Berdasarkan data Kementerian Pertanian per akhir pekan lalu, harga ayam ras di tingkat kandang mengalami penurunan tajam hingga menyentuh level Rp13.000–Rp15.000 per kilogram, jauh di bawah harga acuan pemerintah yang dipatok Rp21.000–Rp23.000 per kilogram untuk wilayah Jawa. Kondisi ini memicu gelombang keluhan dari peternak rakyat yang mengaku mulai merugi karena harga jual tidak lagi menutup biaya produksi. Penurunan ini juga tercatat sebagai yang terlebar dalam siklus year-on-year sejak 2019, ketika sektor unggas sempat mengalami tekanan serupa akibat kelebihan pasokan.
Dalam terminologi ekonomi, harga di tingkat kandang adalah harga yang diterima peternak sebelum ayam masuk ke rantai distribusi, penyembelihan, dan pengecer. Ketika angka ini jatuh di bawah break-even point alias titik impas, peternak tidak sekadar kehilangan margin, tetapi mulai menggerus modal kerja. Sejumlah asosiasi melaporkan biaya produksi saat ini berkisar Rp18.000–Rp20.000 per kilogram, bergantung pada skala usaha dan efisiensi pakan.
Di Satu Sisi: Kelebihan Pasokan dan Melemahnya Daya Beli
Kementerian Pertanian menilai penyebab utama anjloknya harga adalah lonjakan pasokan yang tidak diimbangi permintaan. Produksi ayam ras nasional diproyeksikan mencapai 3,8 juta ton pada 2024, tumbuh sekitar 7 persen dibanding tahun sebelumnya, sementara konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 3–4 persen. Ketidakseimbangan ini menciptakan surplus yang menekan harga di hilir maupun hulu.
Faktor kedua adalah pelemahan daya beli kelas menengah bawah. Indeks keyakinan konsumen sempat turun ke level 123–125 dari sebelumnya di atas 128, mencerminkan sentimen pasar yang hati-hati. Masyarakat cenderung menahan pengeluaran untuk protein hewani dan beralih ke sumber protein yang lebih murah, seperti telur dan tempe. Akibatnya, permintaan ayam di pasar tradisional dan ritel modern melemah, sementara pasokan dari kandang terus mengalir karena siklus panen tidak bisa dihentikan begitu saja.
Dari sisi struktural, industri perunggasan Indonesia masih menghadapi persoalan klasik: dominasi peternak rakyat dengan skala kecil, akses pakan yang bergantung pada impor jagung dan soybean meal, serta panjangnya rantai distribusi. Ketika harga global pakan berfluktuasi, peternak kecil adalah pihak pertama yang terkena imbas. Rasio harga pakan terhadap harga jual ayam saat ini berada di kisaran 70–75 persen, artinya sebagian besar pendapatan habis hanya untuk membeli pakan.
Di Sisi Lain: Peluang Stabilisasi dan Intervensi Pemerintah
Namun, penurunan harga tidak sepenuhnya negatif. Bagi konsumen, harga ayam yang lebih murah dapat menjadi bantalan di tengah inflasi pangan yang masih berfluktuasi. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau berada di kisaran 4–5 persen year-on-year, dan harga protein hewani yang terkendali membantu menahan laju inflasi inti. Ini memberi ruang bagi rumah tangga berpenghasilan rendah untuk tetap mengakses protein hewani.
Pemerintah juga memiliki sejumlah instrumen untuk merespons. Salah satunya adalah operasi pasar dan penyerapan surplus oleh Badan Pangan Nasional, serta percepatan ekspor ayam olahan ke negara tujuan nontradisional. Kementerian Pertanian menyatakan sedang mengkaji relaksasi izin ekspor dan mendorong pembelian oleh industri pengolahan, seperti restoran dan katering, untuk menyerap kelebihan pasokan di kandang.
"Yang perlu dijaga adalah keseimbangan antara peternak dan konsumen. Kalau harga di kandang terlalu rendah, peternak berhenti produksi, dan enam bulan kemudian kita bisa mengalami lonjakan harga," ujar seorang pejabat Kementerian Pertanian dalam keterangan resminya.
Pernyataan ini menegaskan adanya trade-off klasik dalam kebijakan pangan: melindungi konsumen dari harga tinggi sekaligus menjaga insentif produsen untuk tetap berproduksi. Jika intervensi tidak tepat waktu, siklus boom and bust akan berulang, seperti yang terjadi pada 2018–2019 ketika harga ayam sempat jatuh, lalu melonjak pada 2022 akibat berkurangnya populasi indukan.
Proyeksi dan Risiko ke Depan
Ke depan, arah harga ayam akan sangat bergantung pada tiga faktor: laju konsumsi rumah tangga, kebijakan pengendalian pasokan, dan biaya pakan global. Jika surplus tidak terserap dalam 2–3 bulan ke depan, gelombang pengurangan populasi ayam (depopulasi) dan penutupan kandang rakyat berpotensi meningkat. Ini akan berdampak pada penurunan produksi nasional dan berujung pada kenaikan harga pada kuartal berikutnya.
Sebaliknya, apabila permintaan musiman, seperti menjelang Ramadan dan Idulfitri, berhasil mengerek konsumsi, harga di kandang bisa kembali ke level Rp18.000–Rp20.000 per kilogram. Pemerintah juga diharapkan memperkuat data produksi dan konsumsi agar proyeksi pasokan lebih akurat, sehingga kebijakan stabilisasi tidak hanya bersifat responsif, tetapi berbasis fundamental.
Bagi peternak, efisiensi pakan, kemitraan dengan industri pengolahan, dan diversifikasi produk menjadi kunci bertahan. Bagi konsumen, harga murah saat ini patut disyukuri, tetapi perlu diwaspadai jika berujung pada gejolak harga di kemudian hari. Dalam ekonomi pangan, harga yang terlalu rendah dan terlalu tinggi sama-sama menyimpan risiko. Yang dibutuhkan adalah tata kelola pasokan yang stabil, transparan, dan berpihak pada keseimbangan seluruh mata rantai industri.
Comments (0)