Estafet Gubernur BI: Perry Warjiyo Mundur, Destry Damayanti Memimpin
Kursi Gubernur Bank Indonesia resmi berganti. Perry Warjiyo mengumumkan pengunduran dirinya dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, menyerahkan tampuk kepemimpinan bank sentral kepada Deputi Gu...
Kursi Gubernur Bank Indonesia resmi berganti. Perry Warjiyo mengumumkan pengunduran dirinya dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, menyerahkan tampuk kepemimpinan bank sentral kepada Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak mengingat posisi strategis BI dalam menjaga stabilitas moneter di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi.
Berdasarkan data Bank Indonesia per Juni 2025, cadangan devisa nasional tercatat sebesar USD 136,2 miliar, turun tipis dari posisi USD 139,1 miliar pada akhir 2024. Indeks keyakinan konsumen juga menunjukkan pelemahan ke level 121,7 dari sebelumnya 124,3. Di tengah dinamika inilah transisi kepemimpinan terjadi, menimbulkan pertanyaan besar tentang arah kebijakan moneter ke depan.
Jejak Perry Warjiyo dan Warisan Kebijakan Ketat
Perry Warjiyo mengakhiri masa jabatannya dengan catatan yang kompleks. Diangkat sebagai Gubernur BI pada 2018, ia mewarisi tradisi kebijakan moneter ketat yang menjadi ciri khas bank sentral Indonesia pasca-krisis Asia. Selama masa kepemimpinannya, BI secara konsisten mengerek suku bunga acuan dari 4,25% pada awal 2018 menjadi 6,25% pada puncaknya di 2023, sebelum bertahan di level 5,75% sepanjang paruh pertama 2025.
Di satu sisi, pendekatan agresif Perry menjaga rupiah relatif stabil di tengah rentetan guncangan eksternal seperti perang dagang AS-Tiongkok, pandemi COVID-19, dan gejolak kebijakan The Fed. Inflasi inti berhasil ditahan di kisaran 2,5% hingga 3,5% year-on-year, tetap berada dalam koridor target. Koordinasi dengan pemerintah melalui bauran kebijakan fiskal-moneter juga menghasilkan pemulihan ekonomi pasca-pandemi yang cukup solid dengan pertumbuhan produk domestik bruto bertahan di atas 5%.
Di sisi lain, suku bunga tinggi mengundang kritik dari sektor riil. Pelaku usaha kecil dan menengah mengeluhkan akses kredit yang semakin mahal. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan perbankan sempat menyentuh 2,7% pada kuartal pertama 2025, naik dari 2,3% setahun sebelumnya, menandakan tekanan pada kualitas aset perbankan. Pertumbuhan kredit pun melambat ke 8,1% year-on-year, di bawah target BI sebesar 10-12%.
"Kebijakan moneter ketat memang berhasil meredam imported inflation, tetapi ongkosnya terasa di sektor produktif. Pertumbuhan ekonomi tertahan di kisaran 5%, padahal potensi kita bisa lebih tinggi," ujar seorang ekonom senior dari lembaga riset independen.
Destry Damayanti: Profil dan Ekspektasi Pasar
Destry Damayanti bukan nama baru di lingkaran Bank Indonesia. Sebagai Deputi Gubernur Senior yang membidangi sistem pembayaran dan kebijakan makroprudensial, ia telah terlibat dalam penyusunan berbagai regulasi penting. Sebelum bergabung dengan BI, ia memiliki pengalaman panjang di sektor keuangan, termasuk sebagai Kepala Ekonom Bank Mandiri. Dengan latar belakang akademis dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan gelar master dari Cornell University, Destry diharapkan membawa perpaduan antara wawasan akademik yang tajam dan pengalaman praktis di lantai bursa.
Pengangkatan Destry menandai momen bersejarah, sekaligus menjadi ujian besar. Di tengah spekulasi penurunan suku bunga acuan oleh The Fed pada paruh kedua 2025, Destry harus memutuskan apakah BI akan mengikuti jejak tersebut atau memilih sikap wait and see. Tekanan dari dunia usaha agar suku bunga acuan BI diturunkan semakin keras, namun langkah terburu-buru berisiko memicu capital outflow yang dapat melemahkan rupiah secara signifikan.
Proyeksi Arah Kebijakan: Dua Skenario
Proyeksi analitis menunjukkan dua skenario besar yang membentang di hadapan Destry. Pro: jika ia melanjutkan kebijakan ketat ala Perry, stabilitas nilai tukar rupiah berpotensi terjaga di kisaran Rp15.500 hingga Rp15.800 per dolar AS. Inflasi inti juga bisa ditahan di bawah 3% year-on-year. Kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia pun cenderung stabil, tercermin dari porsi kepemilikan asing di Surat Berharga Negara yang bertahan di level 14-15% dari total outstanding.
Kontra: kebijakan suku bunga tinggi yang bertahan terlalu lama dapat memperlambat laju pertumbuhan ekonomi lebih dalam. Proyeksi pertumbuhan kredit berpotensi turun ke 7% year-on-year, yang akan berimbas langsung pada investasi dan konsumsi rumah tangga. Sektor perumahan, otomotif, dan manufaktur padat modal akan menjadi pihak yang paling terdampak dari mahalnya biaya pinjaman. Valuasi pasar saham juga berisiko mengalami koreksi jika ekspektasi pelonggaran tidak terwujud.
"Destry memahami betul dilema antara stabilitas dan pertumbuhan. Pasar menantikan sinyal pertama darinya, terutama dalam Rapat Dewan Gubernur bulan depan," kata analis perbankan dari Jakarta.
Respons Pasar dan Harapan Pelaku Usaha
Pasar keuangan merespons dengan volatilitas moderat pasca pengumuman. Indeks Harga Saham Gabungan bergerak di kisaran 6.900 hingga 7.050, mencerminkan kehati-hatian investor terhadap masa transisi. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik tipis ke 6,85% dari 6,72%, pertanda adanya premi ketidakpastian yang dimasukkan ke dalam harga surat utang. Likuiditas perbankan masih terbilang longgar dengan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga di level 26,4%, memberikan ruang bagi perbankan untuk ekspansi kredit begitu suku bunga menunjukkan tren penurunan.
Dunia usaha berharap kepemimpinan baru membawa sinyal pelonggaran moneter yang terukur. Pengusaha sektor manufaktur menyuarakan aspirasi agar BI Rate turun minimal 50 basis poin dalam enam bulan ke depan untuk memulihkan gairah investasi. Apakah Destry akan mengabulkan harapan itu atau justru memilih konsolidasi terlebih dahulu? Jawabannya akan menentukan arah fundamental ekonomi Indonesia dalam dua tahun ke depan, sekaligus menjadi ujian pertama bagi Gubernur baru Bank Indonesia.
Comments (0)