Aug 24, 2026
Bisnis

Estafet Pucuk Pimpinan BI: Destry Damayanti Ambil Alih

Pergantian tampuk kepemimpinan di bank sentral terjadi secara mengejutkan pada awal pekan ini. Perry Warjiyo resmi melepaskan jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI), dan tongkat estafet untuk...

Estafet Pucuk Pimpinan BI: Destry Damayanti Ambil Alih

Pergantian tampuk kepemimpinan di bank sentral terjadi secara mengejutkan pada awal pekan ini. Perry Warjiyo resmi melepaskan jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI), dan tongkat estafet untuk sementara dipegang oleh Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur. Keputusan ini langsung direspons oleh pasar keuangan yang tengah mencermati arah kebijakan moneter di tengah tekanan global.

Berdasarkan data Bloomberg per akhir pekan lalu, nilai tukar rupiah ditutup di level Rp15.820 per dolar AS, melemah tipis 0,3% secara harian namun masih terapresiasi 1,2% sejak awal tahun. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun bertahan di kisaran 6,85%, mencerminkan ekspektasi investor terhadap suku bunga acuan yang masih tinggi. Cadangan devisa Indonesia per Maret 2026 tercatat sebesar USD142,3 miliar, cukup untuk membiayai 6,4 bulan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional.

Konteks Pengunduran Diri dan Rekam Jejak Perry Warjiyo

Perry Warjiyo mulai memimpin BI sejak 2018 dan dikenal sebagai arsitek kebijakan bauran atau policy mix yang mengedepankan stabilitas moneter, sistem pembayaran, dan pendalaman pasar keuangan. Di bawah kepemimpinannya, suku bunga acuan BI-Rate sempat menembus level terendah sepanjang sejarah di 3,50% pada tahun 2021, kemudian diangkat secara agresif hingga 6,25% pada 2025 untuk meredam gejolak rupiah dan inflasi impor. Langkah pamungkasnya adalah menaikkan suku bunga sekali lagi sebesar 25 basis poin pada awal tahun ini, sebelum akhirnya menyerahkan mandat.

Meski belum ada pernyataan resmi mengenai alasan mundur, sejumlah kalangan menduga faktor kelelahan pasca periode penuh tantangan—dari pandemi, normalisasi kebijakan, hingga fragmentasi geopolitik—menjadi pertimbangan utama. Namun, yang lebih penting bagi pasar adalah siapa yang akan melanjutkan dan bagaimana arah kebijakan ke depan, terutama dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian suku bunga global.

Profil Destry Damayanti: Kontinuitas atau Arah Baru?

Destry Damayanti bukan nama asing di lingkungan bank sentral. Ia menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior sejak 2019, membawahi bidang moneter, sistem pembayaran, dan pendalaman pasar keuangan. Sebelumnya, ia pernah memimpin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) serta mengepalai ekonom di salah satu bank milik negara. Dengan pengalaman lebih dari dua dekade di sektor keuangan, pengangkatannya sebagai Plt Gubernur disambut positif oleh pelaku pasar yang menginginkan kontinuitas kebijakan.

Di satu sisi, keberlanjutan ini diharapkan menjaga stabilitas karena Damayanti dipandang sebagai penerjemah setia visi Perry. Ia kerap menekankan pentingnya menjaga inflasi inti dalam kisaran sasaran 2,5% ± 1% dan stabilitas nilai tukar sebagai prasyarat pertumbuhan yang sehat. Namun di sisi lain, pasar juga bertanya-tanya apakah akan ada perubahan tone dovish atau hawkish menjelang transisi permanen. Apalagi, siklus suku bunga global menunjukkan tanda-tanda pelonggaran meskipun Federal Reserve masih menahan suku bunga di atas 5%.

Sentimen Pasar dan Dampak pada Rupiah

Secara historis, pergantian pimpinan bank sentral di luar masa transisi reguler sering memicu volatilitas jangka pendek. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan pagi ini sempat terkoreksi 0,8% sebelum memangkas kerugian. Sementara itu, rupiah bergerak di koridor Rp15.780–Rp15.850 per dolar AS, dengan volume perdagangan yang sedikit lebih tinggi dari rata-rata harian.

"Pasar biasanya membutuhkan waktu untuk membaca sinyal awal dari pemimpin baru. Namun, dengan figur Destry yang sudah dikenal, risiko guncangan lebih terbatas. Investor lebih fokus pada data makro dan rapat dewan gubernur berikutnya," ujar Kepala Riset Ekonomi Beritadua, R. Suryo Adiwibowo.

Proyeksi suku bunga acuan dalam dua kuartal ke depan masih berada di level 6,00%–6,25%, bergantung pada pergerakan rupiah dan inflasi global. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) per Mei 2026 tercatat 3,1% (year-on-year), sedikit di atas titik tengah target, didorong oleh kenaikan harga pangan dan energi. Hal ini menjadi pertimbangan agar pelonggaran moneter tidak dilakukan terlalu dini.

Dua Perspektif: Stabilitas versus Dinamika Politik

Pro: Penunjukan Plt dari internal BI memberikan kepastian bahwa policy framework yang sudah berjalan tidak akan diubah secara drastis. Likuiditas di sistem perbankan tetap longgar dengan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) di atas 26%, jauh di atas ambang minimum. Suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) overnight juga stabil di sekitar 5,75%, mengindikasikan transmisi kebijakan yang berjalan baik.

Kontra: Masa transisi hingga terpilihnya gubernur definitif bisa menciptakan ketidakpastian terkait independensi dan arah kebijakan jangka menengah. Jika proses politik memanas, sentimen asing bisa berubah dan memicu capital outflow. Kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) per April 2026 mencapai 14,8% dari total, cukup sensitif terhadap persepsi risiko.

Langkah Strategis ke Depan

Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan pekan depan akan menjadi panggung pertama bagi Damayanti untuk memberikan sinyal. Pelaku pasar akan mencermati pernyataan mengenai prospek inflasi, nilai tukar, dan stabilitas sistem keuangan. Fokus utamanya adalah bagaimana BI menavigasi trilemma moneter: menjaga rupiah stabil tanpa mengorbankan pertumbuhan dan aliran modal masuk.

Pasca-pandemi, fundamental ekonomi Indonesia dinilai cukup tangguh dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I 2026 sebesar 5,2% (yoy), ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat dan investasi yang pulih. Rasio utang terhadap PDB berada di bawah 40%, memberikan ruang fiskal yang memadai. Semua indikator ini menjadi bantalan penting di tengah transisi kepemimpinan.

Dengan bekal pengalaman dan pemahaman mendalam terhadap kompleksitas ekonomi domestik dan global, Destry Damayanti dihadapkan pada ujian untuk menjaga kredibilitas bank sentral. Apakah ia hanya akan menjadi penjaga status quo atau mulai meletakkan fondasi arah baru, pasar tengah menanti dengan waspada.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User