Oct 14, 2026
Bisnis

Evaluasi Karhutla Kalimantan Lewat Ratas Sore Ini

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan per Oktober, pemerintah menggelar rapat terbatas (ratas) pada Senin (12/10) pukul 16.30 WIB...

Evaluasi Karhutla Kalimantan Lewat Ratas Sore Ini

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan per Oktober, pemerintah menggelar rapat terbatas (ratas) pada Senin (12/10) pukul 16.30 WIB untuk mengevaluasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Langkah ini menjadi respons atas tren eskalasi titik panas yang kembali mencuat seiring masuknya puncak musim kemarau di sejumlah wilayah.

Mengapa Evaluasi Ini Krusial?

Karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan variabel makro yang memengaruhi inflasi pangan, kesehatan publik, hingga iklim investasi. Secara year-on-year, luas area terbakar di Kalimantan menunjukkan fluktuasi yang tajam: pada periode El Nino kuat 2015, luas karhutla nasional menembus sekitar 2,6 juta hektare, sementara pada 2019 tercatat sekitar 1,6 juta hektare. Angka ini menjadi basis proyeksi kerugian ekonomi yang menurut sejumlah studi Bank Dunia dapat menyentuh Rp200 triliun dalam skenario terburuk.

Istilah 'titik panas' atau hotspot merujuk pada anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan menjadi indikator awal potensi kebakaran. Sementara 'gambut' adalah lapisan organik yang mudah terbakar dan menyimpan karbon dalam jumlah besar — faktor yang membuat karhutla di Kalimantan sulit dipadamkan dan menghasilkan kabut asap lintas negara.

Dua Sisi Kebijakan: Efektivitas vs Fundamental

Di satu sisi, pendekatan yang sudah ditempuh menunjukkan perbaikan struktural. Pemerintah mengklaim intensitas penanganan meningkat melalui operasi udara, patroli terpadu, serta penegakan hukum terhadap korporasi. Indeks Kualitas Udara (IKU) di beberapa kota seperti Palangkaraya dan Pontianak sempat membaik pada periode tertentu, dan rasio deteksi dini melalui sistem monitoring satelit diperkuat.

Di sisi lain, kritik muncul dari kalangan pengamat. Mereka menilai respons masih bersifat reaktif, bukan preventif. Fire alert dianggap sering terlambat sampai ke level desa, sementara konflik tenurial dan praktik pembukaan lahan dengan metode bakar masih menjadi akar masalah. Sentimen pasar pun dapat terpengaruh: kabut asap berpotensi mengganggu likuiditas logistik dan menekan sektor perkebunan, sehingga muncul risiko capital outflow jangka pendek bila kepastian regulasi melemah.

"Karhutla adalah persoalan tata kelola. Tanpa penyelesaian akar masalah tenurial, evaluasi hanya akan berulang setiap tahun," ujar sejumlah analis lingkungan dalam diskusi publik.

Implikasi Ekonomi dan Proyeksi ke Depan

Dari kacamata fundamental, karhutla berdampak pada portofolio sektor pertanian dan kehutanan. Produksi crude palm oil (CPO) dapat tergerus, memicu kenaikan harga dan menyumbang inflasi volatile food. Dalam skenario moderat, kehilangan produksi dapat menekan valuasi emiten perkebunan hingga 2–4 persen dalam satu kuartal.

Namun, sentimen pasar sering kali bergerak lebih cepat dari realisasi data. Bila ratas menghasilkan keputusan konkret — misalnya penambahan anggaran, satgas gabungan, atau sanksi tegas — pasar cenderung merespons positif karena kepastian kebijakan menurunkan premi risiko. Sebaliknya, hasil ratas yang bersifat seremonial berpotensi memperkuat ekspektasi negatif.

Ke depan, keberhasilan evaluasi tidak cukup diukur dari jumlah titik api yang turun, melainkan dari kapasitas kelembagaan yang terbangun: sistem peringatan dini, restorasi gambut, serta alternatif pembukaan lahan tanpa bakar. Tanpa itu, evaluasi tahunan berisiko menjadi siklus tanpa penyelesaian.

Yang perlu dicermati publik adalah apakah rapat sore ini menghasilkan target terukur, tenggat waktu jelas, dan mekanisme akuntabilitas yang dapat diaudit. Sebab pada akhirnya, angka makro — inflasi, pertumbuhan, dan iklim investasi — akan menjadi cermin dari seberapa serius negara menangani asap di Kalimantan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User