beban pengeluaran, terutama bagi keluarga yang mengandalkan protein hewani sebagai lauk utama harian. Kombinasi keduanya membuat dinamika belanja rumah tangga terasa seperti kompensasi yang parsial.

Bagi produsen, gambaran yang terjadi pun paradoksal. Peternak ayam petelur dan pedaging memperoleh margin yang lebih tebal setelah berbulan-bulan berjibaku dengan harga pokok produksi yang tertekan. Sebaliknya, petani cabai harus rela menerima harga jual yang anjlok di bawah titik impas (break-even point) yang diperkirakan berada di kisaran Rp25.000–Rp30.000 per kilogram, tergantung sistem budi daya. Di sejumlah daerah, petani bahkan memilih membiarkan cabai membusuk atau tidak dipanen karena ongkos petik lebih mahal daripada harga jual.

“Ini anomali pasar yang wajar dalam siklus komoditas. Di satu sisi, konsumen protein mungkin merasa tercekik, tapi di sisi lain, ketersediaan bumbu dapur dalam jumlah besar mengompensasi sebagian tekanan inflasi. Yang perlu diwaspadai adalah jika disparitas ini berlangsung terlalu lama, bisa memicu ketidakseimbangan insentif produksi di tingkat hulu,” ujar ekonom dari Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia, Raditya Permana.

Proyeksi dan Antisipasi

Ke depan, pergerakan harga diperkirakan masih akan fluktuatif. Pasokan daging dan telur ayam diprediksi akan kembali stabil seiring meredanya puncak permintaan musiman pada pertengahan Agustus 2026. Sementara itu, harga cabai rawit berpotensi kembali naik secara bertahap jika stok panen raya terserap dan musim kemarau mulai memengaruhi produktivitas tanaman di sentra produksi. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui BUMD Pangan Jaya telah menyatakan akan mengoptimalkan program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) untuk menjaga keseimbangan, termasuk menggelar operasi pasar murah jika diperlukan.

Bagi konsumen, strategi diversifikasi menu dan pemanfaatan teknik pengawetan sederhana seperti pengeringan cabai bisa menjadi solusi jangka pendek. Sementara bagi pelaku usaha pangan, momentum ini menjadi pengingat pentingnya fleksibilitas rantai pasok dan manajemen risiko harga komoditas yang semakin terintegrasi dengan faktor cuaca, geopolitik, dan dinamika pasar global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User