Agustin Teras Narang: Profil dan Kinerja Gubernur Kalimantan Tengah

Agustin Teras Narang: Profil dan Kinerja Gubernur Kalimantan Tengah

Agustin Teras Narang: Profil dan Kinerja Gubernur Kalimantan Tengah

Profil Singkat

Agustin Teras Narang adalah politikus senior Indonesia dari Kalimantan Tengah yang menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Tengah selama dua periode, yakni 2005–2010 dan 2010–2015. Lahir di Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, pada 12 Juni 1955, Teras Narang merupakan tokoh Dayak yang konsisten memperjuangkan hak-hak masyarakat adat dan kelestarian lingkungan Kalimantan. Ia merupakan kader setia Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan pernah menjabat sebagai Ketua DPD PDIP Kalimantan Tengah selama bertahun-tahun. Setelah masa jabatan gubernurnya berakhir, Teras Narang melanjutkan karier politiknya sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari daerah pemilihan Kalimantan Tengah, posisi yang masih diembannya hingga tahun 2025.

Karier dan Riwayat Jabatan

Perjalanan karier politik Teras Narang dimulai dari bawah. Sebelum menjadi gubernur, ia meniti karier di DPRD Kalimantan Tengah selama tiga periode (1987–2004), termasuk menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD. Pengalaman panjang di legislatif daerah membentuk pemahamannya yang mendalam tentang persoalan pembangunan dan dinamika politik lokal. Puncak karier eksekutifnya diraih ketika ia memenangi Pilkada Kalimantan Tengah 2005 bersama pasangannya, Achmad Diran, mengalahkan petahana. Pada Pilkada 2010, ia kembali terpilih untuk periode kedua, kali ini menggandeng tokoh lokal dari wilayah barat, yang menegaskan basis dukungan politiknya yang luas di seluruh provinsi. Di tingkat nasional, Teras Narang tercatat pernah menjadi Ketua Umum Dewan Adat Dayak Nasional dan aktif di berbagai forum kehutanan dan lingkungan hidup.

Kinerja dan Program Unggulan

Selama satu dekade kepemimpinannya, Teras Narang mencanangkan beberapa program unggulan yang menjadi ciri khas pemerintahannya. Salah satu inisiatif paling dikenal adalah program Kalimantan Tengah Hijau, sebuah kebijakan yang menempatkan pembangunan berkelanjutan dan pelestarian hutan sebagai fondasi utama perencanaan daerah. Di bawah kepemimpinannya, Kalimantan Tengah menjadi provinsi percontohan dalam implementasi REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) di Indonesia, dengan dukungan dari berbagai lembaga internasional.

Di sektor infrastruktur, masa jabatan Teras Narang ditandai dengan pembangunan dan peningkatan kualitas jalan provinsi, khususnya jalur trans-Kalimantan yang menghubungkan Palangka Raya dengan kota-kota lain. Ia juga memberikan perhatian besar pada pengembangan sumber daya manusia melalui program beasiswa pendidikan bagi putra-putri Dayak dan masyarakat kurang mampu, serta mendorong pendirian universitas-universitas baru di wilayah pedalaman. Di bidang pelayanan publik, pemerintahannya mulai menerapkan sistem administrasi terpadu meski secara bertahap. Ia juga dikenal vokal dalam isu penataan ruang dan moratorium izin perkebunan sawit skala besar di kawasan hutan primer.

Tantangan dan Harapan

Kepemimpinan Teras Narang tidak lepas dari berbagai tantangan struktural yang masih dihadapi Kalimantan Tengah hingga kini. Luas wilayah yang sangat besar dengan kepadatan penduduk rendah membuat pemerataan pembangunan menjadi pekerjaan rumah yang berat. Tingkat kemiskinan di daerah pedalaman dan ketertinggalan infrastruktur dasar seperti listrik dan air bersih masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya terselesaikan di era kepemimpinannya. Selain itu, tekanan deforestasi akibat ekspansi perkebunan dan pertambangan terus menjadi dilema antara kepentingan ekonomi dan komitmen lingkungan. Pasca masa jabatannya, masyarakat Kalimantan Tengah menaruh harapan besar agar fondasi pembangunan yang telah diletakkan dapat dilanjutkan dan ditingkatkan oleh kepemimpinan berikutnya, dengan tetap menjaga identitas budaya dan kelestarian alam sebagai kekayaan utama provinsi ini.

Pro dan Kontra

  • Pro: Agustin Teras Narang dinilai sebagai figur yang konsisten memperjuangkan hak-hak masyarakat adat Dayak dan pelestarian lingkungan melalui kebijakan seperti Kalimantan Tengah Hijau serta keterlibatan aktif dalam forum REDD+ global. Program beasiswa dan dukungannya terhadap pendidikan tinggi di wilayah pedalaman dianggap membuka akses pendidikan bagi generasi muda dari komunitas marjinal. Rekam jejaknya yang panjang di legislatif dan eksekutif menunjukkan pengalaman dan pemahaman menyeluruh tentang pemerintahan daerah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User