Oct 19, 2026
Bisnis

Fesyen Makassar dan Aksara Lontara: Peluang dan Tantangan UMKM

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2023, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan total ko...

Fesyen Makassar dan Aksara Lontara: Peluang dan Tantangan UMKM

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2023, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan total kontribusi mencapai Rp9.580 triliun. Angka ini menempatkan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional, sekaligus cermin bahwa inovasi di level akar rumput mampu menciptakan nilai tambah yang signifikan. Salah satu contoh menarik datang dari Makassar, Sulawesi Selatan, di mana sebuah usaha fesyen bernama Ripuji Lontaratta berupaya memadukan desain modern dengan kekayaan budaya lokal, khususnya aksara Lontara.

Kombinasi Budaya dan Desain Modern sebagai Strategi Diferensiasi

Ripuji Lontaratta, yang digagas oleh As'ad Fadli, menawarkan produk fesyen dengan motif dan elemen aksara Lontara—warisan budaya Bugis-Makassar yang mulai jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Langkah ini bukan sekadar romantisme budaya, melainkan strategi diferensiasi di pasar yang semakin homogen. Di satu sisi, pendekatan ini membuka ceruk pasar (niche market) yang loyal, terutama di kalangan wisatawan dan generasi muda yang mencari identitas lokal. Data Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan menunjukkan kunjungan wisatawan ke Makassar pada 2023 mencapai 5,2 juta orang, naik sekitar 12 persen year-on-year dibanding 2022. Lonjakan ini menjadi sentimen pasar yang positif bagi produk fesyen berbasis budaya.

Di sisi lain, tantangan fundamental tetap membayangi. UMKM fesyen kerap menghadapi keterbatasan likuiditas, akses pasar, dan kapasitas produksi. Rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan nasional per Desember 2023 baru sekitar 19,3 persen, meskipun target pemerintah adalah 30 persen pada 2024. Artinya, meskipun ada komitmen pelestarian budaya, dukungan pembiayaan yang memadai tetap menjadi prasyarat agar usaha seperti Ripuji Lontaratta dapat bertahan dan berkembang.

Pro: Pelestarian Budaya Bernilai Ekonomi Tinggi

Dari perspektif pro, upaya menghidupkan kembali aksara Lontara melalui fesyen memiliki beberapa keunggulan. Pertama, produk budaya memiliki nilai jual emosional yang sulit ditiru, sehingga dapat meningkatkan margin keuntungan. Kedua, sektor ekonomi kreatif (ekraf) Indonesia menunjukkan tren positif; data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mencatat kontribusi ekraf terhadap PDB pada 2023 mencapai Rp1.300 triliun atau sekitar 7,8 persen, dengan subsektor fesyen sebagai salah satu penyumbang terbesar. Ketiga, adanya program pembinaan dari perbankan, seperti yang dijalankan BRI melalui berbagai program inkubasi UMKM, memberikan akses pelatihan, pemasaran, dan permodalan yang terstruktur. Hal ini sejalan dengan portofolio pemberdayaan yang menargetkan UMKM naik kelas.

"Pelestarian budaya lokal melalui produk kreatif bukan hanya soal identitas, tetapi juga soal daya saing. UMKM yang mampu menggabungkan warisan budaya dengan desain kontemporer memiliki peluang lebih besar menembus pasar global," ujar seorang analis ekonomi kreatif dari sebuah lembaga riset independen.

Kontra: Risiko Pasar Terbatas dan Skalabilitas Rendah

Namun, dari kacamata kontra, ada beberapa risiko yang perlu dicermati. Pertama, pasar untuk produk berbasis aksara Lontara relatif terbatas dan cenderung bergantung pada wisatawan atau kolektor. Ini membuat volume penjualan sulit diprediksi dan rentan terhadap fluktuasi musiman. Kedua, skalabilitas produksi menjadi kendala karena proses手工 (handmade) yang memakan waktu dan tenaga kerja terampil. Ketiga, dari sisi valuasi usaha, UMKM dengan basis budaya sering kali sulit mendapatkan penilaian yang objektif dari investor karena aset tidak berwujud (intangible assets) seperti nilai budaya sulit diukur secara finansial.

Selain itu, capital outflow di sektor fesyen juga menjadi perhatian. Data Bank Indonesia per triwulan IV 2023 menunjukkan impor produk fesyen jadi masih cukup tinggi, mencapai USD1,2 miliar atau sekitar Rp18,6 triliun. Ini menandakan bahwa produk lokal, termasuk yang berbasis budaya, masih harus bersaing ketat dengan produk impor yang lebih murah dan massal. Tanpa dukungan kebijakan yang tepat, UMKM seperti Ripuji Lontaratta berisiko hanya menjadi pemain kecil di pasar domestik.

Proyeksi dan Fundamental ke Depan

Ke depan, proyeksi pertumbuhan sektor ekraf Indonesia diperkirakan mencapai 8-9 persen per tahun hingga 2027, menurut kajian sejumlah lembaga. Namun, proyeksi ini sangat bergantung pada kemampuan UMKM mengakses pembiayaan, teknologi, dan pasar digital. Rasio penetrasi internet di Indonesia yang sudah mencapai 78 persen pada 2023 menjadi peluang besar untuk pemasaran digital. Jika Ripuji Lontaratta dan UMKM sejenis mampu memanfaatkan kanal e-commerce dan media sosial secara optimal, bukan tidak mungkin mereka dapat menembus pasar ekspor.

Fundamental ekonomi menunjukkan bahwa diversifikasi produk berbasis budaya dapat menjadi strategi ketahanan di tengah ketidakpastian global. Sentimen pasar terhadap produk lokal juga mulai menguat, seiring kampanye bangga buatan Indonesia. Namun, tanpa perbaikan struktural dalam hal akses modal, rantai pasok, dan perlindungan kekayaan intelektual, upaya pelestarian budaya melalui fesyen hanya akan menjadi cerita inspiratif tanpa dampak ekonomi yang luas. Keseimbangan antara idealisme budaya dan realitas bisnis menjadi kunci.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User