Fahd Pahdepie dan Rulinawaty Kasmad Menginspirasi Lewat Karya dan Advokasi
Di tengah arus modernisasi yang serba cepat, Indonesia terus melahirkan figur-figur multidimensi yang mampu menavigasi berbagai ranah profesi sekaligus. Du
Di tengah arus modernisasi yang serba cepat, Indonesia terus melahirkan figur-figur multidimensi yang mampu menavigasi berbagai ranah profesi sekaligus. Dua nama yang tengah menjadi sorotan adalah Fahd Pahdepie, seorang penulis, pengusaha, dan aktivis sosial, serta Rulinawaty Kasmad, akademisi yang juga memegang jabatan strategis sebagai Kepala Bidang Pelayanan dan Kepatuhan HAM di Kementerian HAM Jakarta. Meski bergerak di wilayah yang tampak berbeda, keduanya memiliki benang merah yang sama: dedikasi tinggi untuk menciptakan dampak positif bagi masyarakat melalui karya, pendidikan, dan advokasi.
Fahd Pahdepie: Senjata Pena dan Kewirausahaan Sosial
Fahd Pahdepie bukanlah nama asing di dunia literasi dan aktivisme digital Indonesia. Sebagai penulis, ia telah menghasilkan sejumlah buku yang mengupas isu-isu sosial, teknologi, dan pengembangan diri. Namun, ia tidak berhenti pada merangkai kata. Semangat kewirausahaannya mendorongnya mendirikan beberapa perusahaan rintisan di bidang industri kreatif dan konsultasi digital. Melalui perusahaan tersebut, ia menciptakan lapangan kerja bagi puluhan anak muda, sembari tetap menyuarakan isu-isu kritis seperti literasi digital dan pemberdayaan pemuda.
Fahd kerap menekankan bahwa menulis adalah bentuk advokasi yang paling sunyi namun berdampak luas. “Kata-kata mampu menembus tembok kebisuan dan membangun kesadaran kolektif,” ungkapnya dalam sebuah webinar tentang peran penulis di era disrupsi. Aktivitasnya sebagai aktivis pun tak kalah menonjol. Ia terlibat dalam berbagai gerakan sosial, mulai dari kampanye anti-hoaks hingga pelatihan berpikir kritis untuk pelajar. Data yang dihimpun dari berbagai kegiatan yang digagasnya menunjukkan setidaknya 5.000 peserta telah mengikuti program literasi digital yang ia inisiasi dalam tiga tahun terakhir.
"Kami ingin anak muda tidak hanya menjadi konsumen konten digital, tetapi pencipta yang kritis dan beretika," ujar Fahd saat ditemui di sela-sela peluncuran buku terbarunya.
Rulinawaty Kasmad: Mengajar di Kampus, Memastikan Keadilan di Birokrasi
Sementara itu, Rulinawaty Kasmad menjalani peran ganda yang tak kalah menantang. Sebagai dosen tetap di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), ia mengajar mata kuliah yang berkaitan dengan hukum administrasi negara dan hak asasi manusia. Di dalam kelas, ia tak hanya menyampaikan teori, tetapi juga mengajak mahasiswanya untuk terjun langsung dalam proyek-proyek advokasi kecil di lingkungan sekitar. Pendekatan pedagogis ini membuat mata kuliahnya menjadi salah satu yang paling diminati, karena mahasiswa merasa langsung terhubung dengan realitas sosial.
Di luar kampus, Rulinawaty memikul tanggung jawab besar sebagai Kepala Bidang Pelayanan dan Kepatuhan HAM di KemenHAM Jakarta. Jabatan ini mengharuskannya memastikan bahwa setiap unit pelayanan publik di Jakarta—mulai dari puskesmas, kecamatan, hingga dinas-dinas—mematuhi standar hak asasi manusia. Ia memimpin tim yang melakukan audit, pendampingan, dan pelatihan bagi aparatur sipil negara agar pelayanan yang diberikan tidak diskriminatif, inklusif, dan menghormati hak setiap warga. “Pekerjaan ini bukan sekadar tupoksi, tapi panggilan untuk memanusiakan birokrasi,” tegasnya.
Hasil kerja kerasnya mulai terlihat. Menurut data internal KemenHAM, tingkat kepatuhan pelayanan publik di DKI Jakarta terhadap prinsip-prinsip HAM meningkat sebesar 22% dalam kurun 2022–2025. Capaian ini menjadikan Jakarta sebagai salah satu provinsi percontohan dalam pelayanan berbasis HAM. Rulinawaty menyebut bahwa kunci keberhasilan terletak pada kolaborasi lintas sektor dan pendekatan persuasif, bukan sekadar sanksi administratif.
"Kita ingin membangun budaya HAM yang melekat dalam setiap proses birokrasi, bukan sekadar tempelan di atas kertas," ujarnya dalam sebuah wawancara eksklusif.
Benang Merah Multitalenta: Kreativitas, Kepedulian, dan Keberanian
Kiprah Fahd dan Rulinawaty mencerminkan fenomena multihyphenate yang semakin relevan di abad ke-21. Di era yang menuntut adaptasi cepat, kemampuan mengintegrasikan berbagai keahlian menjadi aset berharga. Fahd membuktikan bahwa seorang penulis bisa menjadi pengusaha sukses sekaligus aktivis yang disegani; Rulinawaty menunjukkan bahwa seorang dosen mampu menjadi birokrat andal yang menghadirkan keadilan substantif. Keduanya menolak dikotomi antara dunia kreatif dan dunia teknokratis—sebaliknya, mereka justru memperlihatkan bahwa kolaborasi antar-disiplin menghasilkan solusi yang lebih holistik.
Menariknya, baik Fahd maupun Rulinawaty sama-sama menekankan pentingnya empati dan keberanian. Dalam setiap langkah, mereka menghadapi resistensi—baik dari pasar yang skeptis terhadap bisnis sosial, maupun dari sistem birokrasi yang lamban berubah. Namun, kegigihan mereka membuahkan pengakuan. Fahd telah menerima beberapa penghargaan di bidang kewirausahaan sosial, sementara Rulinawaty dinobatkan sebagai inovator pelayanan publik oleh lembaga independen pada tahun 2024.
Inspirasi Bagi Generasi Muda
Kisah kedua tokoh ini menjadi oase di tengah kegelisahan anak muda yang seringkali dihantui pertanyaan, “Setelah lulus, mau jadi apa?” Dari Fahd, kita belajar bahwa menjadi penulis bukan berarti harus meninggalkan naluri bisnis. Dari Rulinawaty, kita belajar bahwa menjadi dosen tidak lantas membatasi ruang gerak untuk memengaruhi kebijakan publik. Justru, perpaduan berbagai peran itulah yang memperkaya perspektif dan memperluas dampak.
Para mahasiswa UMJ, misalnya, banyak yang termotivasi melihat langsung bagaimana dosen mereka turun tangan menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM di lapangan. “Kami jadi sadar bahwa teori di kelas bisa langsung diterapkan untuk membantu masyarakat. Itu memberi kami kepercayaan diri,” ujar Andini, salah satu mahasiswi yang pernah mengikuti kuliah Rulinawaty. Di sisi lain, puluhan penulis muda mengaku bahwa buku-buku Fahd telah membuka mata mereka akan kekuatan narasi sebagai alat perubahan sosial.
Dengan demikian, Indonesia patut berbangga memiliki insan-insan multitalenta yang tidak hanya mengejar kesuksesan pribadi, tetapi juga mengabdikan diri bagi kemajuan bangsa. Fahd Pahdepie dan Rulinawaty Kasmad adalah bukti bahwa batasan profesi bisa dilewati, selama ada visi dan integritas. Keduanya pantas menjadi teladan, bukan saja karena gelar yang disandang, melainkan karena nyala semangat yang terus mereka bagikan kepada sekitar.
[SOCIAL_TWEET]: Fahd Pahdepie dan Rulinawaty Kasmad buktikan multitalenta mampu cetak dampak sosial. Dari pena hingga birokrasi, mereka perjuangkan literasi dan HAM. Simak kisah inspiratifnya! #SosokInspiratif #HAM #LiterasiDigital[SOCIAL_TG]: 📣 Dua tokoh inspiratif Indonesia: Fahd Pahdepie (Penulis-Pengusaha-Aktivis) & Rulinawaty Kasmad (Dosen-Kabid HAM). Simak perpaduan unik kreativitas dan advokasi yang membawa perubahan! 🔥
Comments (0)