Gelaran Puspa Nuswantara 2026, BNI Perkuat Ekosistem Digital UMKM Batik
Bank BNI melalui partisipasinya di Pameran Puspa Nuswantara 2026 menunjukkan keseriusannya dalam mengangkat potensi UMKM batik ke tingkat yang lebih tinggi. Tidak sekadar menjadi sponsor, bank pelat m...
Bank BNI melalui partisipasinya di Pameran Puspa Nuswantara 2026 menunjukkan keseriusannya dalam mengangkat potensi UMKM batik ke tingkat yang lebih tinggi. Tidak sekadar menjadi sponsor, bank pelat merah ini menghadirkan ekosistem layanan keuangan digital yang dirancang khusus untuk mempercepat pertumbuhan para perajin dan pengusaha batik di seluruh Indonesia. Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi besar BNI dalam mendorong inklusi keuangan serta memperkuat fondasi ekonomi kreatif nasional.
Puspa Nuswantara: Pameran Strategis bagi Industri Batik
Puspa Nuswantara 2026 yang berlangsung di Jakarta Convention Center pada 10–13 Juli 2026, menjadi magnet bagi lebih dari 470 pelaku UMKM batik yang berasal dari 28 provinsi. Pameran ini tidak hanya menampilkan koleksi batik tulis, cap, maupun kombinasi, tetapi juga memfasilitasi dialog antara pengrajin, desainer, distributor, dan lembaga pembiayaan. Tahun ini, panitia mencatat jumlah pengunjung mencapai 85 ribu orang, naik 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Transaksi yang tercatat selama pameran diperkirakan menembus angka Rp 120 miliar, mencerminkan tingginya minat pasar terhadap warisan budaya ini.
Di tengah maraknya persaingan dengan produk tekstil impor, ajang seperti Puspa Nuswantara menjadi oase bagi para pengrajin untuk membuktikan daya saing batik asli Indonesia. BNI melihat momentum ini sebagai peluang untuk mendekatkan diri dengan para pelaku usaha sekaligus menyediakan solusi tepat guna yang selama ini menjadi kendala, seperti kemudahan transaksi, akses permodalan, dan promosi.
Layanan Pembayaran Digital untuk Efisiensi Transaksi
Salah satu bentuk dukungan konkret BNI adalah penyediaan infrastruktur pembayaran digital yang terintegrasi di seluruh stan pameran. Dengan menggunakan mesin Electronic Data Capture (EDC) dan layanan QRIS BNI, para pengunjung dapat melakukan pembayaran nontunai dengan cepat dan aman. Hal ini tidak hanya memudahkan konsumen, tetapi juga membantu UMKM mencatat setiap transaksi secara otomatis, sehingga laporan keuangan menjadi lebih rapi dan akuntabel.
Data dari BNI menunjukkan bahwa selama hari pertama pameran, tercatat sebanyak 2.800 transaksi melalui QRIS dengan nilai rata-rata Rp 350 ribu per transaksi. Angka ini melonjak 40 persen dibandingkan partisipasi serupa pada tahun 2025. Tidak hanya itu, BNI juga menyediakan layanan digital onboarding bagi para pengunjung yang tertarik membuka rekening atau mengajukan produk keuangan, sehingga penetrasi layanan perbankan semakin meluas.
Seorang perajin batik asal Pekalongan, Ibu Sari, mengungkapkan manfaat kehadiran layanan ini. 'Dulu kami sering kehilangan penjualan karena pembeli tidak membawa uang tunai cukup. Sekarang, dengan QRIS BNI, transaksi tetap jalan. Bahkan kami bisa langsung tahu total omzet harian tanpa harus menghitung manual,' ujarnya. Kemudahan ini menjadi bukti bahwa digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Program Promosi dan Pemberdayaan UMKM
Selain sisi transaksional, BNI juga meluncurkan program promosi bertajuk Beli Batik, Dapat Bonus yang memberikan cashback hingga 20 persen bagi pengunjung yang bertransaksi menggunakan aplikasi BNI Mobile Banking. Program ini dirancang untuk mendongkrak volume penjualan sekaligus memperkenalkan fitur-fitur perbankan digital kepada masyarakat. Selama pameran, BNI mengalokasikan dana promosi sebesar Rp 2,5 miliar yang terserap habis pada hari kedua, menandakan tingginya antusiasme.
Lebih dari itu, BNI tidak hanya berhenti pada promosi sesaat. Bank ini juga menggelar serangkaian workshop dan klinik bisnis bagi para pelaku UMKM. Materi yang diberikan meliputi strategi pemasaran digital, manajemen keuangan sederhana, hingga cara mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) BNI dengan bunga rendah. Tercatat lebih dari 200 peserta mengikuti sesi pendampingan secara intensif. Menurut Direktur Bisnis Usaha Kecil dan Menengah BNI, program ini bertujuan untuk mencetak pengusaha batik yang tidak hanya kreatif, tetapi juga melek finansial dan siap bersaing di pasar global.
'Kami ingin para perajin batik naik kelas. Tidak cukup hanya menghasilkan karya indah, mereka harus mampu mengelola keuangan, memasarkan produk secara online, dan memanfaatkan pembiayaan formal untuk ekspansi. Puspa Nuswantara menjadi laboratorium nyata bagi mereka untuk belajar dan berkembang,' jelasnya.
Menggerakkan Roda Ekonomi Kreatif Nasional
Keterlibatan BNI di Puspa Nuswantara 2026 sejalan dengan peta jalan pemerintah dalam menjadikan ekonomi kreatif sebagai tulang punggung baru pertumbuhan. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, subsektor fashion—yang di dalamnya termasuk batik—menyumbang 33 persen dari total PDB ekonomi kreatif pada 2025, dengan nilai mencapai Rp 410 triliun. Dari angka tersebut, UMKM merupakan kontributor utama, menyerap sekitar 18 juta tenaga kerja. Dengan demikian, intervensi perbankan pada level akar rumput sangat vital.
Analis ekonomi menilai bahwa kolaborasi antara sektor perbankan dan pameran budaya seperti Puspa Nuswantara menciptakan efek pengganda yang signifikan. Setiap rupiah yang dibelanjakan di pameran, berputar di ekonomi lokal, mulai dari pengrajin, pemasok bahan baku, hingga jasa logistik. Digitalisasi pembayaran yang difasilitasi BNI juga mengurangi kebocoran dan meningkatkan transparansi, sehingga data penjualan UMKM lebih mudah diakses untuk keperluan monitoring dan penilaian kredit di masa depan.
Di sisi lain, tantangan masih menghadang, terutama dalam hal literasi digital di kalangan pengrajin senior. Beberapa di antara mereka masih ragu beralih dari transaksi tunai karena khawatir terhadap keamanan atau rumitnya teknologi. Menyikapi hal ini, BNI menugaskan puluhan agen pendamping untuk memberikan edukasi door-to-door di setiap stan, memastikan tidak ada pelaku UMKM yang tertinggal dalam arus digitalisasi.
Membangun Masa Depan Batik Indonesia
Puspa Nuswantara 2026 bukanlah titik akhir, melainkan batu loncatan. BNI berencana melanjutkan pendampingan kepada UMKM binaan melalui platform digitalnya, termasuk fitur Pasar Digital BNI yang memungkinkan produk batik dipasarkan secara daring ke seluruh Indonesia, bahkan ekspor. Rencana ini diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar hingga ke mancanegara, sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya.
Dengan sinergi antara perbankan, pemerintah, dan komunitas kreatif, batik Indonesia diyakini mampu bertahan dan berkembang di tengah derasnya arus globalisasi. Pameran seperti Puspa Nuswantara menjadi bukti bahwa ketika teknologi dan tradisi berpadu, hasilnya bukan hanya keindahan, melainkan juga kesejahteraan bagi jutaan rakyat.
Baca juga:
Comments (0)