Geopolitik Panas, Rupiah Merosot ke Rp 18.066 per Dolar

Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Kamis (22/5) pagi. Berdasarkan data transaksi pasar spot, mata uang Garuda melemah 52 poin atau 0,29 persen ke posisi Rp 18.066...

Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Kamis (22/5) pagi. Berdasarkan data transaksi pasar spot, mata uang Garuda melemah 52 poin atau 0,29 persen ke posisi Rp 18.066 per dolar Amerika Serikat, melanjutkan tren negatif yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global. Pelemahan ini menempatkan rupiah pada level terendah dalam tiga pekan terakhir, seiring investor beralih ke aset-aset safe haven.

Dinamika Pasar dan Data Makro

Mengutip data Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), pada sesi sebelumnya rupiah masih bertengger di kisaran Rp 18.014. Pergeseran sebesar 0,29 persen ini mencerminkan tekanan jangka pendek yang cukup signifikan. Secara year-on-year, rupiah telah terdepresiasi sekitar 6,8 persen dibandingkan posisi Mei tahun lalu yang sempat menyentuh Rp 16.920. Data inflasi terbaru BPS yang menunjukkan Indeks Harga Konsumen April 2025 sebesar 3,2 persen secara tahunan turut membebani, karena selisih imbal hasil riil dengan aset dolar kian menipis. Sementara itu, cadangan devisa Indonesia per akhir April tercatat 139,8 miliar dolar AS, masih cukup aman untuk menopang intervensi, namun sentimen eksternal saat ini mendominasi pergerakan.

Di Satu Sisi: Eskalasi Ketegangan Politik Global

Katalis utama pelemahan rupiah pagi ini tak lepas dari memanasnya konflik di Timur Tengah dan Laut China Selatan yang memicu lonjakan permintaan terhadap dolar AS. Di satu sisi, investor global meningkatkan alokasi ke aset likuid seperti obligasi pemerintah AS, menyebabkan capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Data Kementerian Keuangan menunjukkan aliran dana asing keluar dari SUN mencapai Rp 2,3 triliun dalam tiga hari terakhir. Indeks dolar AS (DXY) sendiri menguat 0,42 persen ke level 104,8, menekan hampir seluruh mata uang Asia. Pelaku pasar juga mencermati kenaikan harga minyak mentah Brent yang telah menyentuh 89 dolar AS per barel, berpotensi menambah beban subsidi energi domestik dan memperlebar defisit transaksi berjalan jika tidak diimbangi kenaikan ekspor.

Di Sisi Lain: Fundamental Domestik yang Masih Solid

Meski nilai tukar melemah, sejumlah indikator fundamental menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025 yang mencapai 5,1 persen secara tahunan masih berada dalam rentang target pemerintah. Neraca perdagangan Maret 2025 mencatat surplus 3,2 miliar dolar AS, didorong oleh ekspor batu bara dan produk turunan kelapa sawit yang tetap kuat. Rasio utang terhadap PDB yang terkendali di angka 38 persen memberikan ruang fiskal yang memadai. Analis memperkirakan bahwa pelemahan ini lebih bersifat temporer dan cenderung merupakan koreksi teknikal. “Valuasi rupiah pada dasarnya masih undervalued jika melihat inflasi yang relatif rendah dan pertumbuhan yang stabil. Sentimen geopolitik memang sedang panas, tapi begitu ada de-eskalasi, potensi penguatan rupiah cukup besar,” ujar seorang ekonom senior dari lembaga kajian independen. Selain itu, Bank Indonesia diyakini telah melakukan intervensi terukur melalui operasi moneter di pasar DNDF untuk meredam volatilitas.

Proyeksi dan Respons Pasar

Pasar kini menanti rilis data klaim pengangguran AS malam nanti yang diproyeksi naik tipis menjadi 232.000. Jika data tersebut lebih buruk dari ekspektasi, dolar berpotensi melemah dan rupiah bisa bernapas lega. Namun, apabila ketegangan geopolitik terus berlanjut, proyeksi jangka pendek menempatkan rupiah dalam rentang pergerakan Rp 18.000 – Rp 18.200 per dolar AS. Dari sisi kebijakan, BI diperkirakan akan menahan suku bunga acuan di level 6,25 persen dalam RDG mendatang untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengerek imbal hasil instrumen rupiah agar tetap kompetitif. Bagi investor ritel, kondisi ini membuka peluang akumulasi aset rupiah seperti obligasi negara dengan kupon tinggi, sementara bagi importir, strategi lindung nilai menjadi semakin krusial. Dengan mempertimbangkan dua perspektif tersebut, posisi rupiah saat ini merupakan cerminan dari tarik-menarik antara tekanan eksternal dan fundamental domestik yang belum tergerus. Pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada seberapa cepat eskalasi konflik global mereda dan efektivitas bauran kebijakan BI dalam menjaga kepercayaan pasar.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User