El Nino dan Tekanan Harga Pangan: Kewaspadaan BI di Tengah Inflasi

Berdasarkan perkembangan terbaru dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia per Agustus 2026, otoritas moneter mengingatkan bahwa fenomena iklim El Nino berpotensi mengalami pemburukan dalam beberapa b...

Aug 21, 2026 - 04:56
0 0
El Nino dan Tekanan Harga Pangan: Kewaspadaan BI di Tengah Inflasi

Berdasarkan perkembangan terbaru dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia per Agustus 2026, otoritas moneter mengingatkan bahwa fenomena iklim El Nino berpotensi mengalami pemburukan dalam beberapa bulan mendatang. Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar: catatan Badan Pusat Statistik (BPS) pada episode El Nino kuat tahun 2015 menunjukkan inflasi kelompok pangan bergejolak sempat melonjak mendekati dua digit secara year-on-year, dengan harga beras naik hingga belasan persen pada puncak musim kemarau. Sinyal serupa kini mulai tampak pada cabai merah dan bawang merah, dua komoditas yang paling sensitif terhadap gangguan pasokan ketika sentra produksi mengalami kekeringan berkepanjangan.

Sebagai ilustrasi sederhana, El Nino adalah kondisi memanasnya suhu permukaan laut di Pasifik bagian tengah dan timur yang mengubah pola pergerakan angin muson. Akibatnya, musim kemarau di Indonesia berlangsung lebih panjang dan curah hujan jauh di bawah normal. Ketika panen tertunda dan volume produksi menyusut, pasokan ke pasar menciut, harga di tingkat konsumen merangkak naik, dan tekanan tersebut pada akhirnya mengalir ke indeks harga konsumen (IHK) yang menjadi barometer inflasi nasional.

Proyeksi Cuaca dan Kerentanan Sentra Produksi

Sejumlah lembaga pemantau iklim memperkirakan intensitas El Nino mencapai puncaknya pada kuartal keempat tahun ini, tepat bertepatan dengan masa tanam dan panen padi gadu di sejumlah wilayah. Beberapa sentra produksi utama di Pulau Jawa dan Sumatra berisiko mengalami defisit air yang memangkas produktivitas. Dalam kondisi normal, cabai merah dan bawang merah memang memiliki tren harga yang fluktuatif karena sifatnya yang mudah rusak dan biaya logistik yang tinggi. Ketika kekeringan memaksa petani menunda penanaman, pasokan dua komoditas tersebut bisa menyusut tajam dalam waktu bersamaan, sehingga lonjakan harganya kerap lebih cepat dan lebih dalam dibandingkan komoditas lain.

Dari sisi fundamental, tekanan pasokan ini berpotensi mendorong inflasi pangan bergejolak kembali ke zona tinggi pada akhir tahun. Namun, besaran dampaknya sangat bergantung pada durasi kemarau dan respons kebijakan yang diambil pemerintah daerah maupun pusat.

Dua Sisi: Dampak terhadap Harga dan Ketahanan Pasokan

Di satu sisi, skenario terburuk layak diwaspadai. Pengalaman 2015 menunjukkan bahwa ketika El Nino berlangsung kuat, produksi padi nasional turun dan harga beras mengalami kenaikan signifikan, yang kemudian mendorong rasio inflasi inti ikut tertekan lewat jalur ekspektasi. Pedagang cenderung menahan stok ketika kabar kekeringan menguat, memperparah kelangkaan di pasar tradisional. Kombinasi antara penurunan pasokan dan perilaku spekulatif itulah yang membuat lonjakan harga pangan kerap berlangsung lebih lama dari perkiraan awal.

“Risiko terbesar kali ini bukan sekadar pada skala gagal panen, melainkan pada ekspektasi pedagang dan distribusi antarwilayah. Jika pengiriman dari daerah surplus ke daerah defisit terhambat, harga bisa bergerak naik meski produksi nasional sebenarnya masih cukup,” kata seorang ekonom senior yang akrab dengan kebijakan moneter.

Di sisi lain, struktur pertahanan Indonesia jauh lebih baik dibandingkan satu dekade lalu. Pada episode El Nino 2023 yang juga tergolong kuat, inflasi umum justru berhasil dikendalikan pada kisaran 2,6 persen secara year-on-year berkat koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP-TPID), operasi pasar murah, serta percepatan impor dan penyaluran cadangan beras pemerintah melalui Bulog. Kewaspadaan BI kali ini dapat dibaca sebagai sinyal agar instrumen-instrumen itu diaktifkan lebih awal, bukan sebagai indikasi bahwa tekanan harga sudah tidak terkendali.

Sikap Bank Indonesia dan Ruang Kebijakan Moneter

Bagi Bank Indonesia, pangan adalah variabel yang tidak boleh dianggap remeh karena menyumbang porsi terbesar dalam keranjang IHK. Dengan sasaran inflasi 2,5 persen plus minus satu persen untuk tahun 2026, ruang pelonggaran kebijakan moneter akan tetap sempit selama risiko pangan belum mereda. Bank sentral umumnya menahan diri menurunkan suku bunga ketika lonjakan harga pangan berisiko menjalar ke inflasi inti lewat kenaikan upah dan ekspektasi harga. Di saat bersamaan, sentimen pasar global yang bergejolak juga membuat otoritas moneter berhati-hati, karena pelonggaran yang terlalu cepat berisiko memicu capital outflow dan menekan nilai tukar rupiah.

Likuiditas domestik sebenarnya masih cukup longgar untuk menopang pertumbuhan, namun keputusan suku bunga tidak bisa dilepaskan dari dinamika eksternal. Bagi pelaku pasar, kombinasi tekanan pangan yang tinggi dan suku bunga yang bertahan lama akan memengaruhi alokasi portofolio serta penilaian valuasi aset berisiko di dalam negeri. Karena itu, keseimbangan antara menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan menjadi ujian utama bagi BI pada sisa tahun ini.

Proyeksi: Puncak Tekanan pada Kuartal Keempat

Dengan asumsi kemarau berlangsung normal hingga akhir tahun, tekanan harga pangan diperkirakan mencapai puncaknya pada kuartal keempat 2026 dan tren penurunannya baru terlihat setelah panen raya awal tahun berikutnya. Proyeksi itu tetap menggantung pada dua syarat: disiplin penyaluran stok oleh Bulog dan ketepatan waktu intervensi di daerah. Jika kedua syarat terpenuhi, inflasi umum masih berpeluang bertahan di dalam koridor sasaran, dan tekanan pada kelompok pangan bergejolak hanya bersifat sementara. Namun jika koordinasi terlambat, episode kenaikan harga beras, cabai, dan bawang merah yang sekarang sedang dipantau ketat oleh Dewan Gubernur BI bisa menjadi pengingat bahwa perubahan iklim telah menjadi risiko struktural bagi ekonomi Indonesia, bukan sekadar gangguan musiman.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User